Jumat, Oktober 14, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Kutukan Syeh Setelah Dipancung ::


Kepulan debu sisa angin masih lekat di pelataran kompleks Goa Yung Yang, di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban (Jatim). Malam pun belum memasuki dinihari, ketika lelaki sepuh menyalakan bediang di depan mulut goa.

Wajahnya teduh. Bibirnya menyungging senyum. Walau tipis. Pria yang raga sedangnya dibalut baju tanpa kerah hitam itu terlihat terampil memilih ranting yang luruh dari pepohonan sekitar kompleks goa. Api pun mulai membara. Mengusir gigil malam yang mulai menerjang bersama angin utara.

Sepasang Kalong berputar di atas langit. Mengitari Goa Yung Yang yang masuk dalam area kompleks sumber air Goa Srunggo. Yang satu terlihat terengah. Terbangnya tak nyaman. Buah sawo yang tercengkeram di kakinya terlepas, lalu jatuh di sisi kanan tempat lelaki tua bersila.


Tak lama kemudian lelawa besar itu hinggap di salah satu pohon Mangga di sekitar goa. Kesunyian kembali terusik ketika burung malam ungkrap  seiring berayunnya sepasang kalong di antara rerimbunan daun mangga. 

Tangan lelaki itu belum sempat mengais  sawo yang terjatuh, ketika sepasang pria paruh baya memasuki kompleks goa. Mereka tampak tergesa. Seorang yang bertubuh kerempeng berjalan di depan sambil menyalakan lampu senter. Diikuti pria lain yang berpostur tambun.

“Saya hanya mengingatkan, jangan diteruskan niat Kisanak, jika masih ingin tetap menjadi pejabat di Tuban,” sapa lelaki tua sambil berdiri menyambut dua tamunya. Ujung kain udheng batik hitamnya tampak bergoyang pelan diterpa angin malam.

“Kenapa Ki? Bukankah niat saya ziarah ke makam Syeh Gentaru adalah baik?” jawab sang pria berbadan subur yang belakangan diketahui menduduki salah satu eselon di Pemkab  Tuban.

“Jangan memaksakan diri, sudah banyak pejabat yang jadi korban. Saya hanya mengingatkan, jika tak percaya silahkan saja berziarah.” 

Kedua lelaki itu saling pandang. Mereka bisik-bisik, agak menjauh dari perapian lelaki yang belum diketahui asal usulnya itu. Entah apa yang mereka omongkan. Yang pasti mereka terlihat dalam pembicaraan serius.

“Saya sudah mengingatkan, Bapak saja yang masih saja nekad,” ujar pria yang di tangan kanannya tergantung tas plastik berisi kembang. Rupanya niat mereka berziarah di makam Syeh Gentaru sudah mereka persiapkan dengan matang.

“Ya sudah kalau gitu, ayo kita balik saja,” sergah sang lelaki tambun.

Mereka pun berbalik bermaksud menemui pria berkain sarung yang dipadu baju tanpa kerah warna hitam itu. Namun, hanya bediang yang masih menyisakan bara yang mereka temui. Tak jelas kemana perginya lelaki tua, yang oleh warga Desa Tuwiri Wetan disebut sebagai abdi kinasih dari Syeh Gentaru, tersebut.

“Sudah Ji, sudah. Ayo kita tinggalkan tempat ini,” tegas sang pejabat sambil menggelendeng supirnya tersebut. Mereka pun berlalu meninggalkan kompleks goa, sambil membawa misteri keberadaan lelaki pengabdi pada syeh asal Hadramaut  (Yaman) tersebut.

                                                                            ****

Peristiwa sarat mistis tersbeut, bukan hal yang asing bagi warga Dusun Kedungsari, Tuwiri Wetan. Makam Syeh Gentaru mereka yakini masih menyimpan sejuta kabar sarat irasional. Namun demikian, tetap menjadi tempat para lelaki yang gemar olah kanuragan untuk menziarahinya. Bahkan mencoba ngalap berkah dari kedigdayaan sang syeh bernama asli Syeh Rifa’i.

Dalam kisah dari mulut ke mulut warga setempat, konon bersumber pada selembar daun rontal yang telah raib dimangsa jaman, disebutkan, Syeh Rifa’i  adalah ulama kondang di jaman Islam mulai masuk ke tanah Jawa dibawa para wali. Nama Syeh Rifa’i  sendiri memang tak setenar nama-nama para wali yang banyak tersebar di Tuban. Seperti Sunan Bonang, Asmorokondi, Sunan Kalijogo, Sunan Bejagung maupun Sunan Geseng.

Akan tetapi keberadaan syiar Islam yang dilakukannya telah diketahui warga. Bahkan, syeh ini pula dalam syiarnya acap memasuki daerah yang dikenal sebagai kawasan merah. Kawasan yang dihuni para gembong rampok dan begal.

Karena ilmu kanuragan yang dimilikinya pula, syeh ini dikenal sebagai tokoh penakluk. Apalagi konon, Syeh Rifa’i memiliki ilmu Rawa Rontek, yang bisa hidup kembali setelah jasadnya menyentuh tanah. Bahkan jika kepala dipenggal akan menyatu kembali jika tak dimakamkan secara terpisah.

Bisa jadi tak sedikit peziarah yang mencoba mencecap ilmunya melalui ritual tertentu di dekat kompleks makamnya. Meski untuk hal ini belum ada bukti nyata, namun dari mulut ke mulut telah tersebar kabar jika beberapa orang telah berhasil mewarisi ilmu tersebut,  setelah melakukan ritual di makam Syeh Rifa’i.

Namun yang pasti, tak sedikit orang melakukan ziarah dan berdoa di makam Syeh Rifa’i. Meski sekadar mendoakan sebagai wujud rasa syukur, atas sebaran ajaran kebaikan secara Islam yang disebarkannya semasa syeh yang selalu berpindah-pindah tempat semasa hidup itu. 

Setelah pengikutnya banyak dan mulai tersebar, syeh kelahiran jazirah Arab ini akhirnya memutuskan uslah (laku menyendiri) di Goa Yung Yang. Meski telah bertahun-tahun berkontemplasi dengan Sang Khaliq di dalam goa, namun ajaran dan syiarnya diteruskan para pengikutnya.
Terkisah pula, kala itu Tuban dipimpin Bupati Wilwatikta. Bupati yang juga orangtua R Said, belakangan setelah berguru pada Sunan Bonang bernama Sunan Kalijaga ini, termasuk penguasa yang gigih mempertahankan kekuasaannya. Tokoh ini pula yang dikenal sebagai bupati yang tegas.

Kompleks Goa Srunggo memang acap didatangi Bupati Wilwatikta, selepas berburu hewan buas di hutan jati wilayah setempat.  Tak jarang pula ia mengajak istrinya dalam perburuan tersebut. Namun, sang istri selalu mendirikan kemah menunggu suami berburu di sekitar Goa Srunggo. Apalagi Srunggo merupakan goa yang mengeluarkan air bersih yang mengalir kesana kemari. Rindangnya pepohonan menjadikan lokasi ini pilihan penguasa Kabupaten Tuban untuk berwisata.

“Dari dulu Srunggo merupakan tempat yang banyak disinggahi orang untuk berpelesir,” kata Subakir, tokoh masyarakat Desa Tuwiri Wetan.

Di samping Goa Srunggo terdapat goa lain. Yakni Goa Yung Yang. Tempat Syeh Rifa’i bersemedi. Ia berniat mengakhiri hidupnya di goa tersebut sambil melakukan kontemplasi dengan Sang Khaliq. Karena kelebihan yang dimilikinya ia mampu bertahan hingga bertahun-tahun di dalam goa. Hanya sesekali ia ke luar untuk menemui para pengikutnya.

Menurut keterangan warga setempat, dinding Goa Yung Yang dulu selalu muncul penampakan Syeh Rifa’i. Warga meyakini itu terjadi karena karomah dan kesaktian sang syeh.

Istri Wilwatikta sempat menengok dalam goa Yung Yang. Hingga mengerahui di dinding ada penampakan pria ganteng yang santun tersebut. Bahkan, perempuan nomor satu di jajaran Kabupaten Tuban itu meminta suaminya agar sering berburu. Dengan cara itu ia bisa sering bertemu dengan Syeh Rifa’i, sekalipun sekadar melihat wajahnya di dinding goa.

Wilwatikta pun akhirnya mencium keanehan dari permaisurinya. Ia pun memerintahkan aparatnya untuk menelisik dan menyusuri lorong Goa Yung Yang. Disitulah ditemukan Syeh Rifa’i yang masih terlihat sebagai lelaki muda dan gagah. Sosok yang sering hadir dalam mimpi dan igauan istrinya.

Syeh Rifa’i pun akhirnya diseret ke luar goa. Ia diadili oleh Wilwatikta dengan tudingan telah membuat istrinya terpikat. Di tengah amuk api cemburu, Wilwatikta pun menjatuhkan hukuman pancung pada Syeh Rifa’i.  Sekalipun sang syeh tetap ngotot tidak pernah sengaja menggoda istri penguasa Bumi Ranggalawe tersebut.

Akhirnya Syeh Rifa’i mengajukan syarat untuk membuktikan ketidakbersalahnya. Jika setelah dipancung darah yang ke luar dari tubuhnya berwarna merah, berarti dia memang bersalah. Akan tetapi jika yang ke luar darah putih berarti dirinya tidak bersalah. Syarat itu disetujui oleh Wilwatikta.

Hukuman pancung pun dilakukan. Setelah kepalanya terpenggal yang keluar adalah darah putih. Cairan darah putih tersebut juga memunculkan aroma harum bunga.

Selain itu setelah raganya menyentuh tanah, kepalanya kembali menyatu dengan badan, sang jasad pun kembali hidup. Beberapa kali hal itu terjadi, hingga akhirnya setelah kepalanya terpisah dimakamkan berjauhan, meski masih dalam kompleks sumber air Goa Srunggo.

Wilwatikta menyesali keputusannya. Dalam rasa sesal mendalam, penguasa Tuban itu meminta jasad Syeh Rifa’i dimakamkan secara baik. Bukan sebagai pesakitan yang telah melakukan tindak pidana. Sesuai pesan yang disampaikan para pengikutnya, badan Syeh Rifa’i pun akhirnya dimakamkan di wilayah Sidomukti, kini masuk wilayah Kecamatan Kota, Tuban. Sedangkan kepalanya dimakamkan di kompleks Goa Srunggo.

Pusara kepala itu yang hingga kini masih banyak didatangi peziarah. Tak sedikit dari mereka mencoba ngalap berkah dan ilmu kanuragan yang dimiliki syeh tersebut.

Usai pemakaman Wilwatikta mengajak para prajuritnya kembali ke Pendapa Kabupaten Tuban, kini situsnya berada di Desa Prunggahan Wetan, Kecamatan Semanding-Tuban. Namun sebelum beranjak terdengar suara tanpa rupa. Yang menyebut; “Siapapun pejabat di Tuban akan lengser jika menginjakkan kakinya di Goa Srunggo.”

“Sejak saat itu, nama Syeh Rifa’i telah tiada, oleh pengikutnya namanya diganti Syeh Gentaru, yang diambil dari darah putih dari badan beliau yang berbau harum,” kata sejumlah warga Tuwiri Wetan.

Kutukan itu hingga kini masih lekat. Tak sedikit pejabat yang mencoba mengunjungi Goa Srunggo copot oleh berbagai sebab. Saking keramatnya warga sekitar selalu mengingatkan kepada setiap pejabat yang akan mengunjungi kompleks sumber air yang menghidupi warga Kecamatan Merakurak, sebagian Tuban dan Kecamatan Jenu tersebut.

Terlepas dari wacana sarat religi mistis itu, yang pasti Goa Srunggo, hingga kini masih menjadi penobang kebutuhan air warga setempat. Bahkan irigasi teknis persawahan di Merakurak dan Jenu banyak mengandalkan mata air Srunggo.

Jika masih meragukannya, silahkan dibuktikan. (rakai pamanahan)

0 komentar:

Posting Komentar