Oleh : Teguh Budi Utomo
Lelaki gagah berperforma tegap itu sesenggukan. Tak sekalipun kepalanya tegak. Tumpah segala beban yang menggelayut raganya. Terurai segala suntuk yang mengeram di dinding batinnya. Tak berdaya di hadapan Kiai Kasdikin. Raekan menumpahkan segala kemelut yang telah menggerus jiwanya, setelah kejadian perampokan di salah satu bank di Jakarta yang melibatkan dirinya sebulan sebelumnya.
Dalam kurun itu pula dia tak bisa tidur nyenyak. Peristiwa tergeletaknya seorang korban terkena peluru dari senjata di tangannya selalu terasa lekat di pelupuk matanya. Masih terngiang suara perempuan kasir bank itu mengaduh. Memegangi lubang di dadanya yang terkoyak peluru. Darah segar mulai menyimbah badannya yang hanya bergerak-gerak pelan. Dan sejak tragedi itu pula Raekan berpindah-pindah tempat. Menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Seorang dari tiga kawannya telah ditangkap.
