Tampilkan postingan dengan label CerpenQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerpenQ. Tampilkan semua postingan
Senin, Juli 30, 2012 | By: Rakai Pamanahan

Bunga Genjer di Surban Kiai


Oleh : Teguh Budi Utomo

Lelaki gagah berperforma tegap itu sesenggukan. Tak sekalipun kepalanya tegak. Tumpah segala beban yang menggelayut raganya. Terurai segala suntuk yang mengeram di dinding batinnya. Tak berdaya di hadapan Kiai Kasdikin. Raekan menumpahkan segala kemelut yang telah menggerus jiwanya, setelah kejadian perampokan di salah satu bank di Jakarta yang melibatkan dirinya sebulan sebelumnya.

Dalam kurun itu pula dia tak bisa tidur nyenyak. Peristiwa tergeletaknya seorang korban terkena peluru dari senjata di tangannya selalu terasa lekat di pelupuk matanya. Masih terngiang suara perempuan kasir bank itu mengaduh. Memegangi lubang di dadanya yang terkoyak peluru. Darah segar mulai menyimbah badannya yang hanya bergerak-gerak pelan. Dan sejak tragedi itu pula Raekan berpindah-pindah tempat. Menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Seorang dari tiga kawannya telah ditangkap.
Rabu, Juli 13, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Yuliati ::

Oleh : Rakai Pamanahan

Sudah lebih tiga jam perempuan muda itu terlihat gelisah. Sendiri duduk di bangku panjang. Sesekali matanya menatap ke depan mengamati penumpang yang ke luar dari pintu kedatangan di Bandara Internasional Chek Lap Kok, Hongkong. Jaket krem tebal membalut tubuhnya untuk mengusir dingin sisa gerimis awal pagi.

Tabloit edisi terbaru berbahasa Indonesia terbitan negara bekas koloni Inggris itu, telah rampung dia simak. Sesekali dia keluarkan telepon seluler dari kantong celana jean-nya yang belel. Serangkaian kontak melalui Black Berry yang dia lakukan terhadap nomor telepon tertentu tak membuahkan hasil.

“Harusnya tak sampai pukul 14.00, dia  sudah mendarat,” gumam perempuan berpostur sedang itu, sembari melirik jam tangan bermerk yang melilit lengan kirinya.

Entah untuk kali keberapa ia berdiri dan kemudian duduk lagi. Sesekali kakinya melangkah mengitari tempat duduk di ruang tunggu. Sekadar melepas rasa penat yang merajam pikirannya. Perempuan berkulit bersih itu kembali duduk di dekat tas punggung  yang tergolek di bangku.