Sabtu, November 19, 2011 | By: Rakai Pamanahan

Kayu Rencek






Kayu Rencek : Sekalipun elpiji telah begitu membumi, namun penggunaan kayu bakar untuk memasak masih dilakukan sebagian warga Tuban, Jatim.










Entah karena takut tabung elpiji meledak atau karena dengan kayu bakar lebih hemat. Yang pasti hampir tiap hari masih bisa ditemui serombongan warga tepian hutan jati di daerah ini, mengayuh sepeda angin mengusung kayu rencek. Mereka menjajakan kayu rencek dari pintu ke pintu di kota Tuban. (rakai pamanahan)

Gendok Karang







Perajin Gendok : Kerajinan gedok masih bisa ditemui di Desa Karang, Kecamatan Semanding, Tuban (Jatim). Mereka bertahan untuk memenuhi kebutuhan wadah ikan tangkapan nelayan. (rakai pamanahan)
Jumat, November 18, 2011 | By: Rakai Pamanahan

Tragedi Paska Pilkada


Tragedi pembakaran oleh massa setelah Pilkada Tuban 2006. Foto kebakaran Pemdapa Kabupaten Tuban  ini adalah kenangan dari seorang kawan, Abdul Khohar, jurnalis muda yang membidik tragedi menggegerkan tersebut. Siapapun tahu ending dari tragedi itu. Mengecewakan mayoritas rakyat Tuban. (rakai pamanahan)

  
Senin, Oktober 24, 2011 | By: Rakai Pamanahan

Razia Satpol PP di sungai Bengawan Solo


Razia Pasir : Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tuban, melakukan razia penambang pasir liar di sungai Bengawan Solo di Desa Prambon Wetan, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban-Jatim. (rakai pamanahan)
Jumat, Oktober 21, 2011 | By: Rakai Pamanahan

Diklat Jurnalis


Konon menggeluti profesi Jurnalis tak sekadar menulis berita. Lebih dari itu dituntut rela berbagi keterampilan kepada para pemula. Disitulah akan ditemukan nilai kearifan sebagai dari profesi sarat tanggung jawab tersebut. (Diklat Jurnalis RPS Tuban 2010)
Jumat, Oktober 14, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Kutukan Syeh Setelah Dipancung ::


Kepulan debu sisa angin masih lekat di pelataran kompleks Goa Yung Yang, di Desa Tuwiri Wetan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban (Jatim). Malam pun belum memasuki dinihari, ketika lelaki sepuh menyalakan bediang di depan mulut goa.

Wajahnya teduh. Bibirnya menyungging senyum. Walau tipis. Pria yang raga sedangnya dibalut baju tanpa kerah hitam itu terlihat terampil memilih ranting yang luruh dari pepohonan sekitar kompleks goa. Api pun mulai membara. Mengusir gigil malam yang mulai menerjang bersama angin utara.

Sepasang Kalong berputar di atas langit. Mengitari Goa Yung Yang yang masuk dalam area kompleks sumber air Goa Srunggo. Yang satu terlihat terengah. Terbangnya tak nyaman. Buah sawo yang tercengkeram di kakinya terlepas, lalu jatuh di sisi kanan tempat lelaki tua bersila.

Senin, September 19, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Antologi Kemanusiaan ::

Buku ini berisi karya puisi untuk mengenang tragedi meletusnya Gunung Merapi dan Tsunami di Mentawai. Beragam kisah terangkum dalam sajak. Ada tangis, ada canda, dan ada pula emosi jiwa yang terpendam di sana. (rakai pamanahan)
Minggu, September 18, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Hujan Melukis Lautan ::


Oleh: rakai pamanahan

Antologi Cerpen "Hujan Melukis Lautan"

Penulis: Komunitas Delta Sastra
Judul: Hujan Melukis Lautan
Halaman: 274
ISBN: 978-602-99615-3-9
Harga: 50.000 (belum termasuk ongkir)

Nama-Nama Penulis:
- Kwek Li Na (A Ling) - Filiya Putri Al-Fath - Hawa El Pandani - Iis Istrini - Pena Armansyah - Sri Wahyuni - Sukmawati Ryo - Teguh Budi Utomo
Rabu, September 14, 2011 | By: Rakai Pamanahan

“Saya Ingin Mati di Panggung Kentrung”


oleh : rakai pamanahan

Kentrung Bate seni tradisi asal Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, tak bisa terlepas dari Mbah Surati (90). Dalang kentrung tuwa dan tuna netra ini, mengentrung karena naluri dan berkah yang diberikan Tuhan.

Sehari-hari Mbah Surati berprofesi sebagai petani ladang kering di tepian hutan jati KPH Perhutani Jatirogo. Ia menggeluti kentrung sejak usia 9 tahun. Kala itu ia nyantrik kentrung pada Mbah Sukilah. Mbah Sukilah sebelumnya nyantrik kepada Ki Sumo Wage, asal Desa Bate. Ki Sumo Wage sendiri belajar ngentrung dari Kiai Basiman, cikal bakal kentrung Bate, di zaman penjajah Belanda.

 Seorang petani di Desa Tasikmadu, Kecamatan Palang, Kabupaten Tuban, Jatim-Indonesia memanfaatkan teknologi untuk menggarap sawahnya. (15 September 2011)  
Selasa, September 13, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Uyon-uyon Tuban Diambang Ajal ::

oleh: rakai pamanahan

Satu demi satu, seni tradisi di wilayah Kabupaten  Tuban  menjelang ajal. Kentrung, Sandhur dan sederet seni tradisi lain sudah mulai berguguran. Kini giliran Uyon-uyon yang sudah ancang-ancang terkubur, akibat jarangnya hasrat perempuan muda menjadi Sindhen.

Uyon-uyon yang dulu menjadi bagian pesta menyambut tamu resepsi pun sudah jarang terdengar. Mereka kalah dengan pentas organ tunggal dengan sederet biduanita seronok. Tak lupa dengan bekal joget yang menyerempet nilai sahwati. Tanpa harus berbekal keahlian tersendiri dalam olah vokal laiknya biduanita kondang dan ternama.

Rabu, Juli 13, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Yuliati ::

Oleh : Rakai Pamanahan

Sudah lebih tiga jam perempuan muda itu terlihat gelisah. Sendiri duduk di bangku panjang. Sesekali matanya menatap ke depan mengamati penumpang yang ke luar dari pintu kedatangan di Bandara Internasional Chek Lap Kok, Hongkong. Jaket krem tebal membalut tubuhnya untuk mengusir dingin sisa gerimis awal pagi.

Tabloit edisi terbaru berbahasa Indonesia terbitan negara bekas koloni Inggris itu, telah rampung dia simak. Sesekali dia keluarkan telepon seluler dari kantong celana jean-nya yang belel. Serangkaian kontak melalui Black Berry yang dia lakukan terhadap nomor telepon tertentu tak membuahkan hasil.

“Harusnya tak sampai pukul 14.00, dia  sudah mendarat,” gumam perempuan berpostur sedang itu, sembari melirik jam tangan bermerk yang melilit lengan kirinya.

Entah untuk kali keberapa ia berdiri dan kemudian duduk lagi. Sesekali kakinya melangkah mengitari tempat duduk di ruang tunggu. Sekadar melepas rasa penat yang merajam pikirannya. Perempuan berkulit bersih itu kembali duduk di dekat tas punggung  yang tergolek di bangku.

Minggu, Juli 10, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Pesan Dalam Sepincuk Nasi Bungkus ::

Oleh : Rakai Pamanahan

Semua bermula dari rasa lapar. Nasi bungkus pun mengirim kabar tentang haru biru emosi jiwa.


Dalam pranata sosial apapun kebutuhan baku dari orang hidup adalah makan. Bermula dari logistik itulah logika kehidupan berjalan. Warna perjalanan hidup pun selalu kental diwarnai asupan logistik.

Kepentingan perut itu pula yang menjadikan warna kehidupan demikian majemuk. Di sana juga tak pernah mengenal gengsi, karena di dalamnya memang tak harus ada gengsi. Tak ada pula hegemoni dalam ranah pemenuhan kebutuhan pokok, selain rasa lapar yang setiap saat menunggu segera dituntaskan.

Rasa lapar tak ada sangkut paut dengan status sosial. Pula tak berkorelasi dengan tingkat ekonomi maupun kultural. Termasuk juga tak ada hubungannya dengan jabatan politik, ekonomi maupun pendidikan. Yang ada hanya sebentuk kebutuhan untuk segera dipenuhi.
Minggu, Mei 01, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Orasi Budaya ::

Kebebasan Pers di Tengah Perilaku Basa Basi

Oleh : Teguh Budi Utomo *)


Nilai Kebebasan : 

Prinsip paling hakiki dari pers adalah berpihak kepada rakyat. Pers muncul ke permukaan sebagai perwujudan dari suara rakyat. Oleh karena itu ruh pers adalah kebenaran. Kebenaran tentang kondisi riil yang menyelimuti nurani masyarakat.

Kebenaran yang bernafas kerakyatan itu pula yang musti dipikul insan pers. Untuk selanjutnya melalui medianya disampaikan kepada pemegang kebijakan, karena tak semua aspirasi yang berkembang di masyarakat bisa ditangkup dalam sebentuk kebijakan pemerintah. 
Sabtu, April 09, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Menuang Gelisah dan Kemarahan Tak Berdaya ::


By : Rakai Pamanahan

Keterpurukan hidup karena carut marut sistem tak harus disesali. Kemarahan pun memuncak pada lapak teatrikal.

Tak bisa dipungkiri, realita kemasyarakatan di tanahair tengah dirundung duka. Nestapa kehidupan karena dampak perilaku pemimpin yang tak laik dicontoh, menjadikan keterpurukan tak terperi.