Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Senin, Mei 06, 2013 | By: Rakai Pamanahan

:: Menggali Lubang Kubur Sendiri ::



by: Rakai Pamanahan


Sedumuk bathuk senyari bumi, tohi pati.

BISA jadi ungkapan orang Jawa ini sarat filosofi terkait keberadaan tanah. Tanah bagi sebagian besar orang Jawa adalah pusaka. Disebut pusaka karena disana ada keyakinan, jika sebidang tanah merupakan warisan leluhur yang patut dipertahankan. Jika perlu dipertahankan sampai mati.

Fenomena pusaka tersebut kian menghegemoni masyarakat Jawa dari pranata sosial apapun. Penyebutan pusaka atas tanah tersebut karena di dalamnya, baik secara harafiah maupun historiah, tanah diperoleh oleh leluhurnya dengan cara tak mudah. Disana tersirat muatan religi, pula terdapat unsur kultural, bahkan magis, sehingga tanah bisa ditempati turun temurun.

Minggu, Februari 10, 2013 | By: Rakai Pamanahan

Kisah Amerika Kuasai Papua



Indonesia merdeka dari cengkraman penjajah Belanda pada 17 Agustus 1945. Namun, baru akhir tahun 1949, Kerajaan Belanda rela menyerahkan semua bekas jajahannya ke Indonesia, kecuali wilayah Papua Barat. Atas peran Amerika Serikat dengan Perjanjian New York, akhirnya pada tahun 1962, Belanda menyerahkan Papua Barat ke Indonesia. Buntutnya, tahun 1967, Pemerintah Indonesia memberikan kontrak penambangan tembaga dan emas di Papua, selama 30 tahun. Amerika benar, karena hampir tidak ada satu pun jenis kekayaan alam yang tidak ada di perut bumi Papua.

Masih menurut sejarah, bicara kandungan sumber daya mineral dan energi di perut bumi Papua, sudah dikenal luas sebelum perang dunia kedua. Saat itu, tentu saja minyak bumi adalah komoditas yang paling diburu untuk dieksploitasi.

Alkisah, pada tahun 1936, dalam ekspedisi pencarian minyak bumi, seorang geologist Belanda bernama J.J. Dozy, menemukan sebuah bukti yang kaya akan unsur tembaga. Sampel dari pegunungan itu pun dibawanya untuk diteliti di Universitas Leiden Belanda.

Hasilnya? Alamak, luar biasa menakjubkan. Di situ ditemukan kandungan tembaga sebanyak 13 juta ton di atas permukaan tanah dan 14 juta ton di perut bumi. Tak berlebihan bila Dozy menamai gunung temuannya itu Erstberg alias gunung bijih.
Kamis, Juli 26, 2012 | By: Rakai Pamanahan

Menambang Karst, Mengubur Kehidupan

Oleh : Fitrisia Martisasi


Perlu waktu puluhan juta tahun untuk membentuk gugusan terumbu karang dan mencuatkannya ke permukaan Bumi sebagai pegunungan karst. Sebaliknya, bagi pabrik semen, hanya butuh puluhan tahun untuk menghancurkan dan mengubahnya menjadi mesin uang. 

Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mencanangkan kawasan eko-karst Gunung Sewu dan Gombong Selatan pada Desember 2004 seolah memberi harapan akan keberpihakan pemerintah pada kelestarian ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan. Nyatanya, di lapangan kawasan perbatuan kapur tetap lebih dipandang dari sisi nilai ekonominya ketimbang sebagai benteng penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat.