Rabu, November 19, 2014 | By: Rakai Pamanahan

Migas Bukan Pasar Malam



Oleh : Rakai Pamanahan


DI satu petang pekan kedua bulan November 2014, saya duduk di warung kopi di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Warungnya sederhana namun banyak disinggahi kawula muda setempat, dan warga lain yang melintas jalur Migas Banyuurip, Blok Cepu.

Sebagian dari mereka mengenali saya, karena beberapa kali bertemu di warung kopi di Desa Gayam, desa tetangga Bandungrejo. Musti dimafhum karena biasanya ada tiga perkara yang merekatkan kaum Adam. Yakni, secangkir kopi, sebatang rokok, dan pergunjingan tentang kaum Hawa. 

“Apa yang harus kami lakukan jika gas Jambaran ini dikerjakan?” bertanya seorang pemuda bertubuh kerempeng kepada saya. 
Selasa, November 04, 2014 | By: Rakai Pamanahan

Prokem Rengelan



oleh : Rakai Pamanahan


 “Woke bar ko Nejorogo yo?” tanya seorang anak muda berambut gondrong seraya mencecap kopi kepada karibnya.

“Yi’o.  Gek mau bar tengerno capar no murah kasit sebuk mboke mangar,” jawab yang ditanya sambil memarkir motor bebek di warung kopi, di sudut Desa Sawahan, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur akhir pekan lalu.

Saya menyimak dialog mereka. Semakin saya ikuti semakin terasa bahwa bahasa yang mereka gunakan tak biasa. Rupanya anak-anak Rengel ini menggunakan bahasa prokem.

Sebagian dari mereka mengaku kepada saya, bahwa bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Gaul. Bahasa khas dari wilayah Rengel. Itu klaim mereka.

“Kalau wong Rengel pasti tahu dan bisa menggunakan bahasa itu,” kata Mubayin (46), warga Desa Sawahan di warung sama.
Rabu, Oktober 22, 2014 | By: Rakai Pamanahan

Hipokrit

Oleh : Rakai Pamanahan


DALAM sebuah workshop kebudayaan di Yogjakarta minggu kedua Oktober 2014 lalu saya bertemu kawan lama. Meski terlahir di Kediri, Jawa Timur, Ucup, demikian saya biasa menyapa, Yusuf Abidin, namun cukup lama tinggal di Belanda.

Dia sengaja datang dalam perhelatan itu bersama istrinya yang berkewarganegaraan Netherland, Lieke Belinda.  Perbincangan kami mengalir. Dia berkisah tentang nyamannya hidup di negara yang selama 350 tahun menjadikan Nusantara sebagai koloninya.

“Ungkapan Anda pada 24 tahun lalu tidak terbukti, Meneer,” katanya sambil tersenyum. “Saya kerasan, dan nyaman-nyaman saja bersama anak istri disana,” pungkas lelaki yang rambutnya mulai rontok itu.

Ya saya masih ingat. Saat mengantarnya di Bandara Soekarno Hatta tahun 1990 sebelum kuliah di Universiteit Leiden saya berpesan kepadanya. “Setelah lulus jangan menetap di Belanda, hujan emas di negeri orang lebih enak hujan batu di negeri sendiri.”  

“Niet, Vader. My husband has always wanted to return his country,” kata Leike, saat si Ucup pamit ke kamar kecil.

Kejujuran Leike yang dinikahi Ucup 14 tahun silam membuat saya tersenyum. Ternyata dia tak jujur dalam berucap. Dia telah membohongi dirinya sendiri.
Selasa, Oktober 21, 2014 | By: Rakai Pamanahan

Tiga Budaya di Batik Tuban



Oleh : Rakai Pamanahan

BATIK bukan hal baru di tanah air. Hampir setiap daerah memiliki kerajinan berbahan selembar kain ini. Tak hanya di pulau Jawa, di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua pun ada kerajinan kental sentuhan lembut kaum hawa itu.

Jika dirunut kerajinan ini memiliki nilai histori. Nilai kultural, dan sosial yang menjadi legenda daerah mewarnai motif-motif batik. Motif yang tertuang di lembar kain itulah yang bisa menjadi ciri khas masing-masing daerah.

Demikian pula dengan batik Tuban. Sesungguhnya, kata Mbah Sukirah (65), pembatik dari Kerek, Kabupaten Tubab, Jawa Timur, batik Tuban yang khas berbahan kain Gedog. Kain jenis ini dihasilkan dari pemintal tradisional yang dulu ada di desa-desa di Bumi Ranggalawe.

Warga Tuban menyebut Gedok karena pemintal kain berbahan kapas ini selalu mengeluarkan bunyi dok, dok, dok. Sejak itulah kain dengan rajutan agak kasar itu disebut Gedok. Kain ini pula yang kemudian menjadi lahan menuangkan motif batik.
Kamis, Oktober 16, 2014 | By: Rakai Pamanahan

Kenapa Jurnalis Harus Verifikasi?

Oleh : Rakai Pamanahan 


Dalam sebuah workshop tentang kehumasan yang dihelat Bagian Humas dan Media, Pemkab Tuban, Jawa Timur, pada paruh September 2014, seorang peserta bertanya kepada saya, "Kenapa masih ada berita yang ditulis wartawan tidak disertai konfirmasi? Ada juga disebutkan, ketika dikonfirmasi tidak ada di tempat." 

Melalui rentetan kalimat yang ndarik-ndarik (panjang lebar-Red), sang peserta dari salah satu Satuan Kerja Pemerintah Daerah (SKPD) di pemerintah daerah Bumi Ranggalawe itu, memaparkan pengalamannya ketika menghadapi Jurnalis.  Akibat berita tanpa dilengkapi konfirmasi tersebut, institusi tempatnya bekerja dinilai negatif oleh publik. Termasuk seluruh staf di lembaganya merasa dipermalukan oleh berita--yang dia sebut--tak berimbang. 

Sebetulnya problema yang menimpa SKPD tersebut, sering pula dialami lembaga pemerintah maupun swasta lainnya. Bisa jadi hal tersebut akibat tidak terbukanya pimpinan lembaga pemerintah terhadap jurnalis. Itu bisa dimaklumi, karena tak sedikit realita di lapangan, jurnalis kesulitan mendapatkan konfirmasi ketika akan memverifikasi sebuah problema. 

Di lain sisi  tak jarang jurnalis dengan berbagai sebab, malas melakukan tugas utama dari profesinya. Yakni melakukan verifikasi data yang diterimanya kepada narasumber yang berkompeten. Padahal dalam konsep jurnalisme yang paling purba pun menyebut, bahwa konfirmasi, cek and ricek, atau ferivikasi bagai sebentuk kewajiban profesi. 

Kering


Oleh : Rakai Pamanahan

MUSIM kemarau dengan segala eksesnya sebenarnya tak membuat petani kaget. Jaman bersama beragam ceritanya telah mengajari mereka tentang rasa pasrah. Tentunya setelah pelbagai ritual upaya telah mereka lakukan.

Sebagian petani menilai rasa pasrah adalah bagian dari kodrat. Kodrat dari pilihan hidup menggeluti profesi paling purba di tanah air. Itu pun dilakukan dengan penuh totalitas. Tanpa mengeluh sekalipun matahari dengan teriknya, dan hujan dengan iringan banjirnya mendera sawah ladang mereka.

Ketika musim kemarau sebenarnya petani paham, dan tahu apa yang harus dilakukan. Mereka sangat mafhum akan amuk tahunan musim terik.

Dari membaca simbul–simbul alam petani tahu kalau sederet waduk, sumber air, telaga maupun embung yang dibangun pemerintah selalu mengering disaat kemarau. Mereka juga mengerti terhadap apa yang harus dilakukan, sekalipun kemarau meradang dengan durasi panjang.