Selasa, Agustus 07, 2012 | By: Rakai Pamanahan

:: Menggantung Harapan di Atas Langit Semen Gresik ::

Episode 4:


Kegalauan petani penggarap lahan milik PT SG di desa-desa ring 1 pabrik semen di Tuban itu bagai problema menahun. Warga yang tak pernah tahu kapan tanah garapan diambil untuk produksi dilakukan. Cepat atau lambat tanah miliknya yang telah dibebaskan itu, pasti akan dipakai untuk bahan baku industri semen. 

Di lain sisi PT SG yang bertanggung jawab terhadap stabilitas kebutuhan semen nasional, tetap menjalankan aktivitas produksi. Bahkan pabrik semen terbesar di tanah air ini telah menjadualkan memulai produksi pabrik baru Tuban IV, dalam satu dua tahun ini.

“Kami sudah pasrah jika sewaktu-waktu tanah yang saya garap ini diambil oleh PT SG,” kata Warsani (43), petani penggarap lahan PT SG asal Desa Sugihan, Kecamatan Meakurak, Kabupaten Tuban, Jatim saat ditemui di tanah garapannya di desa setempat, minggu ke dua bulan puasa Ramadhan 2012 lalu.

:: Meratapi Tanah Kelahiran yang Terampas ::

Episode 3 :

Raut wajah, Pak Taji (42), terlihat dingin memandangi gundukan tanah di depannya. Gundukan di atas ladang milik (Alm) Sumardji, itu untuk menutup lobang tanah yang ambas dengan taksir kedalaman sampai 30-an meter. Sedangkan diameter lobang bagian atasnya sekitar 1,5 meter.  

Lapisan atas dari lokasi tanah amblas di Desa Temandang, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban (Jatim) itu memang tak sampai dua meter, namun bagian bawahnya seperti berlobang lebih lebar dan luas. Dari atas tampak samar-samar tanah yang runtuh seperti terbawa arus air menuju utara, sebagian lainnya mengalir ke arah timur.

Peristiwa yang terjadi pada tanggal 24 April 2011 itu, kian menambah kecemasan warga Desa Temandang yang masuk wilayah desa ring 1 pabrik semen PT Semen Gresik (Persero) Tbk.  Serupa dengan mayoritas petani Temandang lainnya, Pak Taji tak paham apa penyebab terjadinya amblasnya ladang yang kini digarap, Didin, anak almarhum Sumardi itu.

Senin, Agustus 06, 2012 | By: Rakai Pamanahan

:: Menunggu Rembulan Runtuh di Ladang Gersang ::

Episode 2 :

Gemerlap kemajuan daerah industri, nampaknya belum dinikmati secara utuh warga desa sekitar. Sempitnya lapangan kerja kian menjadikan warga usia produktif dari desa ring 1 pabrik semen PT Semen Gresik (Persero) Tbk (PT SG) di Tuban, tak mampu berbuat apa-apa.

Serupa dengan desa-desa di tanah air yang tak berdaya di tengah gelegak perkembangan jaman sebagai dampak industrialisasi. Mereka makin terpuruk karena tak dipersiapkan secara matang. Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang digadang menjadi jawaban, ternyata tak sesuai harapan. Mereka hanya bisa menunggu sambil sesekali melakukan aksi unjuk rasa menuntut haknya sebagai warga dari desa terdampak.

Tercatat di jajaran Satuan Intelpam Polres Tuban, sejak awal Januari hingga Juni 2012 telah terjadi 48 kali aksi demontrasi di Tuban. Aksi yang dilakukan aktivis mahasiswa, Lembaga Swadaya Masyarakat  (LSM) dan warga desa itu, sebagian besar menyoal masalah kemiskinan, program CSR hingga menuntut keadilan. Hingga kini pun rangkaian aksi sarat kepentingan itu terus berlanjut, dengan tempo dan kuantitas massa beragam.

:: Elegi Sawah Ladang yang Terbakar Mimpi ::

Episode 1:

Matahari tepat di ubun-ubun ketika dua lelaki paruh baya melintas diantara petak ladang gersang. Di pundaknya tersampir cangkul, sedangkan tangan kirinya menenteng kantong plastik bekas wadah pupuk urea bermerk Petrokimia Gresik. Tanpa alas kaki mereka bergegas menuju tempat pembuangan limbah pabrik PT Semen Gresik (Persero) Tbk (PT SG), di sudut perbatasan Desa Temandang dan Desa Pongpongan, keduanya di wilayah Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jatim.

Jilatan lidah mentari yang begitu terik di pekan kedua bulan Ramadhan 2012, tak menjadikan mereka tak bergeming. Sampah besi dan plastik harus dikais untuk dijual kepada penadah. Bayang-bayang anak istri berbusana baru saat lebaran, memantik semangat warga desa ring 1 pabrik semen milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu.

“Kita harus cepat bergerak, Kang. Informasinya habis Dhuhur ini truknya datang,” kata Glempo, lelaki yang berkaos hijau kumal yang dipadu celana pendek hitam lusuh kepada karibnya.

Senin, Juli 30, 2012 | By: Rakai Pamanahan

Bunga Genjer di Surban Kiai


Oleh : Teguh Budi Utomo

Lelaki gagah berperforma tegap itu sesenggukan. Tak sekalipun kepalanya tegak. Tumpah segala beban yang menggelayut raganya. Terurai segala suntuk yang mengeram di dinding batinnya. Tak berdaya di hadapan Kiai Kasdikin. Raekan menumpahkan segala kemelut yang telah menggerus jiwanya, setelah kejadian perampokan di salah satu bank di Jakarta yang melibatkan dirinya sebulan sebelumnya.

Dalam kurun itu pula dia tak bisa tidur nyenyak. Peristiwa tergeletaknya seorang korban terkena peluru dari senjata di tangannya selalu terasa lekat di pelupuk matanya. Masih terngiang suara perempuan kasir bank itu mengaduh. Memegangi lubang di dadanya yang terkoyak peluru. Darah segar mulai menyimbah badannya yang hanya bergerak-gerak pelan. Dan sejak tragedi itu pula Raekan berpindah-pindah tempat. Menyelamatkan diri dari kejaran polisi. Seorang dari tiga kawannya telah ditangkap.
Minggu, Juli 29, 2012 | By: Rakai Pamanahan

Bekas Tambang

Tambang Tanah Liat PT SG di Desa Pongpongan, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Jatim telah berubah fungsi menjadi lahan tambak ikan air tawar. "Tanggal enam Agustus nanti panen, Mas," kata seorang pengelola keramba ikan di tempat itu, Minggu (29/7/2012).

Panen Blewah

Panen Blewah : Warga Desa Sembungrejo, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban - Jatim, mulai menuai buah Blewah. "Semoga ini berkah di bulan suci puasa Ramadhan, Mas," kata Mathohar, petani buah setempat saat menunggui Blewah-nya ditimbang tengkulak asal Plumpang-Tuban, MInggu (29/7/2012) siang.
Kamis, Juli 26, 2012 | By: Rakai Pamanahan

Syair Gambuh Diantara Pohon Siwalan

Sekar gambuh ping catur,
kang cinatur polah kang kalantur,
tanpa tutur katulo-tulo katali.
Kadaluwarso katutur,
Kapatuh pan dadi awon….


Siang demikian terik, ketika bait tembang Gambuh terdengar sayup-sayup diantara pohon Siwalan. Liriknya demikian lembut ketika dilantun lelaki paruh baya yang nangkring di puncak Siwalan. Semilir angin utara menghantar tembang sarat makna itu, ke perkampungan penduduk di Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban-Jatim, akhir pekan lalu.

Berulang-ulang bait tembang itu dilantun. Aroma magis yang diusung angin memunculkan gigil tersendiri bagi yang mendengarnya. Semuanya serba pitutur tentang perilaku hingga tatakrama bersosialisasi antarmanusia.

“Tiyang gesang kedah eling lan ngelingke. Ojo dumeh salah dianggep dosa, nanging iso soko rangerteni dununge ajar kabecikan (Orang hidup harus saling mengingatkan. Jangan selalu menganggap setiap kesalahan adalah dosa, karena bisa saja karena orang tersebut tak mengerti ajaran kebaikan,” kata lelaki di atas pohon Siwalan tersebut.

Menambang Karst, Mengubur Kehidupan

Oleh : Fitrisia Martisasi


Perlu waktu puluhan juta tahun untuk membentuk gugusan terumbu karang dan mencuatkannya ke permukaan Bumi sebagai pegunungan karst. Sebaliknya, bagi pabrik semen, hanya butuh puluhan tahun untuk menghancurkan dan mengubahnya menjadi mesin uang. 

Pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat mencanangkan kawasan eko-karst Gunung Sewu dan Gombong Selatan pada Desember 2004 seolah memberi harapan akan keberpihakan pemerintah pada kelestarian ekosistem, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan. Nyatanya, di lapangan kawasan perbatuan kapur tetap lebih dipandang dari sisi nilai ekonominya ketimbang sebagai benteng penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat.