Sekar gambuh ping catur,
kang cinatur polah kang kalantur,
tanpa tutur katulo-tulo katali.
Kadaluwarso katutur,
Kapatuh pan dadi awon….
Siang demikian terik, ketika bait tembang Gambuh terdengar sayup-sayup diantara pohon Siwalan. Liriknya demikian lembut ketika dilantun lelaki paruh baya yang nangkring di puncak Siwalan. Semilir angin utara menghantar tembang sarat makna itu, ke perkampungan penduduk di Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban-Jatim, akhir pekan lalu.
Berulang-ulang bait tembang itu dilantun. Aroma magis yang diusung angin memunculkan gigil tersendiri bagi yang mendengarnya. Semuanya serba pitutur tentang perilaku hingga tatakrama bersosialisasi antarmanusia.
“Tiyang gesang kedah eling lan ngelingke. Ojo dumeh salah dianggep dosa, nanging iso soko rangerteni dununge ajar kabecikan (Orang hidup harus saling mengingatkan. Jangan selalu menganggap setiap kesalahan adalah dosa, karena bisa saja karena orang tersebut tak mengerti ajaran kebaikan,” kata lelaki di atas pohon Siwalan tersebut.
Memang Gambuh banyak bermakna ajaran kebaikan. Kita tak boleh memvonis seseorang bersalah karena perbuatannya. Tak semua perilaku menyimpang disatu komunitas, karena perbuatan sarat kesengajaan. Namun, bisa jadi karena orang tersebut tak mengerti jika perilaku salahnya tersebut adalah perbuatan salah.
Oleh karena itu,bagi yang mengerti tatakrama social memiliki kewajiban untuk mengajari yang belum mengerti. Kebodohan orang lain tak boleh dibiarkan berlarut, sebab sesama manusia memiliki sifat social untuk saling mengingatkan. Disitulah pesan yang ingin disampaikan pria bersuara emas di atas Siwalan tersebut.
Sekira 23 depa dari pohon tempat pria menembang, lelaki lain mulai memanjat pohon Siwalan lain. Ringkih raganya menahan empat bonjor (batang bambu) untuk mengambil deresan nira dari manggar Siwalan yang dipasang kemarin petang. Bonjor yang telah penuh cairan Tuwak atau Legen (minumas khas dari tetes Siwalan) diganti dengan bonjor baru.
Ritus keseharian itu, rutin dilakukan para lelaki Desa Gesing. Apalagi disaat kemarau datang. Saat sawah dan ladang menunggu tetesan air hujan, mereka berdagang Tuwak atau Legen untuk mengisi hidup.
“Sudah Ki, jangan nembang terus. Aku sudah ngerti maksud tembang Ki Cokrojoyo,” sergah Guritno, sambil menuruni pohon Siwalan.
Rupanya penembang Sekar Gambuh tersebut dikenal warga setempat sebagai Ki Cokrojoyo. Tak seorang pun pernah bertemu penembang syair Jawa bersuara emas tersebut. Keberadaannya, menurut warga Gesing, bagai misteri. Namun sesekali terdengar tembang-tembangnya yang berbahasa Jawa disaat warga mulai memanjat pohon Siwalan.
“Orangnya misterius, Mas. Kita hanya bisa mendengar suara merdunya tanpa bisa melihat wujud orangnya,” kata Guritno saat ditemui di samping dua karibnya, Pambudi dan Untarjo, usai mengganti Bonjor di bawah pohon Siwalan.
Ki Cokrojoyo memang misteri. Namun pesan yang disampaikan melalui medio tembang hingga kini masih sering muncul, di kalangan pemanjat Siwalan. Biasanya dia muncul disaat hari Kamis dan Jumat, kala mentari terik tepat diubun-ubun.
Dan sudah dua bulan tiap hari itu saya mencoba mencari Ki Cokrojoyo. Namun, tak sekalipun berhasil menemukan keberadaannya.
“Jangankan Sampeyan, kita yang sudah bertahun-tahun disini juga belum pernah bsia menemuinya,” timpal Untarjo. Lelaki berperforma sedang ini, hanya tersenyum seraya menawarkan sebonjor Tuwak.
****
Beragam kisah tentang Ki Cokrojoyo telah menjadi khasanah legenda di Desa Gesing. Warta dari mulut ke mulut menguatkan keberadaan sang tokoh. Ada yang meyakini Ki Cokrojoyo memang asli kelahiran Gesing. Yang lain menyebut, berasal dari Demak yang diperintah Sunan Kalijaga untuk syiar Islam di Desa Gesing.
Apalagi di masa Kabupaten Tuban diperintah Adipati Wilwatikta, Gesing merupakan hamparan hutan yang di tengahnya terdapat perdikan. Penghuninya, dikabarkan, adalah para begal dan pelaku tindak criminal yang tak mengenal kajikan secara syar’i.
Sedangkan dari mulut ke mulut lembar warga Gesing menyebut, keberadaan Ki Cokrojoyo terkait dengan Sunan Geseng. Situs makamnya berada di sisi utara kompleks Pekerja Seks Komersial (PSK) Wonorejo di Dusun Gandul, Desa Gesing. Kedua tempat ini hingga kini sama-sama ramai dikunjungi warga.
Terkisah, kala itu Sunan Kalijogo yang semasa muda berjuluk Berandal Lokajaya, karena hobinya merampok untuk kemudian hasilnya dibagikan kepada fakir miskin itu, melakukan perjalanan ke hutan Menjalin, masuk wilayah hutan Gesing. Saat itulah ia mendengar suara lelaki menembangkan gending-gending Jawa sambil mengambil nira dari pohon Siwalan.
Merdu dan kuatnya power vocal dari penderas nira itu, menjadikan sang Sunan yang juga putra Bupati Wilwatikta berhenti berjalan. Mereka pun bertemu dan saling berdialog. Ki Cokrojoyo memang sehari-hari memanjat Siwalan mengambil nira untuk membuat gula merah.
Sunan yang selalu berbusana serba hitam dengan kepala dibalut kain udheng itu, tertarik menjadikan Ki Cokrojoyo sebagai murid setelah mendengar merdunya penyadap nira itu. Terlebih
Setelah mengetahui gaung suaranya sangat kuat.
Sang sunan merenung, suara merdu itu akan tambah baik jika digunakan melantunkan dzikir kepada Allah. Dalam dialog dan perdebatan panjang akhirnya, Ki Cokrojoyo mau melantunkan dzikir. Ia makin tertarik, setelah melantunkan dzikir, gula dari nira yang ada dihadapannya berubah menjadi bongkahan emas. Sejak itu pula ia menjadi murid Sunan Kalijogo.
Ki Cokrojoyo diperintah berdzikir di bawah pohon, sampai dibangunkan oleh Sunan Kalijogo. Beberapa tahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokrojoyo. Diperintahkan sejumlah muridnya untuk menjemput Ki Cokrojoyo.
Para murid Sunan Kalijogo tak menemukan Ki Cokrojoyo karena hutan tempatnya berdzikir telah dipadati pohon rotan. Mereka lantas membakar belukar di tengah hutan tersebut hingga tampak Ki Cokrojoyo masih sujud ke kiblat sambil berdzikir.
Meski kulitnya hangus dimakan api, namun ia masih segar bugar. Setelah menghadap Sunan Kalijogo, ia diberi nama Sunan Geseng karena badannya gosong atau geseng. Ia diperintah untuk menyebarkan Islam di kawasan Jatinom, sekitar 10 kilometer arah utara Kota Klaten. Di Jatinom, ia dikenal dengan nama Ki Ageng Gribik.
Setelah wafat ia dimakamkan di dekat makam istrinya Siti Zubaidah. Makamnya hingga kini terawat dengan baik, sejumlah bangunan untuk para peziarah berdiri disekitarnya. Tentunya termasuk surau kecil yang berdiri di depan bangunan makam.
Bahkan sebuah altar, dipercaya sebagai tempat sholat Sunan Geseng, dipindahkan dari tengah hutan jati di belakang makamnya. Altar ini konon menjadi tempat Ki Cokrojoyo berdzikir saat diperintah Sunan Kalijogo. Tak sedikit peziarah meyakini, jika dzikir di batu atas itu keinginannya bakal terkabul.
Dan siang pun mulai mencumbu rembang petang. Para penderas nira pun berkemas segera pulang ke rumah masing-masing. Diantara kicau burung tekukur di puncak pohon asem tua, suara Ki Cokrojoyo sayup-sayup terdengar. Gaungnya kian menukik-nukik batin siapapun yang mendengarnya.
Ojo nganti kabanjur,
barang polah ingkang nora jujur,
yen kebanjur kojur sayekti tan becik,
becik ngupoya iku,
pitutur engkang sayektos…
Ki Cokrojoyo pun berpesan dalam pupuh empat syair Gambuh. Kita tak boleh berlebih dalam ketidakjujuran, karena tidak jujur yang berlebihan pada akhirnya akan menistakan diri sendiri. Dipesan pula agar kita mencari petuah yang sejati. Karena sejatinya pitutur adalah terletak pada nilai kebaikan.
“Itulah Mas, Ki Cokrojoyo yang akrab menemani kami memanjat pohon Siwalan,” demikian kata Pambudi, penderas nira untuk tuwak di Desa Gesing. Gesing memang tak terpisah dari legenda Ki Cokrojoyo. Dan hingga kini pun acap hadir melantunkan tembang-tembangnya. Meski siapapun belum pernah berhasil berjumlah fisik dengannya. (tbu)
Sumber: GapuraNews.com, 5 November 2011.
kang cinatur polah kang kalantur,
tanpa tutur katulo-tulo katali.
Kadaluwarso katutur,
Kapatuh pan dadi awon….
Siang demikian terik, ketika bait tembang Gambuh terdengar sayup-sayup diantara pohon Siwalan. Liriknya demikian lembut ketika dilantun lelaki paruh baya yang nangkring di puncak Siwalan. Semilir angin utara menghantar tembang sarat makna itu, ke perkampungan penduduk di Desa Gesing, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban-Jatim, akhir pekan lalu.
Berulang-ulang bait tembang itu dilantun. Aroma magis yang diusung angin memunculkan gigil tersendiri bagi yang mendengarnya. Semuanya serba pitutur tentang perilaku hingga tatakrama bersosialisasi antarmanusia.
“Tiyang gesang kedah eling lan ngelingke. Ojo dumeh salah dianggep dosa, nanging iso soko rangerteni dununge ajar kabecikan (Orang hidup harus saling mengingatkan. Jangan selalu menganggap setiap kesalahan adalah dosa, karena bisa saja karena orang tersebut tak mengerti ajaran kebaikan,” kata lelaki di atas pohon Siwalan tersebut.
Memang Gambuh banyak bermakna ajaran kebaikan. Kita tak boleh memvonis seseorang bersalah karena perbuatannya. Tak semua perilaku menyimpang disatu komunitas, karena perbuatan sarat kesengajaan. Namun, bisa jadi karena orang tersebut tak mengerti jika perilaku salahnya tersebut adalah perbuatan salah.
Oleh karena itu,bagi yang mengerti tatakrama social memiliki kewajiban untuk mengajari yang belum mengerti. Kebodohan orang lain tak boleh dibiarkan berlarut, sebab sesama manusia memiliki sifat social untuk saling mengingatkan. Disitulah pesan yang ingin disampaikan pria bersuara emas di atas Siwalan tersebut.
Sekira 23 depa dari pohon tempat pria menembang, lelaki lain mulai memanjat pohon Siwalan lain. Ringkih raganya menahan empat bonjor (batang bambu) untuk mengambil deresan nira dari manggar Siwalan yang dipasang kemarin petang. Bonjor yang telah penuh cairan Tuwak atau Legen (minumas khas dari tetes Siwalan) diganti dengan bonjor baru.
Ritus keseharian itu, rutin dilakukan para lelaki Desa Gesing. Apalagi disaat kemarau datang. Saat sawah dan ladang menunggu tetesan air hujan, mereka berdagang Tuwak atau Legen untuk mengisi hidup.
“Sudah Ki, jangan nembang terus. Aku sudah ngerti maksud tembang Ki Cokrojoyo,” sergah Guritno, sambil menuruni pohon Siwalan.
Rupanya penembang Sekar Gambuh tersebut dikenal warga setempat sebagai Ki Cokrojoyo. Tak seorang pun pernah bertemu penembang syair Jawa bersuara emas tersebut. Keberadaannya, menurut warga Gesing, bagai misteri. Namun sesekali terdengar tembang-tembangnya yang berbahasa Jawa disaat warga mulai memanjat pohon Siwalan.
“Orangnya misterius, Mas. Kita hanya bisa mendengar suara merdunya tanpa bisa melihat wujud orangnya,” kata Guritno saat ditemui di samping dua karibnya, Pambudi dan Untarjo, usai mengganti Bonjor di bawah pohon Siwalan.
Ki Cokrojoyo memang misteri. Namun pesan yang disampaikan melalui medio tembang hingga kini masih sering muncul, di kalangan pemanjat Siwalan. Biasanya dia muncul disaat hari Kamis dan Jumat, kala mentari terik tepat diubun-ubun.
Dan sudah dua bulan tiap hari itu saya mencoba mencari Ki Cokrojoyo. Namun, tak sekalipun berhasil menemukan keberadaannya.
“Jangankan Sampeyan, kita yang sudah bertahun-tahun disini juga belum pernah bsia menemuinya,” timpal Untarjo. Lelaki berperforma sedang ini, hanya tersenyum seraya menawarkan sebonjor Tuwak.
****
Beragam kisah tentang Ki Cokrojoyo telah menjadi khasanah legenda di Desa Gesing. Warta dari mulut ke mulut menguatkan keberadaan sang tokoh. Ada yang meyakini Ki Cokrojoyo memang asli kelahiran Gesing. Yang lain menyebut, berasal dari Demak yang diperintah Sunan Kalijaga untuk syiar Islam di Desa Gesing.
Apalagi di masa Kabupaten Tuban diperintah Adipati Wilwatikta, Gesing merupakan hamparan hutan yang di tengahnya terdapat perdikan. Penghuninya, dikabarkan, adalah para begal dan pelaku tindak criminal yang tak mengenal kajikan secara syar’i.
Sedangkan dari mulut ke mulut lembar warga Gesing menyebut, keberadaan Ki Cokrojoyo terkait dengan Sunan Geseng. Situs makamnya berada di sisi utara kompleks Pekerja Seks Komersial (PSK) Wonorejo di Dusun Gandul, Desa Gesing. Kedua tempat ini hingga kini sama-sama ramai dikunjungi warga.
Terkisah, kala itu Sunan Kalijogo yang semasa muda berjuluk Berandal Lokajaya, karena hobinya merampok untuk kemudian hasilnya dibagikan kepada fakir miskin itu, melakukan perjalanan ke hutan Menjalin, masuk wilayah hutan Gesing. Saat itulah ia mendengar suara lelaki menembangkan gending-gending Jawa sambil mengambil nira dari pohon Siwalan.
Merdu dan kuatnya power vocal dari penderas nira itu, menjadikan sang Sunan yang juga putra Bupati Wilwatikta berhenti berjalan. Mereka pun bertemu dan saling berdialog. Ki Cokrojoyo memang sehari-hari memanjat Siwalan mengambil nira untuk membuat gula merah.
Sunan yang selalu berbusana serba hitam dengan kepala dibalut kain udheng itu, tertarik menjadikan Ki Cokrojoyo sebagai murid setelah mendengar merdunya penyadap nira itu. Terlebih
Setelah mengetahui gaung suaranya sangat kuat.
Sang sunan merenung, suara merdu itu akan tambah baik jika digunakan melantunkan dzikir kepada Allah. Dalam dialog dan perdebatan panjang akhirnya, Ki Cokrojoyo mau melantunkan dzikir. Ia makin tertarik, setelah melantunkan dzikir, gula dari nira yang ada dihadapannya berubah menjadi bongkahan emas. Sejak itu pula ia menjadi murid Sunan Kalijogo.
Ki Cokrojoyo diperintah berdzikir di bawah pohon, sampai dibangunkan oleh Sunan Kalijogo. Beberapa tahun kemudian, Sunan Kalijaga teringat Ki Cokrojoyo. Diperintahkan sejumlah muridnya untuk menjemput Ki Cokrojoyo.
Para murid Sunan Kalijogo tak menemukan Ki Cokrojoyo karena hutan tempatnya berdzikir telah dipadati pohon rotan. Mereka lantas membakar belukar di tengah hutan tersebut hingga tampak Ki Cokrojoyo masih sujud ke kiblat sambil berdzikir.
Meski kulitnya hangus dimakan api, namun ia masih segar bugar. Setelah menghadap Sunan Kalijogo, ia diberi nama Sunan Geseng karena badannya gosong atau geseng. Ia diperintah untuk menyebarkan Islam di kawasan Jatinom, sekitar 10 kilometer arah utara Kota Klaten. Di Jatinom, ia dikenal dengan nama Ki Ageng Gribik.
Setelah wafat ia dimakamkan di dekat makam istrinya Siti Zubaidah. Makamnya hingga kini terawat dengan baik, sejumlah bangunan untuk para peziarah berdiri disekitarnya. Tentunya termasuk surau kecil yang berdiri di depan bangunan makam.
Bahkan sebuah altar, dipercaya sebagai tempat sholat Sunan Geseng, dipindahkan dari tengah hutan jati di belakang makamnya. Altar ini konon menjadi tempat Ki Cokrojoyo berdzikir saat diperintah Sunan Kalijogo. Tak sedikit peziarah meyakini, jika dzikir di batu atas itu keinginannya bakal terkabul.
Dan siang pun mulai mencumbu rembang petang. Para penderas nira pun berkemas segera pulang ke rumah masing-masing. Diantara kicau burung tekukur di puncak pohon asem tua, suara Ki Cokrojoyo sayup-sayup terdengar. Gaungnya kian menukik-nukik batin siapapun yang mendengarnya.
Ojo nganti kabanjur,
barang polah ingkang nora jujur,
yen kebanjur kojur sayekti tan becik,
becik ngupoya iku,
pitutur engkang sayektos…
Ki Cokrojoyo pun berpesan dalam pupuh empat syair Gambuh. Kita tak boleh berlebih dalam ketidakjujuran, karena tidak jujur yang berlebihan pada akhirnya akan menistakan diri sendiri. Dipesan pula agar kita mencari petuah yang sejati. Karena sejatinya pitutur adalah terletak pada nilai kebaikan.
“Itulah Mas, Ki Cokrojoyo yang akrab menemani kami memanjat pohon Siwalan,” demikian kata Pambudi, penderas nira untuk tuwak di Desa Gesing. Gesing memang tak terpisah dari legenda Ki Cokrojoyo. Dan hingga kini pun acap hadir melantunkan tembang-tembangnya. Meski siapapun belum pernah berhasil berjumlah fisik dengannya. (tbu)
Sumber: GapuraNews.com, 5 November 2011.

0 komentar:
Posting Komentar