Kamis, Agustus 29, 2013 | By: Rakai Pamanahan

:: Kenapa Mereka Masih Miskin? ::

Oleh : Rakai Pamanahan

KEMISKINAN rupanya masih lekat di desa-desa sekitar ladang minyak dan gas bumi (Migas).  Berbagai faktor menjadi penyebab situasi sosial ekonomi yang menimpa warga desa tersebut. Satu diantarnya adalah karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM).

Rendahnya SDM mayoritas warga desa sekitar sumur Migas terkait dengan kondisi geografis  lokasi sumur. Entah bagaimana asal muasalnya rata-rata sumur Migas potensial ditemukan di wilayah hutan, dan lepas pantai.

Sejak jaman kolonial Belanda dulu, para ahli geologi dari Eropa yang dikirim  negeri Ratu Wilhelmina ke nusantara ini, melakukan perburuan di tengah-tengah hutan. Bisa jadi kondisi batuan di tengah hutan mengalami pergeseran di jamannya hingga menyimpan potensi migas di perut buminya.
Rabu, Juli 24, 2013 | By: Rakai Pamanahan

:: Ironi DBH Migas Blok Cepu ::

by : rakai pamanahan

PENGARUH Dana Bagi Hasil (DBH) dari sektor Migas sangat besar bagi perkembangan daerah. Jika hasil eksploitasi atas lapangan Migas di satu daerah besar, akan diikuti dnegan raihan DBH yang besar pula. Inilah yang memantik kecemburuan dari daerah yang tidak memiliki sumur Migas.

Acuan yang saat ini dipakai pemerintah dalam membagi DBH adalah Undang-Undang 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Konstitusi ini diikuti dengan PP 55 tahun 2005 tentang Perimbangan Keuangan.

Sayangnya regulasi tersebut dipandang tak menguntungkan sejumlah daerah. Itu terjadi karena hanya daerah yang masuk dalam satu provinsi yang bisa mendapatkan bagian DBH. Sementara daerah (kabupaten/kota) yang tidak dalam satu wilayah provinsi, sekalipun berada dalam wilayah blok geologis Migas tidak mendapatkannya.
Rabu, Juli 10, 2013 | By: Rakai Pamanahan

:: Diawal Ramadhan ::



oleh : Rakai Pamanahan

... dan apabila itu bukan jalanmu
untuk apa jejakmu masih menapak
jangan biarkan naluri imanmu raib
disaat hati kecilmu merayu-rayu   

Percuma kau meronce tasbih
bila tak sanggup membelah langit
hingga keringkan seisi laut selatan

Kamis, Juni 27, 2013 | By: Rakai Pamanahan

:: Terlanjur Membangun Mimpi ::




by : Rakai Pamanahan

MINYAK dan Gas Bumi (Migas) memang masih menjadi primadona bagi pemerintah. Di samping karena menjanjikan pendapatan yang besar, sektor yang bahannya tak tergantikan ini jika tak disalahgunakan mampu merubah harkat, dan hajat hidup orang banyak. Pemerintah pun, jika tak diselewengkan, bisa mengalokasikan dana dari Migas secara leluasa demi kesejahteraan rakyat.

Sedangkan bagi pemerintah daerah yang wilayahnya terdapat lapangan Migas, akan mendapatkan dana berlebih dari sektor ini. Mulai dari sistem Dana Bagi Hasil (DBH) yang telah diatur dalam undang-undang, pula dana lain yang sah dari sertaan proyek migas. Bisa dari Ijin Mendirikan Bangunan (IMB), ijin lingkungan (HO), atau pajak maupun retribusi sah lain sesuai regulasi peraturan daerah (Perda) yang mereka ciptakan.

Lebih penting lagi adalah faktor multy player effect  dari kegiatan industri Migas. Di sana daerah bisa berekspresi mendirikan perusahaan hilir, untuk menampung hasil muntahan Migas yang ada di wilayahnya. Pada kondisi ini dipastikan mampu membuka berbagai kesempatan kerja bagi warganya. Disana ruang untuk mendistribusikan tenaga kerja lebih leluasa dan kian terbuka.
Jumat, Mei 24, 2013 | By: Rakai Pamanahan

:: Local Wisdom ::



Oleh : Rakai Pamanahan


TRADISI yang terbangun secara turun temurun di satu komunitas melahirkan adat dan kebiasaan. Itu bisa terjadi lantaran terlahir melalui berbagai tempaan jaman dengan berbagai sejarah yang menyertainya. Pada gilirannya tradisi yang telah berlangsung terus menerus melahirkan kultur.

Bisa jadi kultur (kebudayaan) berbentuk bahasa, dialeg, atau bahkan sikap yang menghegemoni perilaku kehidupan secara komunal. Disinilah nilai-nilai kearifan lokal muncul. Tak jarang kelahirannya acap rekat dengan religi.
Senin, Mei 06, 2013 | By: Rakai Pamanahan

:: Menggali Lubang Kubur Sendiri ::



by: Rakai Pamanahan


Sedumuk bathuk senyari bumi, tohi pati.

BISA jadi ungkapan orang Jawa ini sarat filosofi terkait keberadaan tanah. Tanah bagi sebagian besar orang Jawa adalah pusaka. Disebut pusaka karena disana ada keyakinan, jika sebidang tanah merupakan warisan leluhur yang patut dipertahankan. Jika perlu dipertahankan sampai mati.

Fenomena pusaka tersebut kian menghegemoni masyarakat Jawa dari pranata sosial apapun. Penyebutan pusaka atas tanah tersebut karena di dalamnya, baik secara harafiah maupun historiah, tanah diperoleh oleh leluhurnya dengan cara tak mudah. Disana tersirat muatan religi, pula terdapat unsur kultural, bahkan magis, sehingga tanah bisa ditempati turun temurun.

Minggu, Februari 10, 2013 | By: Rakai Pamanahan

Kisah Amerika Kuasai Papua



Indonesia merdeka dari cengkraman penjajah Belanda pada 17 Agustus 1945. Namun, baru akhir tahun 1949, Kerajaan Belanda rela menyerahkan semua bekas jajahannya ke Indonesia, kecuali wilayah Papua Barat. Atas peran Amerika Serikat dengan Perjanjian New York, akhirnya pada tahun 1962, Belanda menyerahkan Papua Barat ke Indonesia. Buntutnya, tahun 1967, Pemerintah Indonesia memberikan kontrak penambangan tembaga dan emas di Papua, selama 30 tahun. Amerika benar, karena hampir tidak ada satu pun jenis kekayaan alam yang tidak ada di perut bumi Papua.

Masih menurut sejarah, bicara kandungan sumber daya mineral dan energi di perut bumi Papua, sudah dikenal luas sebelum perang dunia kedua. Saat itu, tentu saja minyak bumi adalah komoditas yang paling diburu untuk dieksploitasi.

Alkisah, pada tahun 1936, dalam ekspedisi pencarian minyak bumi, seorang geologist Belanda bernama J.J. Dozy, menemukan sebuah bukti yang kaya akan unsur tembaga. Sampel dari pegunungan itu pun dibawanya untuk diteliti di Universitas Leiden Belanda.

Hasilnya? Alamak, luar biasa menakjubkan. Di situ ditemukan kandungan tembaga sebanyak 13 juta ton di atas permukaan tanah dan 14 juta ton di perut bumi. Tak berlebihan bila Dozy menamai gunung temuannya itu Erstberg alias gunung bijih.