Oleh : Rakai
Pamanahan
DI satu
petang pekan kedua bulan November 2014, saya duduk di warung kopi di Desa Bandungrejo,
Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Warungnya sederhana namun
banyak disinggahi kawula muda setempat, dan warga lain yang melintas jalur
Migas Banyuurip, Blok Cepu.
Sebagian
dari mereka mengenali saya, karena beberapa kali bertemu di warung kopi di Desa
Gayam, desa tetangga Bandungrejo. Musti dimafhum karena biasanya ada tiga
perkara yang merekatkan kaum Adam. Yakni, secangkir kopi, sebatang rokok, dan pergunjingan
tentang kaum Hawa.
“Apa yang
harus kami lakukan jika gas Jambaran ini dikerjakan?” bertanya seorang pemuda
bertubuh kerempeng kepada saya.

