Oleh : Rakai
Pamanahan
KEMISKINAN rupanya
masih lekat di desa-desa sekitar ladang minyak dan gas bumi (Migas). Berbagai faktor menjadi penyebab situasi
sosial ekonomi yang menimpa warga desa tersebut. Satu diantarnya adalah karena
keterbatasan sumber daya manusia (SDM).
Rendahnya
SDM mayoritas warga desa sekitar sumur Migas terkait dengan kondisi
geografis lokasi sumur. Entah bagaimana
asal muasalnya rata-rata sumur Migas potensial ditemukan di wilayah hutan, dan
lepas pantai.
Sejak jaman
kolonial Belanda dulu, para ahli geologi dari Eropa yang dikirim negeri Ratu Wilhelmina ke nusantara ini,
melakukan perburuan di tengah-tengah hutan. Bisa jadi kondisi batuan di tengah
hutan mengalami pergeseran di jamannya hingga menyimpan potensi migas di perut
buminya.
Pula kondisi
sekarang. Ketika peta geologi dibagi dalam blok-blok Migas—konon pembagiannya
pun dilakukan semasa pemerintah kolonial, kemudian dilelang pemeirntah
Indonesia kepada publik internasional, kondisi warga sekitar ladang sumber
energi tersebut juga tak jauh berbeda. Sekalipun di wilayah perkotaan
perkembangan pendidikan sangat pesat, namun warga desa Migas juga masih
terpuruk SDM-nya.
Ketertinggalan
pendidikan itu cukup berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan warga desa
sekitar Migas. Mereka tak bisa mengikuti pergulatan di bursa kerja sektor Migas
yang padat teknologi. Kalau saja bisa berpartisipasi dalam kerja di sana, tak
lebih dari pekerja kasar.
Seperti
tukang angkut peralatan pemboran, supir, atau agak lebih mentereng lagi sebagai
security, sebutan lain dari Satpam,
di lokasi sumur Migas, atau sebagai flagman
yang tugasnya membawa bendera untuk mengatur lalu lintas kendaraan di jalan
sekitar proyek. Bahkan ada juga sebagai sweeper, orang yang ditugaskan sebagai penyisir
lokasi pemboran agar tak bisa dimasuki orang yang tidak berkepentingan.
Untuk
bersaing di bursa kerja Migas di level menengah ke atas pun sangat sulit.
Mereka terbentur syarat formalitas di bidang pendidikan. Jadinya mereka menjadi
penonton di saat hingar bingar industri Migas di kampungnya berlangsung.
Kondisi
tersebut tak harus terjadi, jika pemerintah, operator blok, dan kontraktor
sumur Migas memiliki empati terhadap
warga desa sekitar. Empati yang kemudian di-breakdown
dalam program pemberdayaan sangat dibutuhkan warga. Walaupun hal itu baru
sekian tahun kemudian bisa dilihat hasilnya, namun melalui program ini
keturunan mereka bisa ikut menikmati hasilnya.
Sayangnya
rasa empati tersebut tak melekat di antara para lembaga binis Migas. Jadinya
tak semua desa sekitar ladang migas terkatrol tingkat kesejahteraannya. Kemiskinan pun seperti tak beranjak dari
mereka, sekalipun industri Migas telah menghegemoni desanya.
Kini bukan
lagi jaman kolonial, pula bukan Orde Baru, namun kondisi desa sekitar ladang
Migas sepertinya masih belum berubah. Regulasi telah diciptakan untuk mengatur sistem pemberdayaan masyarakat. Harapannya bisa menjadi pijakan pemerintah,
operator, dan kontraktor Migas untuk lebih empati kepada warga sekitar. Bukan
sekadar simpati dengan memberi bantuan filantropi, namun lebih pada pemberian
program untuk kemandirian warga.
Melalui cara
itu angka kemiskinan desa sekitar ladang Migas bisa dikurangi. Jika program
sosial berhasil warga tak lagi bernafsu bisa menjadi pekerja Migas. Mereka
telah bisa menolong dirinya, tanpa harus meminta-minta dipekerjakan sebagai Satpam,
atau Flagmen di proyek Migas. Desa
miskin di sekitar ladang Migas pun secara perlahan akan hilang sendirinya. (*)
Foto dan naskah dari SuaraBanyuurip.com, 29 Agustus 2013.

0 komentar:
Posting Komentar