oleh : Rakai Pamanahan
“Woke bar ko Nejorogo yo?” tanya seorang
anak muda berambut gondrong seraya mencecap kopi kepada karibnya.
“Yi’o.
Gek mau bar tengerno capar no murah kasit sebuk mboke mangar,” jawab
yang ditanya sambil memarkir motor bebek di warung kopi, di sudut Desa Sawahan,
Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur akhir pekan lalu.
Saya
menyimak dialog mereka. Semakin saya ikuti semakin terasa bahwa bahasa yang
mereka gunakan tak biasa. Rupanya anak-anak Rengel ini menggunakan bahasa
prokem.
Sebagian
dari mereka mengaku kepada saya, bahwa bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa
Gaul. Bahasa khas dari wilayah Rengel. Itu klaim mereka.
“Kalau wong Rengel pasti tahu dan bisa
menggunakan bahasa itu,” kata Mubayin (46), warga Desa Sawahan di warung sama.
“Woke bar ko Nejorogo yo?” Kalimat ini jika dirunut dalam bahasa Jawa; “Kowe bar ko Bojonegoro yo?” Kalau di bahasa Indonesia, “Kamu habis dari
Bojonegoro ya?”.
Sedangkan “Yi’o.
Gek mau bar tengerno capar no murah kasit sebuk mboke mangar.” Jika
dirunut dalam tata bahasa Jawa yang benar menjadi seperti ini; “Iyo. Gek mau bar ngeterno pacar no rumah
sakit bezuk mboke ngamar.” Dalam
bahasa Indonesia, “Iya. Tadi habis mengantar pacar ke rumah sakit membezuk
ibunya rawat inap.”
Prokem sama
halnya bahasa Gaul. Ada juga yang menyebut bahasa Alay, bahasa Slank, dan
banyak sebutan lainnya. Biasanya dilakukan dengan dialeg yang khas. Bisa jadi
di setiap daerah ada prokem yang berbeda dengan daerah lain.
Sepanjang
perjalanan saya di Malang, Jawa Timur pernah juga menemui prokem Malangan. Di
sana lebih mudah dikenali, karena prokem yang dilakukan dengan cara membalik letak
huruf dalam setiap kosakata. Contohnya; makan menjadi “nakam”, tidur (rudit),
perawan (nawarep).
Sejumlah
warga Malang yang berusia lanjut memberi penjelasan, bahasa Walikan di Malang
ada nilai historinya. Konon bahasa Walikan itu digunakan di masa kolonial
Belanda. Untuk mengelabuhi orang asing tersebut warga Malang berdialog dengan
membalik kata. Jadilah bahasa Walikan ala Malang. Sampai kini pun masih
dipertahankan oleh generasi muda di Kota Apel tersebut.
Bahasa
Prokem, ungkap Kepala Laboratorium Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari
Unirow Tuban, Suharyadi, adalah bahasa pergaulan yang menyimpang dari ranah
tata bahasa. Bahasa ini menggunakan dialeg khusus, dan khas dari masing-masing
daerah.
Budayawan ini
menilai, percakapan yang dilakukan anak-anak muda di Rengel tersebut masuk
dalam ranah Prokem, bahasa Slank, atau bahasa pergaulan.
“Prokem
masuk ranah sosiolinguistik, cenderung menyalahi tata bahasa Indonesia,” sebut Suharyadi.
Secara etimologis,
sosiolinguistik terdiri dari dua unsur kata. Yakni, Sosio (Sosiologi), ilmu
sosial yang berhubungan dengan masyarakat, kelompok maupun fungsi
kemasyarakatan. Sedangkan Linguistik adalah sebuah ilmu bahasa. Ranah ini mengulas
tentang unsur yaitu fonem, morfem, kata, kalimat, dan sebagainya. Dengan
demikian prokem tak masuk ranah tata bahasa.
Tak jelas
siapa yang pertama memulai menggunakan Prokem Rengelan. Sebagian besar warga di
wilayah Kecamatan Rengel belum bisa menjelaskan secara empiris. Bisa jadi belum ada penelitian tentang prokem khas dari Rengel ini.
“Mungkin
sejak awal tahun 1970-an mulai ada bahasa Rengelan,” ungkap Sutomo (63), warga Desa
Sawahan, Rengel. “Wakit yiben yo wes no’o
basa lawikan Ngerel ki’i (Sejak dulu sudah ada bahasa kebalikan Rengel ini),”
tambah pedagang palawija itu saat ditemui di rumahnya.
Sedangkan
Mbah Kasri (80), asal Dusun Santren, Desa Rengel yang saya temui di sawahnya mengungkap,
bahwa keberadaan Prokem Rengelan ini telah ada sejak dirinya masih muda. Di
jaman dia muda dulu sudah ada bahasa tersebut.
“Yiben yo wes no’o, Nak. Sa’ki’i ae siek diwage karo cah nom kok
(Sejak dulu sudah ada, Nak. Sekarang saja masih dipakai oleh anak-anak muda),” kata Mbah Kasri dalam Prokem Rengelan.
Tak ada
lacak yang mencatat historical keberadaan Prokem Rengelan. Yang pasti kawula muda
di desa lereng pegunungan kapur Tuban ini, kental dengan prokem Rengelan.
Terlebih di wilayah Kecamatan Rengel, hampir di setiap warung kopi berbicara
dengan prokem tersebut.
“Wu’es yo. Ka’u pa’e lumeh, pokine wes ten’ek,”
kata si rambut gondrong pamit kepada karibnya. prokem Rengelan pun terus
mengalir mengiringi perbincangan anak-anak muda di warung kopi di sana. Di
Rengel, Tuban. (*)
Tuban : 5
November 2014.

0 komentar:
Posting Komentar