Sabtu, April 09, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Menuang Gelisah dan Kemarahan Tak Berdaya ::


By : Rakai Pamanahan

Keterpurukan hidup karena carut marut sistem tak harus disesali. Kemarahan pun memuncak pada lapak teatrikal.

Tak bisa dipungkiri, realita kemasyarakatan di tanahair tengah dirundung duka. Nestapa kehidupan karena dampak perilaku pemimpin yang tak laik dicontoh, menjadikan keterpurukan tak terperi.

Gesernya nilai sosial dan ekonomi makin menambah derita masyarakat. Kekecewaan mulai membahana di setiap sendi kehidupan kemasyarakatan. Merobek ketenangan di saat ketentraman terusik. Pranata sosial pun tak lagi guyup rukun tentrem kerta raharja. Terlahirlah gelisah dan saling curiga.

Masyarakat tak lagi memiliki figur panutan. Sosok pahlawan pun kian langka. Helat politik yang digandang merubah kepahitan hidup tak lagi kentara. Bahkan sirna bersama hegemoni ambisi persona dan komunal politik berikut underbow-nya. Lahirlah gelisah dan kemarahan atas ketidakberdayaan. Tanpa mengenal dimana dan kapan tertangkup oleh kebijakan empunya kebijakan.

Demikian benang merah yang bisa ditarik dari performance art bertajuk Fuck You dari Teater Gombal Amoh-Tuban, dalam helat Pesta Teater 2011 yang digelar Komunitas Teater Tuban bersama Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, di Gedung Budaya Loka Tuban, 9 April 2011 malam.

Lakon bernuansa kritikal itu mengundang sekitar 1.000 peminat teater di Bumi Ranggalawe.  Dalam karya dan sutradara besutan Isdiantoro tersebut, komunitas Gerakan Pemuda Kutorejo (GPK) Art Community ini, lebih menyoal kemarahan dan ketidakberdayaan masyarakat. Serangkaian kebijakan politik para pemimpin nasional dan daerah yang tak berpihak rakyat, menjadikan masyarakat makin sengsara.

Apalagi, ungkap Isdiantoro dari Gombal Amoh, kekecewaan masyarakat sudah memuncak hingga memunculkan beragam gejolak sosial kemasyarakatan. Dalam kondisi demikian rakyat kehilangan figur yang layak menyandang sebutan panutan. Jadinya kemarahan atas gelisah yang mendalam perlu dituang.

“Carut marut kondisi sosial politik ini karena kita kehilangan figur yang bisa dijadikan panutan. Lihat saja perilaku para pemimpin dan wakil rakyat yang seringkali mengecewakan,” tegas Isdiantoro, usai perhelatan.

Pada tampilan secara out door Gombal Amoh memanfaatkan media panggung yang ditata sederhana namun apik. Panggung berlatar belakang tugu pahlawan dengan sebuah prasasti “Wicara Sukma” didominasi warna hitam dan putih. Di atas panggung terdapat dampar kencana (kursi kekuasaan),  sebagai manifestasi dari lembaga kekuasan. Tampak pula di depannya sebuah meja perjamuan yang dibungkus selembar kain kafan.

Di depan kursi kekuasaan terdapat dua kursi yang bisa mengapresiasi sebagai lembaga perwakilan rakyat. Dua kursi itu pula yang diperebutkan enam pelakon yang raganya dibalut kain putih. Hingga kursi itupun menjadi ajang perebutan dan patah. Terserak di sekitar dua pusara.

Padahal pusara itu, ungkap Isdiantono, sebagai simbul pengingat jika dulu kemerdekaan diraih melalui perjuangan hingga menumbalkan jiwa para pemimpin. Figur pahlawan itulah yang saat ini menjadi langka, di saat situasi tanah air dalam kondisi tidak menentu.

Perilaku sarkas dalam performa art ala Gombal Amoh yang menyimbulkan perebutan kursi kekuasaan tersebut, menjadikan tumpukan ketidakberdayaan dan kekecewaan masyarakat kian membahana. Kian menggoreskan bilur antipati terhadap pelaku lembaga kekuasaan maupun perwakilan rakyat.

Dan emosi jiwa pahlawan yang tersisa, yang berdiri di depan dampar kencana, tak lagi terbendung. Prasasti “Wicara Sukma” sebagai simbul kekuasaan yang dilahirkan dari tetes darah dan nyawa, dia lempar dengan kerikil sebagai kompensasi kegalauan batinnya. Ia merasa dikhianati oleh perilaku para politisi yang lebih mengumbar syahwat demi kekuasaan. Sementara rakyat tersungkur dalam lumpur kekuasaan.

Lelah, gelisah dan marah menjadikan tubuh pahlawan yang tersisa itu gamang. Batinnya keruh melihat perilaku tak senonoh para politisi. Sosok pahlawan pun membuka kain kafan penutup meja perjamuan. Bukannya minuman segar dan makanan yang dia temui, namun tumpukan piring kosong.

Dalam kondisi jiwa sarat gelegak emosi. Tumpukan piring kosong itu satu persatu dia lempar ke kursi yang di atasnya terdapat prasasti “Wicara Sukma”. Dan kemarahan maupun kegelisahan karena dikhianati lembaga kekuasaan dan wakil rakyat pun kembali tumpah. Raga ringkihnya pun tersungkur seiring serakan pecahan piring dan kursi kekuasaan.

Terlepas dari perilaku kasar yang dimunculkan Gombal Amoh dalam perhelatan itu, mampu menyedot minat animo pegiat seni teater di Tuban. Standing aplaus penonton pun mengiringi pungkasnya performance art bertajuk Fuck You.

“Pesan yang disampaikan dalam penampilan Gombal Amoh ini bisa ditangkap. Meskipun terasa ada sarkasme di dalamnya,” kata pegiat seni dan budaya asal Tuban, Eko Kasmo.

Dan karya teater adalah karya yang didedah dengan rasa. Sekalipun di dalamnya terdapat laku hingga kontemplasi penggarapannya. Disitulah nilai seni dan budaya lahir. (*)

0 komentar:

Posting Komentar