oleh : rakai pamanahan
Kentrung Bate seni tradisi asal Desa Bate, Kecamatan
Bangilan, Kabupaten Tuban, tak bisa terlepas dari Mbah Surati (90). Dalang
kentrung tuwa dan tuna netra ini, mengentrung karena naluri dan berkah yang
diberikan Tuhan.
Sehari-hari Mbah Surati berprofesi sebagai petani ladang
kering di tepian hutan jati KPH Perhutani Jatirogo. Ia menggeluti kentrung
sejak usia 9 tahun. Kala itu ia nyantrik kentrung pada Mbah Sukilah. Mbah
Sukilah sebelumnya nyantrik kepada Ki Sumo Wage, asal Desa Bate. Ki Sumo Wage
sendiri belajar ngentrung dari Kiai Basiman, cikal bakal kentrung Bate, di zaman
penjajah Belanda.
Setelah Ki Sumo Wage meninggal, dalang kentrung digantikan
Mbah Sukilah. Sukilah yang menikah dengan Uripan memiliki empat anak, anak
pertama Surati. Dari Sukilah ini pula Mbah Surati mengenal kentrung.
Tak ada latihan khusus dalam mengentrung. Mbah Surati, setelah
enam tahun nyantrik tiba-tiba bisa menjadi dalang kentrung. Kejadian di usianya
ke 15 tahun itu berlangsung begitu saja.
“Setelah Mbok Sakilah, ibu saya wafat tiba-tiba ada wisik
(bisikan gaib) agar saya menjadi dalang kentrung,” ungkap Mbah Surati yang
sempat enam kali menikah, tanpa dikaruniai satu anak pun itu.
Sejak itu pula, Surati muda tiba-tiba bisa menjadi dalang.
Tak ada laku khusus untuk menjadi dalang. “Semuanya serba tiba-tiba,” ungkap
seniman tua yang tinggal berdua dengan Wiji, suaminya, di Desa Bate, Kecamatan
Bangilan, Tuban.
Kendati begitu, ia selalu galau ketika ingat tiadanya
penerus Kentrung Bate. Tak seorang pun mau menjadi panjak (pemain) kentrung. Bertahun-tahun merindukan datangnya
generasi penerus.
“Saya sudah sepuh, tinggal menunggu ajal. Siapa yang mau
menggantikan saya, saya tak rela jika kentrung Bate punah,” kata Mbah Surati. Diusapnya
tetes air mata dari matanya yang tak bisa melihat sejak 21 tahun silam.
Disisa akhir hidupnya, perempuan berpostur sedang ini, masih
tetap semangat menggeluti seni tradisi yang lebih bermakna kebajikan itu. Entah
sampai kapan profesi ini tetap berlangsung.
“Saya ingin menggeluti kentrung sampai mati, terkadang
pingin mati saat ngentrung,” ujar Mbah
Surati. (*)
0 komentar:
Posting Komentar