Rabu, September 14, 2011 | By: Rakai Pamanahan

“Saya Ingin Mati di Panggung Kentrung”


oleh : rakai pamanahan

Kentrung Bate seni tradisi asal Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Kabupaten Tuban, tak bisa terlepas dari Mbah Surati (90). Dalang kentrung tuwa dan tuna netra ini, mengentrung karena naluri dan berkah yang diberikan Tuhan.

Sehari-hari Mbah Surati berprofesi sebagai petani ladang kering di tepian hutan jati KPH Perhutani Jatirogo. Ia menggeluti kentrung sejak usia 9 tahun. Kala itu ia nyantrik kentrung pada Mbah Sukilah. Mbah Sukilah sebelumnya nyantrik kepada Ki Sumo Wage, asal Desa Bate. Ki Sumo Wage sendiri belajar ngentrung dari Kiai Basiman, cikal bakal kentrung Bate, di zaman penjajah Belanda.


Setelah Ki Sumo Wage meninggal, dalang kentrung digantikan Mbah Sukilah. Sukilah yang menikah dengan Uripan memiliki empat anak, anak pertama Surati. Dari Sukilah ini pula Mbah Surati mengenal kentrung.

Tak ada latihan khusus dalam mengentrung. Mbah Surati, setelah enam tahun nyantrik tiba-tiba bisa menjadi dalang kentrung. Kejadian di usianya ke 15 tahun itu berlangsung begitu saja.

“Setelah Mbok Sakilah, ibu saya wafat tiba-tiba ada wisik (bisikan gaib) agar saya menjadi dalang kentrung,” ungkap Mbah Surati yang sempat enam kali menikah, tanpa dikaruniai satu anak pun itu.

Sejak itu pula, Surati muda tiba-tiba bisa menjadi dalang. Tak ada laku khusus untuk menjadi dalang. “Semuanya serba tiba-tiba,” ungkap seniman tua yang tinggal berdua dengan Wiji, suaminya, di Desa Bate, Kecamatan Bangilan, Tuban.

Kendati begitu, ia selalu galau ketika ingat tiadanya penerus Kentrung Bate. Tak seorang pun mau menjadi panjak (pemain) kentrung. Bertahun-tahun merindukan datangnya generasi penerus.

“Saya sudah sepuh, tinggal menunggu ajal. Siapa yang mau menggantikan saya, saya tak rela jika kentrung Bate punah,” kata Mbah Surati. Diusapnya tetes air mata dari matanya yang tak bisa melihat sejak 21 tahun silam.

Disisa akhir hidupnya, perempuan berpostur sedang ini, masih tetap semangat menggeluti seni tradisi yang lebih bermakna kebajikan itu. Entah sampai kapan profesi ini tetap berlangsung.

“Saya ingin menggeluti kentrung sampai mati, terkadang pingin mati saat ngentrung,” ujar Mbah Surati. (*)

0 komentar:

Posting Komentar