oleh: rakai pamanahan
Satu demi satu, seni tradisi di wilayah Kabupaten Tuban menjelang ajal. Kentrung, Sandhur dan sederet
seni tradisi lain sudah mulai berguguran. Kini giliran Uyon-uyon yang
sudah ancang-ancang terkubur, akibat jarangnya hasrat perempuan muda menjadi Sindhen.
Uyon-uyon yang
dulu menjadi bagian pesta menyambut tamu resepsi pun sudah jarang terdengar.
Mereka kalah dengan pentas organ tunggal dengan sederet biduanita seronok. Tak
lupa dengan bekal joget yang menyerempet nilai sahwati. Tanpa harus berbekal
keahlian tersendiri dalam olah vokal laiknya biduanita kondang dan ternama.
Sindhen
merupakan vokalis dari pertunjukan Uyon-uyon dan pemen-tasan wayang. Tragisnya lagi, peminat belajar Nyindhen
kini kalah dengan hasrat perempuan muda di Tuban menggeluti seni Warang-gono.
Waranggono—warga Tuban menyebut Sindir—sendiri merupakan bagian penting
dari pemen-tasan seni tradisi Tayuban.
Saking sulitnya mencari Sindhen,
setiap kali terjadi pementasan Uyon-uyon dan wayang mesti mendatang-kan Sindhen
dari luar daerah. Diantaranya, dari daerah Blora dan Pati (Jateng) dan Nganjuk
dan Blitar.
“Kalau dihitung sejak awal tahun 1990-an,
kami sudah kesulitan mencari Sindhen di Tuban,” kata Eko Kasmo (41),
dalang wayang kulit yang ditemui di
rumahnya di Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Tuban. Pelaku seni tradisi ini
setiap ada tanggapan selalu pesan Sindhen dari Blora atau Nganjuk.
Kondisi tersebut, menurut Eko Kasmo, tak
lebih dari terjadinya pergeseran hasrat perempuan terhadap seni yang sarat
pesan moral tersebut. Perempuan seniman muda lebih memilih menggeluti seni lain
yang lebih mudah, tanpa harus memeras otak untuk mematangkan profesinya. Lebih
dari itu memilih yang mudah mendatangkan rupiyah daripada menjiwai seni warisan
leluhur yang harusnya diuri-uri.
Seorang Sindhen senior Tuban,
Suwarni, menyatakan, kelangkaan Sindhen di daerah Tuban akibat
mero-sotnya minat perempuan menggeluti profesi Sindhen. Mereka lebih berminat
menjadi Sindir dengan honor besar dibanding Sindhen.
“Kondisinya memang seperti ini, sekarang
setiap ada pentas Uyon-uyon selalu kesulitan mencari Sindhen,”
kata Bu Warni, sapaan akrabnya, saat ditemui di rumahnya di kawasan Kelurahan
Latsari, Kecamatan Kota, Tuban.
Menggeluti seni Sindhen tak semudah
menggeluti seni olah vokal lainnya. Genre seni ini butuh ketela-tenan dan skill
lebih. Apalagi untuk pementasan seni Wayang Kulit yang dipandu dalang besar dan
ternama. Tak jarang pula penggemar Uyon-uyon acap meminta
gending-gending lama yang memiliki gatra gamelan khas.
Prinsipnya, di samping menguasai
syair-syair gending, seorang sindhen dituntut menguasai laras dan irama
gamelan. Disinilah khas dan sulitnya menggeluti profesi Sindhen. Dan
hanya yang memiliki talenta kuat dalam seni tradisi ini yang mampu melakukan
dan menggelutinya.
Benar kata Bu Warni. Honor Sin-dhen
sekali pentas karawitan atau wayang tak lebih dari Rp 350 ribu hingga Rp 500
ribu. Sedangkan Waranggono dalam setiap perhelatan Tayuban minimal
bisa menaguk bayaran Rp 1 juta.
Ditemui terpisah di kantornya, Sutardji,
Kasi Seni Budaya Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, tak menolak terhadap
kondisi terse-but. Menurutnya, di samping jarang generasi muda di Tuban yang
berminat menggeluti seni Sindhen, karawitan atau Uyon-uyon
telah kalah pementasan organ tunggal atau karaoke.
Apalagi untuk mendatangkan Karawitan atau Uyon-uyon,
biayanya relatif mahal. Sebab, satu kelompok karawitan butuh nayogo
(penabuh gamelan) sekitar 15 orang dan ditambah Sindhen paling tidak
minimal tiga atau empat orang.
Data di Dinas Perekonomian dan Pariwisata
Tuban menyebut, saat ini hanya tersisa 15 Sindhen di Tuban, mayoritas
berusia tua. Sudah begitu jarang menerima tanggapan. Sedangkan untuk Wa-ranggono
di Tuban hampir setiap bulan bermunculan pendatang baru.
Sebelum era tahun 1990-an hampir setiap
kecamatan di Tuban ada minimal lima kelompok kara-witan. Masing-masing kelompok
ada minimal empat atau lima Sindhen.
“Sekarang sudah sulit mene-mukan kelompok Uyon-uyon
di Tuban,” demikian ungkap Sutardji. (*)

0 komentar:
Posting Komentar