Selasa, September 13, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Uyon-uyon Tuban Diambang Ajal ::

oleh: rakai pamanahan

Satu demi satu, seni tradisi di wilayah Kabupaten  Tuban  menjelang ajal. Kentrung, Sandhur dan sederet seni tradisi lain sudah mulai berguguran. Kini giliran Uyon-uyon yang sudah ancang-ancang terkubur, akibat jarangnya hasrat perempuan muda menjadi Sindhen.

Uyon-uyon yang dulu menjadi bagian pesta menyambut tamu resepsi pun sudah jarang terdengar. Mereka kalah dengan pentas organ tunggal dengan sederet biduanita seronok. Tak lupa dengan bekal joget yang menyerempet nilai sahwati. Tanpa harus berbekal keahlian tersendiri dalam olah vokal laiknya biduanita kondang dan ternama.


Sindhen merupakan vokalis dari pertunjukan Uyon-uyon dan pemen-tasan  wayang. Tragisnya lagi, peminat belajar Nyindhen kini kalah dengan hasrat perempuan muda di Tuban menggeluti seni Warang-gono. Waranggono—warga Tuban menyebut Sindir—sendiri merupakan bagian penting dari pemen-tasan seni tradisi Tayuban.

Saking sulitnya mencari Sindhen, setiap kali terjadi pementasan Uyon-uyon dan wayang mesti mendatang-kan Sindhen dari luar daerah. Diantaranya, dari daerah Blora dan Pati (Jateng) dan Nganjuk dan Blitar.

“Kalau dihitung sejak awal tahun 1990-an, kami sudah kesulitan mencari Sindhen di Tuban,” kata Eko Kasmo (41), dalang wayang kulit yang ditemui  di rumahnya di Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Tuban. Pelaku seni tradisi ini setiap ada tanggapan selalu pesan Sindhen dari Blora atau Nganjuk.

Kondisi tersebut, menurut Eko Kasmo, tak lebih dari terjadinya pergeseran hasrat perempuan terhadap seni yang sarat pesan moral tersebut. Perempuan seniman muda lebih memilih menggeluti seni lain yang lebih mudah, tanpa harus memeras otak untuk mematangkan profesinya. Lebih dari itu memilih yang mudah mendatangkan rupiyah daripada menjiwai seni warisan leluhur yang harusnya diuri-uri.

Seorang Sindhen senior Tuban, Suwarni, menyatakan, kelangkaan Sindhen di daerah Tuban akibat mero-sotnya minat perempuan menggeluti profesi Sindhen. Mereka lebih berminat menjadi Sindir dengan honor besar dibanding Sindhen.

“Kondisinya memang seperti ini, sekarang setiap ada pentas Uyon-uyon selalu kesulitan mencari Sindhen,” kata Bu Warni, sapaan akrabnya, saat ditemui di rumahnya di kawasan Kelurahan Latsari, Kecamatan Kota, Tuban.

Menggeluti seni Sindhen tak semudah menggeluti seni olah vokal lainnya. Genre seni ini butuh ketela-tenan dan skill lebih. Apalagi untuk pementasan seni Wayang Kulit yang dipandu dalang besar dan ternama. Tak jarang pula penggemar Uyon-uyon acap meminta gending-gending lama yang memiliki gatra gamelan khas.

Prinsipnya, di samping menguasai syair-syair gending, seorang sindhen dituntut menguasai laras dan irama gamelan. Disinilah khas dan sulitnya menggeluti profesi Sindhen. Dan hanya yang memiliki talenta kuat dalam seni tradisi ini yang mampu melakukan dan menggelutinya.

Benar kata Bu Warni. Honor Sin-dhen sekali pentas karawitan atau wayang tak lebih dari Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu. Sedangkan Waranggono dalam setiap perhelatan Tayuban minimal bisa menaguk bayaran Rp 1 juta.

Ditemui terpisah di kantornya, Sutardji, Kasi Seni Budaya Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, tak menolak terhadap kondisi terse-but. Menurutnya, di samping jarang generasi muda di Tuban yang berminat menggeluti seni Sindhen, karawitan atau Uyon-uyon telah kalah pementasan organ tunggal atau karaoke. 

Apalagi untuk mendatangkan Karawitan atau Uyon-uyon, biayanya relatif mahal. Sebab, satu kelompok karawitan butuh nayogo (penabuh gamelan) sekitar 15 orang dan ditambah Sindhen paling tidak minimal tiga atau empat orang.

Data di Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban menyebut, saat ini hanya tersisa 15 Sindhen di Tuban, mayoritas berusia tua. Sudah begitu jarang menerima tanggapan. Sedangkan untuk Wa-ranggono di Tuban hampir setiap bulan bermunculan pendatang baru.

Sebelum era tahun 1990-an hampir setiap kecamatan di Tuban ada minimal lima kelompok kara-witan. Masing-masing kelompok ada minimal empat atau lima Sindhen.

“Sekarang sudah sulit mene-mukan kelompok Uyon-uyon di Tuban,” demikian ungkap Sutardji. (*)

0 komentar:

Posting Komentar