Rabu, Juli 13, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Yuliati ::

Oleh : Rakai Pamanahan

Sudah lebih tiga jam perempuan muda itu terlihat gelisah. Sendiri duduk di bangku panjang. Sesekali matanya menatap ke depan mengamati penumpang yang ke luar dari pintu kedatangan di Bandara Internasional Chek Lap Kok, Hongkong. Jaket krem tebal membalut tubuhnya untuk mengusir dingin sisa gerimis awal pagi.

Tabloit edisi terbaru berbahasa Indonesia terbitan negara bekas koloni Inggris itu, telah rampung dia simak. Sesekali dia keluarkan telepon seluler dari kantong celana jean-nya yang belel. Serangkaian kontak melalui Black Berry yang dia lakukan terhadap nomor telepon tertentu tak membuahkan hasil.

“Harusnya tak sampai pukul 14.00, dia  sudah mendarat,” gumam perempuan berpostur sedang itu, sembari melirik jam tangan bermerk yang melilit lengan kirinya.

Entah untuk kali keberapa ia berdiri dan kemudian duduk lagi. Sesekali kakinya melangkah mengitari tempat duduk di ruang tunggu. Sekadar melepas rasa penat yang merajam pikirannya. Perempuan berkulit bersih itu kembali duduk di dekat tas punggung  yang tergolek di bangku.


Di samping kiri tas warna hitam itu, tergeletak seikat kembang mawar merah terbungkus plastik transparan. Kelopak mawar yang mekar mengirim aroma wangi. Di pungutnya bunga itu lalu diciumnya dalam-dalam. Bagai mencium aroma rasa yang tersimpan di dalamnya. Sang perempuan kembali tersenyum meletakkan bunga dengan hati-hati.

Dia keluarkan botol air mineral. Diteguknya perlahan air yang tinggal menyisakan separo botol ukuran setengah liter itu. Tak lama kemudian dia masukkan kembali ke dalam tas.

Lagu-lagu berbahasa Inggris yang disetel pengelola bandara tak lagi menarik. Padahal sederet lagu yang dilansir kisaran awal tahun 2000 itu, merupakan lagu kenangan semasa tinggal Indonesia, tepatnya di Desa Ngale, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten  Madiun, Jawa Timur. Desa tempat kelahirannya yang dia tinggalkan demi merubah nasib sejak 11 tahun silam.

Rasa gelisah yang kian membelit batinnya tiba-tiba terurai, setelah muncul pengumuman dari Bandara Chek Lap Kok yang menyebut, “Pesawat Cathay Pacific dengan nomor penerbangan CP-974 HK dari Singapura terlambat mendarat masalah cuara buruk.”

Cuaca kala itu memang ekstrim. Sesekali datang badai yang disertai hawa dingin. Tak hanya saat itu, serangkaian keterlambatan kedatangan pesawat adalah hal biasa, di dunia penerbangan. Dan hal itu berlaku untuk bandara mana di belahan bumi. Apalagi disaat anomali cuaca dan tak menentu seperti yang terjadi belakangan.

Pengumuman yang disampaikan melalui suara merdu perempuan lewat pengeras suara itu, dia anggap sebagai masalah baru. Apalagi orang yang dinanti kehadirannya telah dia anggap sebagai belahan jiwa. Sekalipun ada kegalauan menyeruak di ceruk batinnya yang paling dalam.

Perempuan berwajah lumayan ayu itu merunduk. Dihempaskan tubuhnya di sandaran bangku panjang. Bangku itu tak protes sekalipun dihempas pantat tebal sang perempuan.  Dipandanginya lantai ruang tunggu yang bersih. Kotak-kotak ubin ukuran 50 Centimetar persegi itu dia pandangi dengan beragam gejolak yang mengiringi batinnya.  

Bagai cermin hidup, lantai keramik putih kecoklatan itu memunculkan wajah Hartono. Lelaki yang ditunggunya. Seorang pria yang menepati janji untuk hidup bersama di negeri seberang. Seorang pria kelahiran Kota Buaya yang dia kenal setahun lalu melalui jejaring sosial Facebook yang telah memikat hatinya.

Angin kencang menerobos ruang tunggu. Gugusan awan yang semula terpisah-pisah, mulai menyatu mengikuti arah angin. Di sudut langit Hong Kong International Airport matahari sembunyi dibalut awan.  Setitik air langit mulai luruh. Perlahan, rintik-rintik. Tak sampai 15 menit, hujan pun tumpah setelah sederet guntur menyalak kaki langit.

Hawa dingin kian menggigilkan raga. Perasaan sang perempuan mulai tak menentu. Bergolak batinnya antara berharap dan penyesalan. Benarkah keputusan yang dia ambil? Pertanyaan besar itu menggigirkan sudut nuraninya yang paling dalam.

Bayangan wajah Hartono kembali muncul. Selarik senyum ke luar dari sudut bibirnya.  Serupa dengan senyum yang menemani kesepian hati di malam-malam panjang tanpa jeda. Disaat keduanya saling menatap melalui media internet,  Yahoo Mesenger. Di  fasilitas sosial itu pula mereka saling mengikat janji. Untuk meniti mimpi bersama dalam suka maupun duka.

Terkadang mereka saling dekap. Saling belai meski lewat imajinasi semata.  Dan tak jarang mereka mendedah asmara laiknya kisah Rama dan Shinta. Yang merenda kasih di padang savana tanpa selembar benang. Rasa lelahpun menghantar mereka terlelap dalam buaian mimpi hingga ujung malam.

Ramai suasana bandara tak lagi mengusik. Celoteh orang-orang berbahasa Kanton dan Hokian tak lagi menggoyahkan lamunannya. Terlebih setelah tiba-tiba bayangan wajah emaknya muncul mengganti wajah Hartono. Perempuan tua yang pada 11 tahun silam terakhir dia temui. Wanita yang meninggal dua tahun lalu, karena sakit sesak nafas menahun yang menderanya.

Teringat pula akan pesan almarhum Emaknya disaat dia akan berangkat ke luar negeri sebagai Buruh Migrant Indonesia (BMI) di Hongkong. Masih terngiang pesan perempuan yang melahirkan dan merawatnya.

“Yul, kamu Mak ijinkan kerja dimanapun. Mak hanya pesan, jangan pernah merebut suami orang,” kata Sujinah kepada Yuliati, sebelum anaknya melangkah ke luar pintu rumah, pada medio pertengahan tahun 2000 silam.

Perempuan kerempeng yang sesekali terbatuk-batuk ini, sangat mafhum terhadap sikap anaknya. Seorang gadis yang memiliki sikap keras, siapapun tak sanggup mengerem jika punya kemauan. Meski begitu, kesukaannya terhadap dunia tulis menulis, cukup mengurangi temperamental sikapnya.

“Iya, Mak,” jawab sang anak yang telah menganggur setahun setelah tamat SMA.

“Cukup Emak saja yang mengalami, rasanya sangat sakit Nduk, kalau suami direbut orang. Apalagi harus membesarkan dua anak, seperti kamu dan adikmu,” tambah Sujinah sembari mengusap buliran air bening yang mengalir dari sudut mata lamurnya.

Sujinah memang tangguh. Perempuan menyimpan rapat rasa sedih ini, tak lagi mampu membendung  tangis. Di dekapnya si sulung erat-erat, seakan tak ingin terlepas lagi. Bagai ada simbul yang hanya dirasakan Sujinah, jika kala itu merupakan pertemuan terakhir dengan anaknya. Diciumi wajah anaknya yang juga berderai airmata, bagai mencium kehidupannya sendiri.

Perempuan petani tangguh yang diwarisi 3 hektar sawah oleh orangtuanya itu, harus  hidup sendiri membesarkan dua anaknya. Saat itu Yuliati masih duduk di bangku kelas 2 SD di desanya. Sementara adiknya, Yupiarni, baru berumur dua tahun.

Sedangkan Muhtarom, suaminya, kabur karena terjerat gendam seorang perempuan penghuni kompleks pekerja seks komersial di kawasan Desa Gude, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun. Muhtarom dan Yayuk, sang perempuan penghibur, akhirnya menikah setelah setahun hidup serumah di komplek pelacuran Gude.

Pada akhirnya, pasangan tanpa dikaruniai anak itu membuka warung nasi di tepi jalan raya di kawasan hutan jati Watu Jago. Wilayah hutan yang disana-sini telah meranggas  yang menghubungkan wilayah Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Bojonegoro.  Tanah yang ditempati pun hanya sepetak karena Muhtarom termasuk petani penggarap lahan hutan Perhutani.

Bayangan wajah Sujinah yang semula tersenyum perlahan menjadi murung. Wanita yang paling berjasa dalam hidup Juliati itu mulai merengut (cemberut). Secara perlahan namun pasti pula, matanya melotot. Bagai memendam amarah kepada anaknya. 

“Maafkan aku Mak, aku terlanjur membuat janji dengan Mas Hartono,” kata Yuliati di dalam batin.

Perempuan yang gigih mengejar apa yang diinginkan itu, kini terjebak dalam lautan dilema. Di satu sisi dia dibayang-bayangi pengalaman ibunya. Ia pun teringat, jika di tengah malam ibunya suka menangis di kamar yang biasa dipakai sholat.

Pernah pula dia terbangun dari tidur karena kebelet pipis (ingin kencing). Disaat melintas kamar tempat ibadah ia mendengar doa yang diucapkan ibunya yang masih mengenakan kain rukuh. “Duh, Gusti Alloh, berilah kekuatan pada hambamu agar mampu membiayai kedua anak saya. Berilah perlindungan kepada kedua anak saya.” 

“Ohhh.. Emak, ampunkan dosa-dosa saya,” guman Yuliati.

Perempuan muda ini masih larut dalam pikirannya sendiri. Di bandara yang terletak di pulau Chek Lap Kok, bandara yang dibuka sejak 1998 itu bagai kuburan dari kalut pikirannya.  Sesekali ia tersenyum sendiri. Sesekali ia mengusap air bening di pipinya.

                                                                        ****

Malam baru beranjak ke peraduan, ketika Yuliati baru lepas dari kerja mencuci piring dan peralatan makan lainnya. Di tempat majikannya di kawasan Kowloon, ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Di aparteman itu, ia sehari-hari mengepel lantai, membersihkan kamar mandi dan menyetrika pakaian. Termasuk pula memasak untuk makan pagi dan malam majikannya.

Praktis setelah urusan kerja yang biasa dia lakukan tak sampai tiga jam di siang hari itu, ia menganggur. Kegemarannya membaca dan menulis sajak, menjadikan otaknya terasah. Dengan gaji yang diterimanya ia mulai bisa membeli note book.  Ia pun mulai mengenal jejaring sosial facebook. Bahkan dari perkenalannya dengan teman-teman penghobi menulis, ia pun mulai menikmati liburannya di hari Minggu. Ia berkumpul dengan sesama BMI pegiat tulis menulis. Sesekali kelompoknya mengundang wartawan lokal Hongkong untuk berdiskusi.

Bakat menulis yang dimiliki Yuliati sejak di bangku SMP itu, mengantarkan tulisannya menembus tabloit dan majalah berbahasa Indonesia terbitan Hongkong.  Awalnya hanya naskah bergenre sajak dan cerpen. Pada perkembangannya setelah ada kesempatan ia pun mulai menggeluti reportase. Jadilah Yuliati sebagai jurnalis lepas di media tabloit bulanan.

Ketika keluarga majikannya yang bekerja sebagai staf ahli pabrik elektronik tidur, ia kembali ke dunianya. Dunia maya. Ranah tempat Juliati mengasah karya. Disitu pula ia dikenal publik maya dengan nama Joeli Hou Seng. Nama pena itu pula yang mengantarkan dirinya sebagai BMI yang prigel menulis.

Dengan nama itu pula sejumlah buku antologi puisi, cerpen dan noveletnya terbit. Sekalipun sebenarnya, dia dan sejumlah kawannya sekadar menulis. Sedangkan proses editing dan terbitnya diserahkan kepada wartawan di Indonesia yang mereka kenal melalui jejaring sosial tersebut.

Dan melalui facebook itu pula ia mengenal Hartono. Dari pria krisis identitas itulah ia bersandar. Sekalipun awalnya hanya sebatas konsultasi masalah karya reportase. Akan tetapi setelah lebih dari 3 bulan berlalu, diantara keduanya mulai muncul rasa suka. Handoko yang mantan playboy semasa kuliah, kambuh penyakit lamanya. Lelaki doyan main perempuan dan merayu itu akhirnya menemukan sandaran.

Bagai kendang bertemu gong, mereka pun bertaut menarikan kidung-kidung asmara. Bila malam memasuki pukul 22.00 mereka mulai bertemu. Di dunia maya itu pula, mereka saling terbuka. Awalnya membuka rasa, namun sering kali saling buka baju untuk saling memagut sukma di akhir diskusi panjang. Mereka pun laiknya suami istri yang hanya dibatasi jarak.

Saiyang, kakiku sakit. Tadi siang terpeleset saat membersihkan kamar mandi,” kata Yuliati kepada Hartono disaat mereka bertemu di facebook. Yuliati biasa menyapa kekasihnya dengan sebutan Saiyang, sebagai ungkapan rasa sayangnya kepada Hartono.

“Mungkin terkilir Hun.  Sini biar kuurut,  ya,” jawab Handoko yang menyebut Hun (berasal dari kata honey) untuk menyebut kekasihnya.

Mereka pun saling canda. Pada wilayah imajinasi yang kental berahi, Hartono pun memijiti kaki kiri kekasihnya. Sesekali terdengar pula erangan dan rintihan mesra Yuliati. Seakan sang suami memijiti kaki istrinya yang terkilir. Dan malam pun berlalu dengan penuh kemesraan.

Mereka saling dekap. Saling raba. Hingga hujan deras di luar ruang tidur Yuliati tak lagi menggigilkan raganya. Keringatpun mulai membasahi sekujur tubuhnya. Kontak batin yang dituang dalam asmara kian menggebu. Selepas lingga dan yoni (alat reproduksi pria dan wanita) mereka bertemu di lapak perjamuan asmarandana. Di dunia maya.

Sedangkan Hartono yang berada di bilik warnet di sudut kota Semarang pun kebat-kebit batinnya. Tangannya meraba-raba pahanya, lelaki yang tengah dimabuk asmara itu kian bergairah. Nafasnya memburu. Sukmanya bagai terbang membawa separuh nafasnya ke kamar Yuliati.

Suara dehem temannya yang ada di samping bilik tak lagi digubrisnya. Hatinya tak lagi bisa dipisah. Raganya pun bagai telah menjadi milik Yuliati.

Bagi Yuliati, Hartono adalah pria yang paling berjasa dalam karirnya sebagai penulis. Sedangkan bagi Hartono, Yuliati adalah perempuan yang selama ini dicarinya. Bersama perempuan yang belum pernah dia temui secara nyata itu, ia kembali bangkit kepercayaannya. Terlebih saban bulan rekening bank-nya juga mulai diisi oleh Yuliati. Meski sekadar Rp 500 ribu hingga Rp 750 ribu, terkadang sampai Rp 1 juta lebih jika Hartono membutuhkannya.

Saiyang, aku sudah ihlas menerima dirimu apa adanya. Tapi aku tak mau jika menjadi istri kedua, atau kau nikahi secara siri pun aku tak mau,” rengek Yuliati.

“Aku juga tak mau berpisah denganmu, Hun,” jawab Hartono. Sangat meyakinkan!

Kemesraan demi kemesraan telah mereka lalui, meski masih sebatas di dunia maya. Raga mereka memang tak bertemu, namun batin mereka telah menyatu. Bagai perdu di belantara yang bertemu dengan gelombang di lautan.

Sekalipun Hartono sejak awal telah mengaku, jika dirinya telah berkeluarga dengan dua anak. Yuliati pun bisa menerima kondisi kekasihnya yang telah berkeluarga.

Dalam batin Yuliati tetap menolak jika disebut merebut Hartono dari Titin Suprihatin, istrinya. Namun, karena Hartono sendiri memulai hingga dirinya juga larut dalam buaian. Lebih dari itu Yuliati meyakini, pertemuan dengan pria itu memang telah menjadi takdir alam.

Sementara Hartono yang berprofesi sebagai wartawan dengan kemampuan menulis pas-pasan, tak lagi mampu menaguk rupiyah dari tulisannya. Apalagi pria asal Surabaya itu, tak lagi bekerja pada media besar karena tertimpa imbas rasionalisasi di medianya.

Gaya hidup yang glamor semasa menjadi wartawan yang dekat dengan pejabat, tak bisa dia tinggalkan setelah tak lagi memiliki media massa jelas. Praktik kolusi yang akrab menyertai jejak profesinya tak bisa ditinggalkan, hingga akhirnya memilih lari dari tanggung jawab terhadap keluarganya.

Istrinya kelahiran Semarang yang penurut kental dengan kultur Mataraman, hanya bisa nrimo  (pasrah) terhadap perlakuan suaminya. Titin hanya menangis dan pasrah ketika suaminya malayangkan gugatan cerai. Baginya kepasrahan adalah bagian dari perlawanan batin seorang wanita.

Ia tak pernah membantah perkataan suaminya, karena baginya sang suami bukan sekadar pendamping hidup. Lebih dari itu suami adalah pemimpin. Dan apapun pola kepemimpinan yang dipakai sang suami harus diterima dengan legawa (ihlas). Karena itu pula ketika Hartono jarang pulang dengan berbagai alasan tak pernah dia persoalkan.

Sebenarnya lelaki berperforma sedang ini, telah merasa tak memiliki harga di hadapan keluarga istrinya. Jangankan membelikan susu bagi anaknya, untuk membeli sebatang rokok pun ia tak bisa rutin setiap hari. Hari-harinya dia isi berkumpul dengan kawan seprofesi di salah satu organisasi kewartawanan. 

Sesekali mengirim naskah ke koran, tabloit atau majalah yang menerima naskahnya. Daya serap naskahnya di media massa pun sangat lemah, sehingga tak lagi bisa diharapkan untuk menghidupi keluarganya.

Untungnya Titin yang sarjana ekonomi dari salah satu perguruan tinggi di Semarang itu bekerja di perusahaan swasta. Meski secara ekonomi pas-pasan ia masih bisa menghidupi kedua anaknya. Lebih diuntungkan lagi, ia masih hidup serumah dengan orangtuanya. Dan pilihan menerima perceraian juga bagian dari saran orangtuanya. Mereka tak tega melihat nasib anak perempuan satu-satunya dari tiga saudara itu. 

                                                                         ****

Perselingkuhan suaminya di dunia maya menjadikan Titin gelisah. Saban malam jika suaminya ke luar pikirannya tak tenang. Mata batinnya sebenarnya tahu, jika pria yang telah memberinya dua anak itu telah tidak setia. Batinnya tak bisa dibohongi, jika lelaki yang dia kenal di salah satu kegiatan amal di saat banjir di Semarang bawah itu, telah berpaling. Ia pun mulai melacak dan menghubungi teman suaminya.

Adalah Hendri, teman seprofesi suaminya yang dia temui di saat istirahat kerja. Dari Hendri yang dulu kakak tingkatnya di kampus itulah, Titin tahu jika Hartono telah menjalin hubungan asmara dengan seorang BMI di Hongkong. Dari Hendri pula ia tahu, jika Hartono saban bulan telah dikirimi duit. Bahkan juga dikirimi pakaian, hand phone (HP) dan perangkat lain sesuai permintaannya.

Ketidaktenangan yang menimpa Titin, tak luput dari pengamatan kedua orangtuanya. Orangtua Titin yang semula telah menganggap anak sendiri kepada Hartono perlahan berubah. Mereka mulai enggan menyapa Handoko. Tak ada lagi ngobrol santai antara menantu dan mertua.

Kebanggaan mertua bermenantu seorang jurnalis pun mulai runtuh. Kalaupun hingga kini mereka masih menerima  kehadiran Hartono, tak lebih dari pertimbangan telah ada dua cucu. Selebihnya tak ada lagi rasa bangga terhadap dirinya. Justru rasa benci mulai meliar di lubuk hati keluarga sederhana, yang secara turun-temurun,  tak mengenal istilah pengkhianatan terhadap lembaga pernikahan.

Terlebih setelah Titin mengungkapkan, jika hati suaminya sudah berpaling. Meski belum dalam bentuk dunia nyata, namun telah menggoreskan luka di jiwa anaknya. Luka bukan sekadar luka, namun sebilah lara yang mencabik nurani paling dasar dari lembaran hati seorang Titin.

Dan kesabaran Titin pun tak lagi bisa dibendung. Disaat suaminya pulang dinihari, ia telah menunggu di ruang tamu. Dengan muka cemberut, masih sempat ia membukakan pintu begitu mendengar suara motor butut suaminya memasuki pelataran rumah.

“Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Mas,” tanya Titin begitu suaminya duduk di kursi ruang tamu.

“Tidak ada apa-apa, Dik,” jawab Hartono gelagapan. Tak biasanya istrinya yang penurut itu bertanya hal seperti itu.

“Mas tidak usah berkelit, aku tahu Mas berbohong. Jujurlah Mas, aku sudah pasrah pada nasib,” sergah Titin yang mulai bergetar rima suaranya. “Jika Mas sudah tidak sayang padaku tak apa-apa, tapi ingat anak-anak, Mas,” tambah perempuan yang kala itu tubuhnya dililit daster bermotif kembang hijau dan biru itu.

Hartono tak bisa berkata-kata. Lidah lelaki yang biasanya pandai berargumentasi itu tiba-tiba kelu. Tak sepatahpun kalimat ke luar dari bibirnya yang hitam karena asap rokok. 

Ia menyadari tak mampu berbuat banyak ungtuk menghidupi anak istrinya. Jangankan rumah kecil dengan pelataran depan ditumbuhi bunga, untuk membayar rumah kontrakan saja dia tak mampu. Hingga sejak tiga tahun terakhir menghuni pondok mertua indah.

Titin yang sudah tak sanggup lagi di-lerwa-kan (ditelantarkan) suaminya, mulai berani mengambil sikap. Apalagi setelah sebelumnya mendapat dukungan dari kedua orangtuanya. Dan orangtuanya pula yang menyanggupi akan merawat kedua anaknya, jika sampai terjadi perpisahan dari lembaga perkawinannya.

“Saya selama ini menurut apa kata Mas, karena Mas kuanggap sebagai imam dalam keluarga. Tapi kini Mas telah menyalahi komitmen, sekarang keputusannya kuserahkan kepadamu,” kata Titin.

Entah angin apa yang membawa ruh Titin, hingga dirinya memiliki keberanian berbicara seperti itu. Padahal sebelumnya, setiap hari ia adalah wanita yang ngugemi (memegang) filosofi kuno; jika wanita itu ibarat swarga nunut neraka katut (ke surga hanya menumpang dan ke neraka ikut) terhadap suami.

“Silahkan kalau Mas, mau meneruskan berhubungan dengan perempuan di luar negeri itu. Biarlah kita mencari jalan hidup sendiri-sendiri, Mas tidak usah mikir anak-anak lagi. Biar mereka saya yang mengurusnya,” tegas Titin sambil menatap mata suaminya yang tak memiliki gairah perlawanan.

Hartono tak sanggup menatap mata istrinya. Perempuan  yang mendampinginya hampir 7 tahun itu, kini menjadi sosok yang demikian tangguh. Dirinya yang telah dirundung rasa bersalah tak lagi bisa berbuat apa-apa.

“Maafkan aku, Dik. Aku memang salah,” hanya itu yang terucap dari bibir Hartono.

“Aku sudah tidak lagi mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Tapi begitu Mas tega mengkhianati perkawinan, bagiku itu sudah tidak bisa dimaafkan, karena pasti akan terulang lagi,” jawab Titin. “Itu kan komitmen kita sebelum membina rumah tangga Mas. Jika ada salah satu diantara kita berkhianat, kita pisah,” tegas perempuan berkulit bening itu.

Hartono semula merengek, untuk kembali memperbaiki diri dan saling memaafkan. Namun, istrinya sudah tak lagi mempercayainya.

“Iya, Dik. Aku masih ingat komitmen itu. Dan aku pun siap menanggung akibatnya,” tegas Hartono.

Hartono pun berdiri meninggalkan ruang. Ia melangkah menuju kamar tidur, meninggalkan istrinya yang masih sesenggukan menahan tangis. Dibukanya pintu kamar, batinnya menangis melihat dua anaknya yang pulas tidur. Wajah mereka nampak bersih diterpa temaram lampu ruang yang redup.

Satu demi satu dibelai wajah anaknya. Diciumnya pipi kedua bocah tersebut. Perlahan air bening mengalir dari sudut matanya. Ia kembali ke ruang tamu, menemui istrinya yang masih duduk menekur memandang lantai. 

Kepada istrinya ia berkata, akan pergi dari rumah. Dibawanya tas berisi pakaian. Dan sebuah laptop yang dibelikan Juliati, kekasihnya. Suara muadzin (orang adzan) di surau kampung terdengar, sebagai penanda datangnya subuh.

Diangkat istrinya berdiri dari tempat duduk.  Dipeluknya perempuan yang selama ini menjadi belahan jiwanya. Perempuan yang menemaninya dalam suka dan duka, hingga kemiskinan yang belakangan menderanya. Dan Handoko kembali mengeluarkan motornya. Ia pun berlalu meninggalkan rumah mertuanya. Meninggalkan anak dan istrinya.

                                                                    ****

Selepas memasak dan mengepel lantai rumah majikannya,  Yuliati tengah menghadap laptop di kamarnya. Perempuan perfeksionis ini terlihat khusuk menulis naskah. Naskah features tentang kehidupan salah satu shelter yang biasa menampung BMI bermasalah.

Naskah bersambung tiga seri itu, lebih mengungkap kehidupan perempuan BMI yang tak beruntung. Mulai dipecat majikan karena masalah kinerja yang tak bagus, BMI yang over stay, habis kontraknya tak mau pulang karena berbagai pertimbangan hingga mereka tak tinggal di rumah majikannya, dan hingga BMI ilegal karena masa kontraknya habis namun kabur tak mau pulang ke tanah air.

Sedangkan seri terakhir yang dia tulis untuk tabloit yang juga diawakinya itu adalah tentang BMI yang dihamili pacarnya. Namun pacarnya menolak bertanggung jawab. Ia sempat menghuni shelter yang diurusi para aktivis buruh migran dan LSM yang peduli terhadap nasib BMI.

Pendalaman karya yang dia lakukan relatif apik. Apalagi Yuliati sebelumnya juga sebagai aktivis buruh migrant yang acap melakukan aksi bersama teman-temannya di Konsulat RI di Hongkong. Makin lengkaplah pemahaman dirinya terhadap problema BMI.

Serupa dengan karya-karya jurnalisme yang dilakukan sebelumnya. Siang itu Yuliati bermaksud melakukan konsultasi dengan Hartono. Kekasih dan sekaligus gurunya dalam bidang menulis berita. Setelah naskahnya rampung dia kirim ke email Hartono.  Seperti yang sudah-sudah, Hartono pun langsung mengkritisinya.

Saiyang, naskahku baru saja kukirim ke emailmu, tolong direvisi ya,” tulis Yuliati ke rumah pesan di facebook Hartono. “Revisinya gak pake lama, karena sore nanti mau kukirim ke redaksi,” tambahnya dalam pesan tersebut.

Hartono kala itu tampak belum online. Dan Yuliati pun langsung menelpon kekasihnya. Sayangnya telepon seluler lelaki pujaan itu juga tidak aktif. Entah sudah berapa kali ia mencoba mengulangi melakukan kontak, namun tetap saja belum tersambung. Kondisi ini tak seperti biasa.

“Mestinya jam segini dia sudah aktif HP-nya, ada apa dengannya ya pikiran saya kok tidak tenang seperti ini,” gumam Yuliati.

Ia pun ke luar masuk kamar di aparteman berlantai 12 di bilangan Kowloon itu. Seperti hari-hari yang lain rumah majikannya selalu kosong disaat pagi hingga petang. Majikannya, Lee Chan Ma dan Ny Leung Cindy Hwa, sehari-hari berprofesi sebagai pebinis piranti elektronik hidup berdua. Anaknya, Lee Poo Chan, sekolah di Amerika.

Praktis rumah itu baru dihuni pemiliknya setelah malam. Selama kosong itulah Yuliati bertanggung jawab menjaganya. Bahkan, setiap hari libur nasional kedua majikannya pesiar ke Amerika, sambil menunggui anaknya yang baru memasuki kelas 2  SMA. Saat seperti itulah apartemen seisinya keamanannya diserahkan sepenuhnya kepada Yuliati.

Sekira pukul 15.00, Yuliati baru bisa menghubungi Hartono. Dari telepon selulernya, Yuliati marah-marah.

“Kanapa HP saja dimatikan, SMS juga tidak kamu balas. Apa pulsa yang kukirim kemarin sudah habis,” teriak Yuliati.

Jika sudah begitu, Hartono hanya bisa diam. Dia hafal kelakuan Yuliati, jika dibantah malah meledak-ledak amarahnya. Itu tak berlangsung lama, karena sesaat kemudian Yuliati malah sesenggukan menahan tangis.

Hun, bukannya aku tak mengangkat telepon. Tapi sejak pagi tadi subuh HP aku cas. Ini aku juga baru bangun tidur,” kata Hartono menentramkan gelegak batin kekasihnya.

Saat itu pula kemelut rumah tangganya dia ungkapkan kepada Yuliati. Dia ungkapkan pula, keputusan berpisah dengan istrinya. Termasuk dirinya tak lagi tinggal serumah dengan istrinya. Kini ia tidur di rumah kos temannya.

Apa yang menimpa Hartono menjadikan Yuliati makin dekat. Mereka bahkan makin intensif melakukan komunikasi. Termasuk pula Yuliati meminta agar Hartono menyusul dirinya ke luar negeri.

“Saya akan menemui pimpinan saya di tabloit, agar menerima Saiyang sebagai karyawan.  Kan kita bisa berkumpul disini,” kata Yuliati beberapa hari berikutnya dalam komunikasi via jejaring sosial facebook kepada Hartono.

“Usahakan ya Hun, agar saya bisa kesana. Tapi setelah urusan perceraian saya di pengadilan rampung,” jawab Hartono. 

“Iya, Saiyang. Saya yakin pasti dikabulkan karena tabloit tempatku menulis butuh orang seperti Sampeyan (kamu),” sergah Yuliati.

Proses perceraian Hartono dan Titin Suprihatin pun mulai berjalan. Rangkaian persidangan, mulai biaya pengadilan, pengacara hingga beragam biaya lain Hartono  disuplai oleh Yuliati. Perempuan ini rupanya tak sekadar basa basi. Berapa pun dana yang diminta kekasihnya untuk keperluan perceraian dan biaya hidup anaknya dia kirim.

Bahkan, terlintas pula keinginan agar salah satu dari anak mereka bisa diasuh oleh Hartono. Yuliati kala itu ngotot agar Hartono menyewa pengacara agar bsia merebut salah satu dari dua anaknya.

“Saya ingin merawat dia, saya akan anggap anak kandung sendiri. Usahakan bagaimana caranya dan berapapun biayanya, Mas,” rengek Yuliati melalui telepon selulernya kepada kekasihnya.

Dia ungkapkan pula, dirinya tak mau disebut perempuan yang tak mengenal kasih sayang terhadap anak.  Dia pun tak mau dianggap merebut suami orang tanpa peduli terhadap nasib anaknya.

Sekira 4 bulan kemudian, putuslah tali pernikahan Hartono dan Titin Suprihatin. Majelis hakim Pengadilan Agama (PA) Semarang memutuskan mereka bercerai. PA menyerahkan hak asuh atas kedua anaknya kepada ibunya. Meski begitu amar putusan pengadilan juga menyebut, Hartono tetap berkewajiban menghidupi  kedua anaknya hingga mereka dewasa.

“Maafkan saya Dik, keputusan pengadilan tidak sesuai harapan kita,” kata Hartono usai menerima vonis dari pengadilan.

“Ya sudah Saiyang gak papa (tidak apa-apa), sekarang Sampeyan segera mengurus keberangkatan ke sini. Jangan terlalu lama membiarkan aku sendiri disini,” jawab Yuliati. 

Hari itu juga, Yuliati mentransfer dana kepada Hartono. Hartono diminta untuk segera mengurus Paspor dan berkas persyaratan lain untuk bekerja di Hongkong. Surat panggilan kerja yang ditandatangani Pimred tabloit di Hongkong pun telah dia terima. Semuanya atas skenario dan perjuangan yang dilakukan Yuliati.

Siang terasa terik ketika motor Hartono memasuki rumah bekas mertuanya. Ia bermaksud meminta maaf kepada kedua orangtua Titin. Sayangnya ia gagal bertemu kedua anaknya, karena mereka diajak kakek dan neneknya ke rumah kerabatnya di Kudus. 

Titin yang biasanya pulang ke rumah untuk makan siang pun tak tampak. Melalui telepon seluler Titin menyatakan, dirinya tak pulang karena ada kesibukan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

“Saya mau pamit, Dik. Saya akan kerja ke luar negeri. Maafkan saya, apapun kondisi kita saat ini, engkau adalah ibu dari kedua anakku,” kata Hartono melalui HP baru yang dikirim Yuliati tiga hari sebelumnya.

“Maaf Mas, saya sibuk. Mangga (silahkan) njenengan (Anda) pergi dan tak perlu meminta ijin saya karena kita sudah tidak ada hubungan apapun. Saya hanya pesan ingat tanggung jawab terhadap anak-anak,” demikian jawab Titin. Setelah itu hubungan telepon pun diputus oleh mantan istrinya.

                                                                           ****

Di bandara internasional Chek Lap Kok, hujan mulai menyisakan rinai gerimis. Yuliati masih larut dalam kemelut batin.  Bayangan wajah almarhum ibunya kian terlihat tegas. Perempuan yang susah payah menghidupinya itu, terlihat seperti berduka dan kecewa terhadap keputusan yang diambil anaknya.

Sesaat kemudian muncul pula wajah Yupiarni, adiknya yang saat ini kelas 2 SMP. Anak pendiam itu sekolahnya dibiayai Yuliati.  Ia dikenal sebagai sebagai siswa yang pandai, karena selalu dapat ranking I di sekolahnya.

Sepeninggalan ibunya, rumah orangtuanya ditunggui adik ibunya. Bulek  (Tante) Darsih pun menempati rumah peninggalan Muhtarom tersebut, setelah carai mati dari suaminya. Ia menghuni rumah itu bersama seorang anak perempuannya. Lain dari itu, Yupiarni juga pernah cerita jika belakangan ayahnya, Muhtarom, sesekali menengok adiknya.

“Doakan Mbakyumu (kakakmu) ini hidup bahagia ya, Yup,”  kata batin Yuliati.

Lamunan Yuliati pun buyar, ketika terdengar pengumuman dari petugas bandara, jika pesawat Cathay Pacific dari Singapura telah mendarat dengan selamat. Pesawat itu pula yang membawa belahan jiwanya dari tanah air ke Hongkong.

Ia pun berbenah diri. Disekanya airmatanya dengan kertas tissu yang diambil dari tas. Di keluarkan pula perangkat make-up. Dari kotak plastik itu dia ambil bedak, untuk memupuri wajahnya. Bekas guliran airmata mulai hilang, tertutup pupur tipis.

Tak lama kemudian, telepon selulernya berbunyi. Hartono begitu menjejakkan kaki ke bandara milik negeri bekas koloni Inggris itu, langsung menelpon kekasihnya.

“Saya sudah sampai Hun, kamu dimana?” kata Hartono begitu ke luar dari pintu kedatangan bandara.

“Aku sudah di depanmu, Saiyang,” jawab Yuliati dengan wajah sumringah (cerah).

Sesaat mereka saling pandang. Entah siapa yang memulai, tas punggung Hartono pun telah tanggal. Demikian pula Titin. Mereka saling berpelukan. Dikecupnya pipi Yuliati. Kecupan pertama yang dilakukan kekasihnya di dunia nyata. Bukan berdekapan dan saling pagut di dunia maya.

Airmata Yuliati tak bisa dibendung. Demikian pula Hartono yang tangan kanannya memegangi seikat mawar merah. Kembang yang diberikan Yuliati khusus untuk menyambut kedatangannya. Lelaki dewasa ini larut dalam keharuan. Baginya tak pernah terlintas dalam benaknya bisa bertemu dengan Yuliati. Apalagi bisa sampai hidup berdampingan secara nyata di negeri yang sekian ribu mil jauhnya dari tanah air. 

Taksi membawa mereka meninggallkan bandara. Di dalam taksi jemari mereka saling genggam. Setelah berputar-putar keliling kota Hongkong, taksi menuju kawasan Victory Park. Tak jauh dari lapangan dan taman itu pula, taksi berhenti di salah satu gang, di rumah kontrakan yang telah dipersiapkan Yuliati untuk Hartono. Dan mereka tak ke luar lagi dari rumah itu. (*)

 * Naskah ini dimuat bersambung di tabloit ROSE Hongkong. 

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Dibikin versi novelnya, ya cak.

Rakai Pamanahan mengatakan...

Maunya juga begitu Cak. Cuma belakangan repot banget, noto waktune sing angel banget iki.
Piye kabar sampeyan Cak Siwi?

Posting Komentar