Minggu, Juli 10, 2011 | By: Rakai Pamanahan

:: Pesan Dalam Sepincuk Nasi Bungkus ::

Oleh : Rakai Pamanahan

Semua bermula dari rasa lapar. Nasi bungkus pun mengirim kabar tentang haru biru emosi jiwa.


Dalam pranata sosial apapun kebutuhan baku dari orang hidup adalah makan. Bermula dari logistik itulah logika kehidupan berjalan. Warna perjalanan hidup pun selalu kental diwarnai asupan logistik.

Kepentingan perut itu pula yang menjadikan warna kehidupan demikian majemuk. Di sana juga tak pernah mengenal gengsi, karena di dalamnya memang tak harus ada gengsi. Tak ada pula hegemoni dalam ranah pemenuhan kebutuhan pokok, selain rasa lapar yang setiap saat menunggu segera dituntaskan.

Rasa lapar tak ada sangkut paut dengan status sosial. Pula tak berkorelasi dengan tingkat ekonomi maupun kultural. Termasuk juga tak ada hubungannya dengan jabatan politik, ekonomi maupun pendidikan. Yang ada hanya sebentuk kebutuhan untuk segera dipenuhi.

“Rasa lapar itulah yang sebenarnya menjadi awal dari segala problema siapapun,” tegas pelukis, Saeful Amin, ketika mendiskripsikan instalasi garapannya yang bertajuk Catatan Nasi Bungkus, dalam helat pameran lukisan bertajuk “Rupa Seni Rupa” di  Gedung  Budaya Loka Tuban, pada medio Juni 2011 lalu.

Secara tegas dalam catatan nasi yang dibungkus daun pisang dan dibalut sesobek kertas koran itu, Saeful Amin menitip pesan; “Karena aku, engkau berambisi. Karena aku,  kadang kau kehilangan nurani, dan karena aku, engkau terkucil sendiri.” Sebaris pesan yang dituangkan di atas gelaran tikar pandan itu, cukup mewakili keberadaan maupun status nasi bungkus  yang demikian penting.

Siapapun akan mafhum. Sekalipun dalam wujud nasi dalam bungkus daun dan kertas koran, akan tetapi sudah mewakili status sosial apapun bagi yang membutuhkannya. Sedangkan fenomena kebutuhan untuk memupus rasa lapar, terkadang sanggup meruntuhkan nilai-nilai sosial. Bahkan, mampu meluluhlantakan nurani dan perilaku kemasyarakatan yang kental nilai religi sekalipun.

Nasi bungkus tak mengenal sekat. Peruntukan nasi bungkus juga tak mengenal status sosial. Mulai gelandangan hingga kalangan borjuis pun akrab dengan panganan berbalut kesederhanaan itu.

“Karena nasi bungkus adalah teman sejati bagi siapapun,”  ungkap perupa kondang kelahiran Tuban itu. “Bahkan disaat gundah ia sanggup menawarkan beragam inspirasi,” tambah Saeful Amin.

Karya seni yang akrab dalam genre intalasi Catatan Nasi Bungkus ini tampak sederhana.  Sebungkus nasi yang dikemas dalam pincuk daun pisang dan kertas koran berukuran besar. Ikon pemenuhan rasa lapar yang bisa diapresiasi sebagai kosmos perhelatan itu, dikelilingi 200 pincuk nasi dalam ukuran kecil.

Di depannya tergelar selembar tikar pandan. Di atasnya terdapat kobokan (tempat mencuci tangan) dari tembikar. Fasilitas ini sebagai simbul bahwa nasi bungkus yang tersaji siap untuk menuntaskan rasa lapar siapapun. Tentunya sambil duduk-duduk di atas lembaran tikar pandan, seraya berkisah tentang proses tuntasnya rasa lapar. Gelarannya pun di lantai tanpa undakan, sebagai manifestasi kebersamaan tanpa memperhitungan status sosial.

Sedangkan bungkus kertas koran, bagi Saeful Amin, adalah sebentuk warta yang patut dikabarkan. Musti diakui jika informasi yang tertuang di atas kertas koran adalah catatan realitas hidup. Catatan kenyataan yang tak perlu lagi diragukan kebenarannya.

Melalui area pembungkus nasi itu siapapun bisa mendedahnya. Sekaligus bisa mereduksi kasunyatan sosial yang ada di dalamnya. Tentunya tentang kabar kemakmuran yang semu, tentang keadilan yang timpang, dan tentang kesetiakawanan yang  mulai dipudarkan perjalanan masa. 

Fenomena sosial yang tak lagi menjadi wacana itu sebagai bentuk kenyataan yang telah membumi. Siapapun dari strata sosial manapun, disadari atau tidak, telah memantik ketimpangan yang bermula dari rasa lapar tadi.

Dalam kondisi demikian sangat perlu mereunifikasi ajaran hidup yang kental kebersamaan, dalam berperilaku kemasyarakatan. Jangan sampai krisis etika dan religi ini kian meliar. Kita adalah bangsa yang lahir dari rahim jaman yang akrab kesetiakawanan.

Dan yang pasti nasi bungkus selalu datang dalam sebuah pesan. Terkadang membuat radang-radang akan geliat situasi yang tak pernah berhenti. Radang karena persepsinya  akan selalu mengiringi jaman. Sekaligus selalu menunggu, kapan engkau kembali untuk berjabat tangan. (*)

Naskah ini termuat di tabloit Gerbang Informasi, edisi Juli 2011.

0 komentar:

Posting Komentar