Selasa, Oktober 21, 2014 | By: Rakai Pamanahan

Tiga Budaya di Batik Tuban



Oleh : Rakai Pamanahan

BATIK bukan hal baru di tanah air. Hampir setiap daerah memiliki kerajinan berbahan selembar kain ini. Tak hanya di pulau Jawa, di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua pun ada kerajinan kental sentuhan lembut kaum hawa itu.

Jika dirunut kerajinan ini memiliki nilai histori. Nilai kultural, dan sosial yang menjadi legenda daerah mewarnai motif-motif batik. Motif yang tertuang di lembar kain itulah yang bisa menjadi ciri khas masing-masing daerah.

Demikian pula dengan batik Tuban. Sesungguhnya, kata Mbah Sukirah (65), pembatik dari Kerek, Kabupaten Tubab, Jawa Timur, batik Tuban yang khas berbahan kain Gedog. Kain jenis ini dihasilkan dari pemintal tradisional yang dulu ada di desa-desa di Bumi Ranggalawe.

Warga Tuban menyebut Gedok karena pemintal kain berbahan kapas ini selalu mengeluarkan bunyi dok, dok, dok. Sejak itulah kain dengan rajutan agak kasar itu disebut Gedok. Kain ini pula yang kemudian menjadi lahan menuangkan motif batik.

Sampai saat ini pun pemintal kain Gedok masih bertahan. Mereka bergulat dengan kemajuan teknologi pemintalan. Kendati begitu hingga kini mereka masih hidup seiring menggeliatnya batik secara nasional.

Batik Gedok Tuban, menurut Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Perekonomian dan Pariwisata Tuban, Sunaryo, merupakan bentuk akulturasi tiga kebudayaan yang pernah masuk daerah barat laut Jawa Timur. Yakni, kebudayaan Majapahit, Tiongkok (China), dan Islam.  

Ketiganya meninggalkan lacak di setiap motif batik di Tuban. Kultur Jawa yang masih kental dalam ornamen batik Tuban terwakili oleh motif bunga. Motif tradisional ini hampir dipergunakan pebatik di wilayah pulau Jawa.

Sedangkan pengaruh kultur Islam dalam batik Tuban terlihat pada motif bernuansa religius. Diantaranya, kijing miring, ada juga motif-motif ornamen di makam Sunan Bonang.

“Banyak juga gambar di piring yang ditempel di kompleks makam Mbah Bonang menjadi inspirasi batik di Tuban,” kata Rusfeni, pedagang batik di kompleks makam wali yang berada di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban kepada saya pekan kedua bulan Oktober 2014.  

Sementara untuk motif bernuansa Tiongkok, bisa ditemukan berupa burung Hong. Konon munculnya motif batik ini dibawa oleh pasukan Kubelai Khan. Secara historis kala itu sekira awal abad XII pasukan Tar-tar ini kalah berperang ketika menyerang Singasari. Tragedi di awal berdirinya Majapahit itu menyebabkan mereka kocar-kacir, hingga diantaranya bermukim di Tuban. Sebagian sisa pasukan itu berakulturasi dengan warga sekitar, sebagian lainnya tewas di Pantai Boom disergap rakyat Tuban di bawah pimpinan Adipati Rangalawe.

“Di Tuban sejak dulu tak ada burung Hong, kalau motif batik Tuban ada burung Hong-nya bisa jadi karena dibawa oleh sisa pasukan Tiongkok tersebut,” papar Sunaryo.

Pada perkembangannya akulturasi tiga budaya itu masih bertahan, seiring harmoni kehidupan masyarakat di sana. Tentunya termasuk lekatnya tiga unsur kultur tersebut dalam motif batik Tuban. Termasuk ketika pembatik menuangkan setetes warga di kain Gedok yang menjadi khas dari batik di wilayah ini.

Back to Nature

DI awal pembuatannya batik tidak mengenal bahan kimia. Warga dari sentra-sentra batik Tuban semula bertahan pada bahan alami mulai tergeser. Lumayan sulit menemukan perajin batik yang masih memakai bahan alam.

Saya pun menelusuri desa-desa sentra batik Tuban di wilayah Kerek, Merakurak, dan Kecamatan Semanding. Para perajin disana lebih memilih bahan kimia untuk mewarnai motif karyanya. Sekalipun teknis yang mereka lakukan dengan memainkan Canting, secara tradisional, namun unsur kimia kental di tangan mereka.

Penggunaan bahan pewarna alam untuk membatik sekarang sulit ditemui di Tuban. Perajin batik lebih memilih kimia yang tak butuh waktu lama untuk menghasilkan karya. Padahal dampaknya kualitas batik Gedok pun tak sebaik sebelumnya, disaat pembatik membuat pewarna tradisional dari bahan non kimiawi.

“Tidak ada, Pak, yang mau menggunakan pewarna dari daun, bunga atau kulit pohon untuk membatik,” kata Marfuah, perajin batik saat ditemui di Kerek, Tuban. “Kalau ada yang membuat bisa dihitung dengan jari,” tandas nenek tiga cucu tersebut.

Fenomena kembali pada alam belakangan didedikasikan para aktivis perempuan dari Koalisi Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban. Batik dengan bahan pewarna herbal, menjadi hal terbaru dalam khasanah perbatikan di Kota Seribu Goa ini.

“Batik berpewarna herbal memang berbeda dengan kimia,” kata Ketua KPR Tuban, Imanul Istofiana kepada saya saat mendampingi kelompok batik di Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Tuban awal bulan Oktober 2014 lalu.

Dari segi penyelesaian garapan, batik dengan bahan herbal relatif lebih lama. Jika bahan kimia selembar kain batik butuh sekali pencelupan untuk satu warna. Sedangkan kalau herbal satu pewarnaan butuh sampai sembilan kali pencelupan. Ini disebab bahan pewarnanya bukan sintetis.

Pengembangan bahan alami ini diambil dari daun dan bunga-bunga yang ada di sekitar permukiman warga. Hampir semua pepohonan maupun bunga yang menjadi bisa dipakai untuk pewarna. Memang  proses pembuatannya lebih rumit, dan butuh ketelatenan lebih.

Di lain sisi faktor dukungan iklim juga berpengaruh terhadap kualitas batik berbahan herbal. Disaat musim kemarau kualitas batik akan lebih bagus, karena penjemurannya mengandalkan terik matahari.

Dalam kondisi normal untuk menjadikan selembar batik berbahan sintetis, hanya butuh waktu tiga hari. Lain halnya dnegan batik herbal, butuh waktu dua pekan untuk merampungkan selembar kain batik herbal. Itu pun harus jika musim kemarau benar-benar terik.

Dari sisi harga jual pun berbeda. Untuk jenis batik Gedok atau batik lain dengan bahan kain mori (bukan sutera) di pasaran sekitar seharga Rp50.000 hingga Rp150.000 per lembar. Sedangkan untuk batik herbal bisa mencapai Rp350.000, hingga menembus Rp1,5 juta.

Fenomena batik berbahan alam (herbal) kini mulai dilirik. Tak jarang komunitas pembatik herbal dampingan KPR kewalahan melayani pesanan.

Yang pasti tanpa disadari para perempuan aktifis ini telah membangkitkan kembali kejayaan batik Gedok yang telah rapuh digerus jaman. Tentunya bukan batik berbahan kimia yang sekarang beredar di pasaran, namun batik herbal yang kini menjadi pilihan. (*)

Tuban : 22 Oktober 2014.

0 komentar:

Posting Komentar