Oleh : Rakai Pamanahan
BATIK bukan
hal baru di tanah air. Hampir setiap daerah memiliki kerajinan berbahan
selembar kain ini. Tak hanya di pulau Jawa, di Kalimantan, Sumatra, hingga
Papua pun ada kerajinan kental sentuhan lembut kaum hawa itu.
Jika dirunut
kerajinan ini memiliki nilai histori. Nilai kultural, dan sosial yang menjadi
legenda daerah mewarnai motif-motif batik. Motif yang tertuang di lembar kain
itulah yang bisa menjadi ciri khas masing-masing daerah.
Demikian
pula dengan batik Tuban. Sesungguhnya, kata Mbah Sukirah (65), pembatik dari
Kerek, Kabupaten Tubab, Jawa Timur, batik Tuban yang khas berbahan kain Gedog.
Kain jenis ini dihasilkan dari pemintal tradisional yang dulu ada di desa-desa
di Bumi Ranggalawe.
Warga Tuban
menyebut Gedok karena pemintal kain berbahan kapas ini selalu mengeluarkan
bunyi dok, dok, dok. Sejak itulah
kain dengan rajutan agak kasar itu disebut Gedok. Kain ini pula yang kemudian
menjadi lahan menuangkan motif batik.
Sampai saat
ini pun pemintal kain Gedok masih bertahan. Mereka bergulat dengan kemajuan
teknologi pemintalan. Kendati begitu hingga kini mereka masih hidup seiring
menggeliatnya batik secara nasional.
Batik Gedok
Tuban, menurut Kepala Bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Dinas Perekonomian dan
Pariwisata Tuban, Sunaryo, merupakan bentuk akulturasi tiga kebudayaan yang
pernah masuk daerah barat laut Jawa Timur. Yakni, kebudayaan Majapahit, Tiongkok
(China), dan Islam.
Ketiganya meninggalkan
lacak di setiap motif batik di Tuban. Kultur Jawa yang masih kental dalam
ornamen batik Tuban terwakili oleh motif bunga. Motif tradisional ini hampir
dipergunakan pebatik di wilayah pulau Jawa.
Sedangkan
pengaruh kultur Islam dalam batik Tuban terlihat pada motif bernuansa religius.
Diantaranya, kijing miring, ada juga motif-motif ornamen di makam Sunan Bonang.
“Banyak
juga gambar di piring yang ditempel di kompleks makam Mbah Bonang menjadi inspirasi
batik di Tuban,” kata Rusfeni, pedagang batik di kompleks makam wali yang
berada di Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Tuban kepada saya pekan kedua bulan Oktober
2014.
Sementara
untuk motif bernuansa Tiongkok, bisa ditemukan berupa burung Hong. Konon
munculnya motif batik ini dibawa oleh pasukan Kubelai Khan. Secara historis kala
itu sekira awal abad XII pasukan Tar-tar ini kalah berperang ketika menyerang
Singasari. Tragedi di awal berdirinya Majapahit itu menyebabkan mereka kocar-kacir,
hingga diantaranya bermukim di Tuban. Sebagian sisa pasukan itu berakulturasi
dengan warga sekitar, sebagian lainnya tewas di Pantai Boom disergap rakyat Tuban
di bawah pimpinan Adipati Rangalawe.
“Di Tuban
sejak dulu tak ada burung Hong, kalau motif batik Tuban ada burung Hong-nya bisa
jadi karena dibawa oleh sisa pasukan Tiongkok tersebut,” papar Sunaryo.
Pada
perkembangannya akulturasi tiga budaya itu masih bertahan, seiring harmoni kehidupan
masyarakat di sana. Tentunya termasuk lekatnya tiga unsur kultur tersebut dalam
motif batik Tuban. Termasuk ketika pembatik menuangkan setetes warga di kain
Gedok yang menjadi khas dari batik di wilayah ini.
Back to Nature
DI awal
pembuatannya batik tidak mengenal bahan kimia. Warga dari sentra-sentra batik
Tuban semula bertahan pada bahan alami mulai tergeser. Lumayan sulit menemukan
perajin batik yang masih memakai bahan alam.
Saya pun
menelusuri desa-desa sentra batik Tuban di wilayah Kerek, Merakurak, dan
Kecamatan Semanding. Para perajin disana lebih memilih bahan kimia untuk mewarnai
motif karyanya. Sekalipun teknis yang mereka lakukan dengan memainkan Canting,
secara tradisional, namun unsur kimia kental di tangan mereka.
Penggunaan bahan
pewarna alam untuk membatik sekarang sulit ditemui di Tuban. Perajin batik
lebih memilih kimia yang tak butuh waktu lama untuk menghasilkan karya. Padahal
dampaknya kualitas batik Gedok pun tak sebaik sebelumnya, disaat pembatik
membuat pewarna tradisional dari bahan non kimiawi.
“Tidak ada, Pak,
yang mau menggunakan pewarna dari daun, bunga atau kulit pohon untuk membatik,”
kata Marfuah, perajin batik saat ditemui di Kerek, Tuban. “Kalau ada yang
membuat bisa dihitung dengan jari,” tandas nenek tiga cucu tersebut.
Fenomena
kembali pada alam belakangan didedikasikan para aktivis perempuan dari Koalisi
Perempuan Ronggolawe (KPR) Tuban. Batik dengan bahan pewarna herbal, menjadi
hal terbaru dalam khasanah perbatikan di Kota Seribu Goa ini.
“Batik berpewarna
herbal memang berbeda dengan kimia,” kata Ketua KPR Tuban, Imanul Istofiana
kepada saya saat mendampingi kelompok batik di Desa Gaji, Kecamatan Kerek,
Tuban awal bulan Oktober 2014 lalu.
Dari segi penyelesaian
garapan, batik dengan bahan herbal relatif lebih lama. Jika bahan kimia
selembar kain batik butuh sekali pencelupan untuk satu warna. Sedangkan kalau herbal
satu pewarnaan butuh sampai sembilan kali pencelupan. Ini disebab bahan
pewarnanya bukan sintetis.
Pengembangan
bahan alami ini diambil dari daun dan bunga-bunga yang ada di sekitar
permukiman warga. Hampir semua pepohonan maupun bunga yang menjadi bisa dipakai
untuk pewarna. Memang proses
pembuatannya lebih rumit, dan butuh ketelatenan lebih.
Di lain sisi
faktor dukungan iklim juga berpengaruh terhadap kualitas batik berbahan herbal.
Disaat musim kemarau kualitas batik akan lebih bagus, karena penjemurannya mengandalkan
terik matahari.
Dalam
kondisi normal untuk menjadikan selembar batik berbahan sintetis, hanya butuh
waktu tiga hari. Lain halnya dnegan batik herbal, butuh waktu dua pekan untuk
merampungkan selembar kain batik herbal. Itu pun harus jika musim kemarau
benar-benar terik.
Dari sisi
harga jual pun berbeda. Untuk jenis batik Gedok atau batik lain dengan bahan
kain mori (bukan sutera) di pasaran sekitar seharga Rp50.000 hingga Rp150.000 per
lembar. Sedangkan untuk batik herbal bisa mencapai Rp350.000, hingga menembus
Rp1,5 juta.
Fenomena
batik berbahan alam (herbal) kini mulai dilirik. Tak jarang komunitas pembatik
herbal dampingan KPR kewalahan melayani pesanan.
Yang pasti tanpa
disadari para perempuan aktifis ini telah membangkitkan kembali kejayaan batik
Gedok yang telah rapuh digerus jaman. Tentunya bukan batik berbahan kimia yang
sekarang beredar di pasaran, namun batik herbal yang kini menjadi pilihan. (*)
Tuban : 22 Oktober 2014.

0 komentar:
Posting Komentar