Oleh : Rakai
Pamanahan
DALAM sebuah
workshop kebudayaan di Yogjakarta minggu kedua Oktober 2014 lalu saya bertemu
kawan lama. Meski terlahir di Kediri, Jawa Timur, Ucup, demikian saya biasa
menyapa, Yusuf Abidin, namun cukup lama tinggal di Belanda.
Dia sengaja
datang dalam perhelatan itu bersama istrinya yang berkewarganegaraan Netherland,
Lieke Belinda. Perbincangan kami mengalir.
Dia berkisah tentang nyamannya hidup di negara yang selama 350 tahun menjadikan
Nusantara sebagai koloninya.
“Ungkapan
Anda pada 24 tahun lalu tidak terbukti, Meneer,”
katanya sambil tersenyum. “Saya kerasan, dan nyaman-nyaman saja bersama anak
istri disana,” pungkas lelaki yang rambutnya mulai rontok itu.
Ya saya
masih ingat. Saat mengantarnya di Bandara Soekarno Hatta tahun 1990 sebelum kuliah
di Universiteit Leiden saya berpesan kepadanya. “Setelah lulus jangan menetap
di Belanda, hujan emas di negeri orang lebih enak hujan batu di negeri sendiri.”
“Niet, Vader. My husband has always wanted to
return his country,” kata Leike, saat si Ucup pamit ke kamar kecil.
Kejujuran Leike
yang dinikahi Ucup 14 tahun silam membuat saya tersenyum. Ternyata dia tak
jujur dalam berucap. Dia telah membohongi dirinya sendiri.
Yang saya
tahu, ada keterikatan batin antara orang dengan tanah kelahirannya. Tak lagi
fenomena namun sebentuk realita, bahwa tanah leluhur dengan beragam kulturnya
tak mudah terlepas dari seseorang. Dimana pun mereka kini berada.
Orang
Indonesia sendiri, apapun kultur kedaerahannya, memiliki sifat tak jauh
berbeda. Tempaan histori sebagai negara jajahan begitu lekat melembaga di batin
warganya. Itu pun telah menjadi makna kultural dalam berlaku sosial
kemasyarakatan.
Laku saya sebagai
Jurnalis di berbagai daerah di tanah air, membuktikan bahwa warga Indonesia
memiliki sifat yang tak jauh berbeda. Yakni; sifat hipokrit. Diberbagai daerah
pun saya bertemu dengan para pejabat pemerintah, swasta, maupun tokoh
masyarakat dari berbagai level. Mereka rata-rata memang menyimpan sifat
munafik.
Mereka suka
berpura-pura. Bisa jadi karena sistem feodal yang diterapkan dalam sistem
pemerintahan kolonial, menjadikan kita tak berani berterus terang. Lain ucap di
muka, lain pula dengan belakang.
Perampasan
kebebasan berfikir dan berpendapat terhadap masyarakat, memaksa kita untuk
menyembunyikan rasa di batin. Termasuk pula lahirnya rasa takut disalahkan, dan
mendapat punishment. Sekalipun
batinnya berontak.
Termasuk
pula sejumlah Ambtenaar yang
menduduki jabatan di pemerintah daerah maupun swasta. Sampai sekarang pun sulit
menemukan pejabat yang berlaku jujur. Mereka acap menyembunyikan sesuatu,
sekalipun sebenarnya mafhum ada UU
14/2008 yang mengatur keterbukaan informasi publik.
Sifat
hipokrit atau munafik ini masih muncul meski jaman telah berubah. Sudah begitu
rata-rata mereka tidak bertanggung jawab atas segala kebijakan yang diambilnya.
Tidak perlu
disebut karena siapapun tahu, dan telah menjadi rahasia umum, jika ada masalah
di lapangan sang Ambtenaar akan
menyalahkan bawahannya. Yang dibilang tak bisa menjalankan perintah, atau disudutkan
akibat kesalahan yang dilakukan atasannya. Sang bawahan juga menimpakan masalah
itu kepada level bawahnya dan seterusnya.
“Saya hanya
menjalankan perintah pimpinan.” Hanya itu yang sering ke luar dari mulut
bawahan. Akhirnya masalah tersebut menjadi mengambang tanpa penyelesaian,
padahal publik menuntut solusi atas problema tersebut. Jadinya kalimat “Bukan Saya”
seakan menjadi fatwa untuk melegalkan sifat hipokrit yang diambilnya.
Berlaku
jujur mungkin sulit bagi sebagian besar orang. Terkesan para pejabat
menasbihkan diri sebagai orang yang selalu benar. Budayawan menyebut kalangan
ini sebagai Borjuis. Perilaku feodal yang diwariskan era kolonial itu terasa
kental.
Mereka yang
telah merasa berkuasa tak suka dikritik. Klaim bahwa pejabat selalu benar makin
menciptakan skat terhadap kalangan proletar. Warga negara biasa jadi tak memiliki
keberanian terhadapnya. Itu karena mereka dikondisikan sebagai abdi oleh mereka.
Kata jujur
memang sarat makna. Kejujuran juga memiliki beragam tafsir. Semuanya melihat
konteks, dan dipengaruhi oleh situasi dan kondisi.
Entah apa
yang menjadi motif di balik ungkapan si Ucup tersebut kepada saya. Tampak sifat
yang tak berbeda antara dirinya dengan para Ambtenaar
yang sering saya temui. Yang pasti dia menyembunyikan sesuatu, yang mungkin, harus
dia bungkus rapat di depan saya. (*)
Yogjakarta : 23 Oktober 2014.
Yogjakarta : 23 Oktober 2014.
1 komentar:
Hampir semua pejabat kelakuane seperti itu. Pengecut dan lari dari tanggung jawab kalau kena masalah.
Posting Komentar