Oleh : Rakai Pamanahan
Sudah lebih tiga jam perempuan muda itu terlihat gelisah. Sendiri duduk di bangku panjang. Sesekali matanya menatap ke depan mengamati penumpang yang ke luar dari pintu kedatangan di Bandara Internasional Chek Lap Kok, Hongkong. Jaket krem tebal membalut tubuhnya untuk mengusir dingin sisa gerimis awal pagi.
Tabloit edisi terbaru berbahasa Indonesia terbitan negara bekas koloni Inggris itu, telah rampung dia simak. Sesekali dia keluarkan telepon seluler dari kantong celana jean-nya yang belel. Serangkaian kontak melalui Black Berry yang dia lakukan terhadap nomor telepon tertentu tak membuahkan hasil.
“Harusnya tak sampai pukul 14.00, dia sudah mendarat,” gumam perempuan berpostur sedang itu, sembari melirik jam tangan bermerk yang melilit lengan kirinya.
Entah untuk kali keberapa ia berdiri dan kemudian duduk lagi. Sesekali kakinya melangkah mengitari tempat duduk di ruang tunggu. Sekadar melepas rasa penat yang merajam pikirannya. Perempuan berkulit bersih itu kembali duduk di dekat tas punggung yang tergolek di bangku.

