Rabu, Oktober 22, 2014 | By: Rakai Pamanahan

Hipokrit

Oleh : Rakai Pamanahan


DALAM sebuah workshop kebudayaan di Yogjakarta minggu kedua Oktober 2014 lalu saya bertemu kawan lama. Meski terlahir di Kediri, Jawa Timur, Ucup, demikian saya biasa menyapa, Yusuf Abidin, namun cukup lama tinggal di Belanda.

Dia sengaja datang dalam perhelatan itu bersama istrinya yang berkewarganegaraan Netherland, Lieke Belinda.  Perbincangan kami mengalir. Dia berkisah tentang nyamannya hidup di negara yang selama 350 tahun menjadikan Nusantara sebagai koloninya.

“Ungkapan Anda pada 24 tahun lalu tidak terbukti, Meneer,” katanya sambil tersenyum. “Saya kerasan, dan nyaman-nyaman saja bersama anak istri disana,” pungkas lelaki yang rambutnya mulai rontok itu.

Ya saya masih ingat. Saat mengantarnya di Bandara Soekarno Hatta tahun 1990 sebelum kuliah di Universiteit Leiden saya berpesan kepadanya. “Setelah lulus jangan menetap di Belanda, hujan emas di negeri orang lebih enak hujan batu di negeri sendiri.”  

“Niet, Vader. My husband has always wanted to return his country,” kata Leike, saat si Ucup pamit ke kamar kecil.

Kejujuran Leike yang dinikahi Ucup 14 tahun silam membuat saya tersenyum. Ternyata dia tak jujur dalam berucap. Dia telah membohongi dirinya sendiri.
Selasa, Oktober 21, 2014 | By: Rakai Pamanahan

Tiga Budaya di Batik Tuban



Oleh : Rakai Pamanahan

BATIK bukan hal baru di tanah air. Hampir setiap daerah memiliki kerajinan berbahan selembar kain ini. Tak hanya di pulau Jawa, di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua pun ada kerajinan kental sentuhan lembut kaum hawa itu.

Jika dirunut kerajinan ini memiliki nilai histori. Nilai kultural, dan sosial yang menjadi legenda daerah mewarnai motif-motif batik. Motif yang tertuang di lembar kain itulah yang bisa menjadi ciri khas masing-masing daerah.

Demikian pula dengan batik Tuban. Sesungguhnya, kata Mbah Sukirah (65), pembatik dari Kerek, Kabupaten Tubab, Jawa Timur, batik Tuban yang khas berbahan kain Gedog. Kain jenis ini dihasilkan dari pemintal tradisional yang dulu ada di desa-desa di Bumi Ranggalawe.

Warga Tuban menyebut Gedok karena pemintal kain berbahan kapas ini selalu mengeluarkan bunyi dok, dok, dok. Sejak itulah kain dengan rajutan agak kasar itu disebut Gedok. Kain ini pula yang kemudian menjadi lahan menuangkan motif batik.