Jumat, September 17, 2010 | By: Rakai Pamanahan

:: Angin Terik di Ladang Gersang ::

By: Rakai Pamanahan

Penderas tuwak mengandalkan musim. 
Bukan bagian takdir tapi tak punya pilihan.

Perempuan muda di sampingku ini kutaksir usianya belum ada 24 tahun. Rambutnya sebahu dibiarkan luruh. Lembut dan wangi aromanya dihantar angin dari celah cendela bus. Bus mini yang membawaku dari Bojonegoro menuju rumah saudaraku di Tuban.

“Nama saya Denok Utami, Mas,” sambil tersenyum ia menyambut uluran tanganku. Moment itu tak lebih dari awal dan akhir pertemuan ketika perjalanan kami menuju Tuban.

Banyak dia ungkapkan tentang minatnya pada masalah lingkungan. Mahasiswi salah satu PT di Yogjakarta asal Tuban ini tengah perjalanan pulang. Kembali ke kampung halaman.



Banyak hal sudah kita bahas. Tebal pula tumpukan kata indah kita susun. Sepanjang perjalanan 60 Km dari Terminal Rajekwesi Bojonegoro menuju Tuban. Tempo tiga jam yang mampu merubah bilur kehidupan.

Ada janji tak terucap. Namun pasti dalam lembaran hikmat. “Kuharap kita masih bisa ketemu lagi, Adik,” demikian pungkasku ketika akan turun dari bus di pertigaan Kepet, Desa Tunah, Kecamatan Semanding-Tuban. Jemari lentikmu kugenggam. Kerasan telapak lembutmu di jariku hingga tak kau lepas.

Pertigaan Kepet merupakan pintu utama dari Jalur Surabaya –  Tuban, untuk memasuki Desa Kowang, Kecamatan Semanding. Desa tempat saudaraku bermukin menjadi seorang guru SD disana.

Ada yang hilang dari diriku setelah kaki kiriku menjejak tanah. Lambaian tanganmu dari balik kaca bus, seakan membetot separo nafasku berlalu. Adek sangat kusayangkan selama perjalananku ke Desa Kowang, tanpa kau disisiku. 

Tiga tukang ojek motor sigap menyapaku. Setelah tawar menawar harga pas, tancap gas. Akupun menikmati perjalanan siang yang terik diantara hamparan ladang kering menuju Desa Kowang.

Adik manis, terpaan angin siang bolong kian memanaskan suhu tubuhku. Terik penuh dahaga, ketika di pinggir jalan seorang perempuan paruh baya menjajakan minuman tuwak dan legen melambaikan tangan. Kami sepakat berhenti sejenak untuk menikmati es legen, di warung tepian hutan jati.

Adik manis, aku melihat di petak ladang gersang sepasang burung tekukur mengais sisa kacang ijo yang ditinggal petani. Panen terakhir musim penghujan telah berlalu. 

Dituntun angin diantara celah daun jati, terdengar seorang lelaki melantunkan kidung. Bagai melepas belenggu, lantunan gita yang parau kian tegas terdengar. Terlebih ketika mendekati pepohonan Siwalan.

Kidung tua yang tak jelas penciptanya itu bagai pelipur lara sang lelaki di atas pohon bogor. Pohon penghasil tuwak. Minuman khas dari daerah tandus di kawasan pegunungan kapur. Daerah yang sebagian sudah kau ceritakan padaku di atas bus.

Sejatine wong urip mesti menoni pati...
Nanging sedurunge pati, urip kudu ngati-ati...
Kudu nrimo ing pandhum, kudu nrimo garise Gusti...

Demikian sepenggal syair dari kidung yang dilantunkan sang pria di atas pohon. Akupun tak tahu apa nama gending itu. Kakinya terlihat lincah. Tangannya cekatan memegang pelepah daun. Ia berpindah antara sudut-sudut pohon yang menyerupai dan setinggi pohon kelapa itu.

Di bawah pinggulnya tergantung enam potongan bambu. Bambu-bambu sepanjang tak lebih 40 Cm itu telah terisi tetesan air. Air dari pangkal manggar bunga siwalan yang memalui proses alam, telah terfermentasi menjadi tuwak.

Yang masih kosong menunggu giliran diganti bambu yang sejak pagi dipasang di pangkal manggar. Terus menerus dilakukan dua kali sehari. Pagi dan sore. Lelaki dengan sebilah gobang di pinggang kiri itu, menikmati aktivitasnya.

Adik manis, tak kalah dengan pria di atas pohon dekat hutan. Sekira 25 meter arah barat, terdengar pula kidung lelaki lain. Sama dari atas pohon serupa. Gending-gending bernuansa kidung-kidung membelah senyap di siang bolong. Di atas pohon siwalan. Di tepian hutan jati.

Kidung-kidung pasrah dalam bahasa Jawa. Khas dari sudut Desa Kowang, Semanding, Tuban sentra penghasil minuman tuwak. Minuman khas yang dititahkan hanya ke luar dari pohon bogor.

Adik manis, dilain sudut terdengar pula seorang perempuan paruh baya melantunkan tembang Ilir Ilir. Sebuah gending, yang konon, dirangkai Sunan Kalijogo semasa putra Bupati Tuban Wilatikto itu menjalani pengembaraannya melakukan syiar Islam di Pulau Jawa.

Rodo cepet Kang, aku engko keri pengajian (Cepat Mas, saya nanti tertinggal acara pengajian),” teriak sang perempuan di sela memotong tembang Ilir Ilir-nya. Ia setia menunggui delapan bumbung isi tuwak dan legen di bawah pohon Bogor. Sementara sang suami masih saja bersenandung di atas pohon.

Iyo, iyo, Sri. Aku wis rampung (Iya Sri, aku sudah selesai),” jawab lelaki paruh baya dari atas pohon. Tak butuh waktu lama, kaki kerempeng itu menuruni pohon. Bagai berjalan mundur saja. Sesaat kemudian kakinya telah menginjak tanah.

Adik manis, tampak mereka berjalan beringingan di pematang. Mesra tanpa bumbu kepalsuan, karena aktivitas itu yang mereka lakoni saban hari. Di pundaknya  terlihat batang jaranan yang kedua ujungnya tergantung bambu penuh tuwak dan legen. Membayangkan mereka berjalan di antara tegalan kering, aku membayangkan kita yang berjalan itu.

“Kang Jatmiko, aku balek dhisik (pulang dulu),” sapa sang pria kepada kawan senasibnya yang masih melantunkan tembang di atas pohon. Sapaan ramah simbul kebersahajaan penghuni desa. Tentunya dijawab pula oleh yang disapa.

Adik manis, ternyata bagi sebagian warga desa penghasil tuwak itu, pemanjat pohon Bogor merupakan profesi turun temurun. Apalagi jika musim kemarau sudah demikian terik. Pengambil nira pohon bogor menganggap berkah, karena di saat demikian tetesan niranya kian deras.

“Tapi kalau sudah wendhit (kering), kita harus sabar,” kata Kang Yaqub (46), seorang pemanjat pohon Siwalan saat aku temui di bawah pohon di sisi selatan Desa Kowang. Tentunya selepas aku membayar es legen di warung tepi hutan tadi.

Adik manis, kepadaku bapak tiga putra ini bercerita, ia adalah buruh tani. Sekalipun tak punya sawah, namun keluarganya tetap bersahaja dengan profesinya sebagai pengambil tuwak.

Meskipun tidak berlebih, ungkap Yaqup, menjadi penderas tuwak dianggap cukup. “Yang penting saban hari bisa dipakai beli beras.”

Besar kecilnya penghasilan mereka di samping tergantung pada musim, juga tergantung pada banyaknya pohon yang dikelolanya. Dan tidak semua pemanjat pohon bogor memiliki pohon sendiri.

“Tuwak atau legen makin deras mengalir jika kemarau panjang, kalau musim hujan malah tak ke luar,” ungkap Yaqup  yang duduk di tanah di samping anaknya yang seusia SD. “Ini Nanang anak kedua saya, ia baru naik kelas enam.” Kang Yaqup mengenalkan anaknya.

Dengan 11 pohon bogor milik tetangganya yang dikelolanya, Kasto jika musim kemarau mampu membawa tuwak 55 liter. Jika tuwak dijual Rp 900 per liter, ia bisa membawa pulang Rp 49.000. Sehari dia deras pohon dua kali, pagi dan sore, sehingga dalam sehari bisa membawa hasil Rp 98.000.

Itu tidak setiap hari. Sebab, dalam kurun seminggu ada satu hari penghasilan musti disetor kepada pemilik pohon. Sebagai kompensasi sewa pohon. Biasanya pada setiap hari Minggu, pemanjat menyetor hasil penjualan sehari. Ini merupakan bentuk tradisi kerjasama antara pemilik pohon dnegan pemanjatnya. 

“Tapi kalau sudah patiwolo (paceklik karena musim hujan), bisa menghasilkan lima liter saja sudah bagus,” katanya. Tangannya terampil membersihkan buih tuwak yang menutup permukaan bumbung bercampur semut.

Sebenarnya membikin tuwak relatif lebih murah dibanding legen. Karena legen seliter bisa dijual hingga Rp 1.500 sampai Rp 2.000. Namun daya minat warga lebih banyak pada tuwak. Dan pedagang langganannya juga tak mau membeli legen.

Adik manis, yang aku kagumi dari mereka adalah sikap kepasrahan dalam menit hidup. Kang Yaqup maupun pemanjat pohon Bogor lain, bisa menerima kenyataan hidup serba pas-pasan. Apalagi regenerasi pohon bogor juga tak mudah. Butuh waktu lebih dari lima tahun, agar pohon bogor yang baru ditanam bisa diperas niranya.

Jarang pula orang sekarang menanam pohon bogor. Kalaupun saat ini terdapat ribuan pohon bogor di sejumlah desa sentra tuwak di wilayah Kecamatan Semanding, Palang, Merakurak, Plumpang dan Kecamatan Kota tak lebih dari warisan. Pohon-pohon penghasil buah siwalan tersebut, biasa menjadi pembatas ladang.

Adik manis, kidung pemanjat Bogor masih aku terdengar dibawa angin. Pelepah daun Bogor yang luruh kering tiba-tiba jatuh. Kemarau pajang bakal menjelang. Kering kerontang ladang bagai berkah pemanjat pohon bogor. Musim tuwak bakal segera datang.

Adik manis, hanya itu yang sempat aku ceritakan kepadamu. Aku sudah ditunggu kakak perempuanku. Sudah hampir tujuh tahun aku tak bertemu. “Adik manis, aku tetap berharap bisa bertemu denganmu lagi.” (*)

0 komentar:

Posting Komentar