Jumat, September 17, 2010 | By: Rakai Pamanahan

:: Udheng Gelap di Pusara Jenar ::

by : rakai pamanahan

KAMIS Wage malam Jumat Kliwon. Malam mulai merambah dinihari, ketika lima lelaki tua menyusuri gelapnya kompleks makam Atas Angin di Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban (Jawa Timur). Meski tidak jauh dari perkampungan, aura kesakralan lekat di makam belakang masjid itu. Terlebih jarang orang merambah makam tanpa memiliki kehendak.

Gamis gelap pria bertubuh sedang paling depan, berkibar ditiup angin. Di belakangnya yang berpostur lumayan tinggi, tampak membetulkan kain udeng sambil berjalan. Celana hitam gombrong yang dikenakannya, tampak melorot di bawah sarung.



Nampaknya ke lima lelaki tersebut, nyaris berbusana model dan warna serupa. Baju gelap berlengan panjang tanpa kerah, celana kolor gombrong, masih dililit kain sarung dan tak ketinggalan kain udeng batik melilit kepalanya. Busana nyaris khas, para pegiat ziarah di makam-makam tokoh agama dan aliran kepercayaan.

“Monggo Ki, jalannya agak cepat nanti keburu kesundul subuh,” kata sang lelaki yang berjalan di tengah mengingatkan pria yang berjalan paling depan.

“Ya saya tahu. Saatnya sudah pas untuk masuk pesarean,” jawab pria terdepan yang belakangan diketahui bernama, Ki Ripto Wijoyo. Suaranya bariton, berat. Ada getaran tersendiri ketika Ki Ripto bersuara.

Tak ada sahutan. Tak pula balas dari penanya. Mereka meneruskan perjalanan, hingga masuk kompleks makam. Secara bergantian, mereka memasuk wajah, kaki, tangan dan ujung rambut dari empat kendi yang disiapkan di sisi kiri pintu masuk pesarean (makam).

Dengan kaki telanjang mereka memasuki pintu utama makam. Ki Ripto masuk duluan, setelah sebelumnya mulutnya komat-kamit membaca mantra. Tas kain kuning yang sudah kusam dikeluarkan. Bongkahan bunga setaman dibuka dari bungkus daun pisang. Mereka pun khusuk bersimpuh. Berdoa dengan dipandu Ki Ripto. 

Rombongan pria tersebut, tak lebih dari peziarah yang sering bersimpuh lelaku (ritual oleh batin) di makam Pangeran Gedong alias Syeh Siti Jenar di kompleks Makam Atas Angin, Desa Gedongombo. Ada rasa tentram ketika usai berdzikir dan laku di makam, yang diyakini sebagai makam, tokoh legenda yang mempopulerkan ajaran Manunggaling Kawulo lan Gusti (menyatunya sang pencipta dengan yang diciptakan) itu.

Hampir dua jam mereka berada di dalam makam. Memang tak terkunci, namun gema dzikir dan rapalan-rapalan yang dirapal, kian menambah kepekatan malam yang berhias seulas bulan sabit. Sekira pukul 00.15 WIB, angin berhenti menggoyang daun jati tak jauh dari makam. Sepi tak ada suara. Burung malam pun berhenti berkicau.

Seperempat jam kemudian mereka ke luar dari kompleks makam. “Assalamu’alaikum, adik muda kok masih disini,” sapa Ki Ripto kepada penulis yang kebetulan berada di depan cungkup (bangunan yang peneduh makam). Suara beratnya ke luar dulu, baru kemudian senyumnya.

Ki Ripto Wijoyo dan rombongannya dari Pati, Jawa Tengah, sudah kesekian kali mengunjungi Makam Syeh Siti Jenar di Gedongombo, Tuban. Ki Ripto pun mengenalkan Karsiman, Dirgo Sujono, Muhammad Zaenuri dan Basuki Subiyanto anggota rombongannya.

“Siapapun boleh menganggap Syeh Siti Jenar pemberontah terhadap Wali Songo. Tapi kami meyakini, ajaran yang ditinggalkan Bopo Guru Siti Jenar adalah benar adanya,” ungkap Ki Ripto membuka persinggungan.

Makam Syeh Siti jenar di Gedongombo pun, bagi mereka, benar pula adanya. Termasuk juga makam Syeh Siti Jenar yang ada di Kemlaten, Cirebon. Kedua makam itu, tetap diyakini sebagai pesarean sang syeh. Terlebih Jenar merupakan tokoh yang mampu menyatukan kehendak raga, batin dan jiwa dengan Sang Khaliq.

Ada rasa tentram lebih ketika berziarah di Makam Jenar di Gedongombo. Paling tidak pengalaman batin itu, diungkapkan Ki Ripto Wijoyo dan empat kawannya. Mereka satu kelompok aliran—yang meskipun dianggap sementara kalangan--menyimpang dari ajaran Islam, namun KTP mereka beragama yang dibawa Rosullulloh tersebut.

Apapun agama dan alirannya, timpal Dirgo Sujono mengisi sela obrolan Ki Ripto, semua memiliki tujuan akhir yang sama. Yakni mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, janganlah menilai kekafiran terhadap orang lain. Sebab yang paling berhak memvonis seseorang atau kelompok kafir adalah Sang maha Agung. Gusti Alloh.

“Sudahlah jangan membahas keyakinan orang lain, kita tidak diajarkan seperti itu,” pungkas Ki Ripto Wijoyo dengan tempo agak cepat. Pria yang warna jenggotnya telah memutih itupun diam. Dingin sikapnya namun sarat makna.

Kesenyapan pun kembali menyelimut, hingga Basuki Subiyanto yang semula diam mulai menimpali. Pria yang sehari-hari berdagang polowijo di Pasar Pati ini, lebih banyak mengungkap pengalaman batinnya ketika berziarah.

“Kami sekadar ziarah, sama dengan orang lain yang ziarah ke makam Wali Songo atau makam orangtua kita,” ungkap pria berpostur kerempeng seraya membetulkan lipatan kain sarungnya.

Bagi Ki Ripto Wijoyo dan empat kawannya, rangkaian ritual ziarah yang dilakoni hingga ke makam Syeh Siti Jenar merupakan perjalanan batin yang panjang. Dan muskil bisa diperolah di bangku sekolah maupun gothakan pondok pesantren.

Setiap orang berziarah, ungkap Dirgo Sujono, memiliki beragam niat. Termasuk pula bacaan yang dilafal ketika berdzikir di makam yang diziarahi. Disana bertemu antara keyakinan dan aliran yang berbeda-beda.

Orang berziarah pun kalau memiliki keahlian. Paling tidak mereka bisa membedakan, antara petunjuk magis ketika berada di pesarean maupun paska ritual nyekar rampung dilakoni. Hal ini menjadi penting dalam khazanah perziarahan.

“Apalagi dalam ziarah, kalau sudah dibukakan mata batinnya  bakal bisa berkelana di alam di luar batas pikiran manusia. Kalau yang menemui mengajak kebajikan ya baik hasilnya, kalau yang mengajak itu syetan, tentu akan lain pungkasane,” demikian ungkap Dirgo Sujono. Nah, tertarik berolah batin dalam ranah ziarah? (*)

2 komentar:

Ipnu Setiyoso mengatakan...

gan dulu rumah saya tepat di depan masjid itu,,sebelah timur TPA,atau rumah yg menghadap barat satu"nya...salam kenal ya...

Rakai Pamanahan mengatakan...

ohh iya? maaf baru bisa membalasnya. Sekarang sampeyan dimana? apa masih di bumi Ranggalawe? salam persahabatan.

Posting Komentar