By: Rakai Pamanahan
BAGI Rukini menggeluti profesi sebagai pemain siter adalah segala-galanya. Pilihan hidup yang tak lazim di era sekarang ini memang langka. Akan tetapi tak pernah membuat seorang Rukini gamang.
Dia yakini pula, menjadi seniman adalah bagian dari takdir. Takdir yang diberikan Sang Khaliq. Karena, itu pula sekalipun tak pernah belajar notase, namun alam telah memberi tempaan hingga istri petani asal Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Bojonegoro ini mampu bertahan di garis seni. Seni tradisi.
Almarhum orangtuanya di Solo memang pemetik siter. Tapi tak pernah rela Rukini meneruskan profesinya. Akan tetapi dari kebiasaan saban hari mendengarkan petikan dawai almarhum Saeran orangtuanya, menjadikan telinga Rukini perasa. Dan disaat orangtuanya meninggalkan siter di rumah, sendirian Rukini mencoba memetiknya.
Demikian pula gending-gending. Ia hanya mendengar dari Diyem ibunya ketika nembang diiringi petikan siter bapaknya. Rukini pun cepat hafal berikut cengkoknya. Baik yang berirama pelog maupun slendro.
“Saya buta huruf, hafalnya gending juga karena sering mendengar saja,” ungkap Rukini.
Dia akui sejak usia 11 tahun, ia sudah bisa membedakan mana irama pelog dan mana irama slendro. Jemarinya pun begitu menari-nari di atas dawai. Seperti ada yang menuntun ketika gending terlantun, diikuti jemari tangan menarti di senar-senar siter.
Dia anggap keahlian itu tak lebih dari takdir yang diberikan Tuhan. Karena itu pula, secara totalitas pula ia menerima garis nasib dari Illahi, sebagai pemain siter. Kalaupun hingga kini masih menjadi pengamen siter, itu dia anggap sebagai bagian dari lakon yang menghiasi takdir.
“Kita kan hanya nglakoni garis takdir Illahi, makanya saya mengalir saja,” katanya datar. Penuh kepasrahan.
Sikap kaffah (totalitas) yang diambil Rukini, tak bisa dibilang mudah. Sejak perawan hingga beranak dua dan memiliki dua cucu ini, ia tetap saja menjadi pengamen siter. Dari pintu ke pintu ia menawarkan dawai tembang. Sarat harmoni meski tak meninggalkan kepahitan hidup. Dan sesekali diselingi nilai-nilai kebinalan yang menjadi bagian tersendiri dari seni tradisi.
Mengamen siter, ditegaskan Rukini, bukanlah pekerjaan mudah. Namun gelombang peradaban yang mengoyak nilai kultural senmi tradisi, kini malah menjadi berkah bagi Rukini. Ngamen siter memang jarang ada yang mau melakoni, namun belakangan setelah penat dengan warna musik modern siter mulai dicari.
“Kalau diingat ya sekitar empoat tahun terakhir ini, rejeki melimpah banyak tanggapan,” tambah perempuan dengan postur tak sampai 165 Cm ini.
Terbukti kantor pemerintah—disaat istirahat--atau rumah yang dia datangi menyambut baik. Tak sedikit yang meminta ditambah gending. Lumayan baginya, karena mereka memberi imbalan Rp 3.000 untuk setiap gending. Bahkan jika ada yang senang dengan tembang yang dilantunkannya memberi Rp 20.000.
“Mungkin juga sudah menjadi bagian dari perjalanan nasib, kalau sekarang banyak yang nanggap siter atau Cokekan saya,” demikian ungkap Rukini. (*)
0 komentar:
Posting Komentar