Jumat, September 17, 2010 | By: Rakai Pamanahan

:: Sandur dan Ritual Kesuburan ::

By: Rakai Pamanahan

Seni tradisi tak lepas dari religi. Ritual Sandur pun diyakini mampu mengurai kegalauan batin.

Malam belum terlihat kelam. Bulan separo tampak mengintip di balik awan. Iringan mendung lambat berjalan menutup rona rembulan.

Pedar sinar bulan sesekali hilang terhalang awan. Dalam keremangan malam ratusan keluarga petani merapat ke tempat perhelatan. Seni tradisi kuno tinggalan leluhur.



Berduyun mereka datang berombongan. Tak sekadar mangayubagyo (ikut mendukung) helat pertunjukan. Baginya Sandur adalah bagian hidup yang tak terpisahkan. Malam itu kelompok Sandur Sri Sedana, bakal mewedar kemelut batin yang menempa warga desanya.

Panen padi yang tak maksimal. Pemuda desa kesulitan mencari kerja. Bagai penanda berakhirnya masa kejayaan desa. 

Disaat kegamangan kian berselimut tebal, warga desa tengah hutan jati KPH Parengan, kembali mengingat tradisi leluhur. Ritual dalam sampul seni tradisi. Perhelatan sarat ritual kuno, Sandur. Beksan (tarian) warisan leluhur.

Makna magis yang terbungkus helat Sandur, masih diyakini sementara orang desa, mampu membuka tabir gelap yang melingkupi desanya. Pintu kesuburan musti dibuka dengan ijin Illahi. Melalui helat Sandur yang telah turun temurun diwariskan pendahulunya.

Tak beda dengan pranata kultural tempo dulu, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban mencoba merekontruksi tradisi yang mulai dilupakan. Gegap gempita dangdut dan gerak erotis biduanitanya, tak mampu membangunkan tangan keillahian. Hingga buka usang musti mereka buka lembar demi lembar. 

Sekalipun dalam batas seni pementasan, akan tetapi nilai-nilai hakiki dari alur kisah Sandur menjadi simbul kepasrahan. Yang pada gilirannya mencoba menggandeng tangan-tangan gaib yang direstui Gusti Hyang Maha Perkasa.  

“Kang, tanda-tandanya Eyang Baurekso Deso mendukung permohonan kita,” kata Rejani (46), kepada kawannya saat mendatangi lapangan SDN Sukorejo, tempat Sandur Sri Sedana dihelat di malam pekan terakhir bulan Mei 2009 lalu.

“Betul Kang, mendung di atas mulai menyisih saat Ki Rispan merapal matera,” kata pria berumur berkain sarung duduk di atas batu.

Ki Rispan pimpinan Sri Sedana, malam itu tengah memimpin 44 panjak hore menggelar Sandur. Mereka mengiringi perjalanan panjang Petak. Pemuda desa yang keloyongan mencari kerja. Lakon Petak mampu dimanifestasi sebagai realitas pemuda desa. Sulit mencari pekerjaan, di saat paceklik mendera sawah ladang.

Dulur Papat Limo Pancer


Tepukan kendang tunggal Ki Rispan, begitu memilu membuka pertunjukan. Gong bumbung yang disebul Ki Santro Jaliman terdengar mengikuti ritme suara kendang.

Rancak kedua perangkat gamelan tua, setua penabuhnya, menembus teriakan kompak panjak hore. Akapela panjak hore yang saling bersautan dalam ritme lumayan cepat, makin menggelorakan ratusan warga yang duduk lesehan mengitari empat persegi sentra pagelaran. 

Empat obor di ujung bambu setinggi 1,5 meter di empat sudut pertunjukan menambah ketentraman warga yang mengelilinginya. Rumbai janur yang luruh di tali tampar, bagai pagar centra kegiatan.

Tepukan kendang dalam tempo lebih, tiba-tiba menyurutkan akapela. Panjak hore pun terdiam. Sepi. Semilir angin malam yang membawa hawa dingin sisa gerimis sore, membekab warga yang berselimut sarung.

Sepasang burung malam yang terbang di atas sentra perhelatan sesekali berteriak. “Oh eyang baurekso, sepertinya sudah mau rawuh,” ungkap Mbah Sukarto, lelaki gaek penggemar berat Sandur terlihat angkuh bersila. 

Kesunyian yang berbaur kesenyapan tak berlangsung lama.  Sesaat kemudian seorang tokoh tua Sandur Sri Sedana membawa baki tanah berisi cok bakal. Mulutnya komat-kamit merapal mantra sambil berjalan mengelilingi arena perhelatan. Selanjutnya bersimpuh di sudut timur laut.

Harum kemenyan yang terbakar menyebar di setiap sudut ruang. Dan ritual sandur pun kembali dibuka sang germo.

Kembang Ketupuk
Melik Melik Neng Nduwur Ketupuk
Tak Sengguh Kembange Ketupuk
Konco Sandur Wis Nglumpuk
Olah Olah Yaa Alah
Mukamad Darosululah...

Kembang Jagung
Melik Melik Neng Nduwur Jagung
Tak Sengguh kembange Jagung
Konco Sandur Wis Mbukak Kudung
Olah Olah Yaa Alah
Mukamad Darosululah...


Demikian rapal pembuka helat sandur di lantunkan sang germo. Ditimpali puluhan panjak hore. Sahut menyahut mereka melantunkan bait-bait tembang lawas. Tembang tinggalan pendahulu yang hingga kini masih dipertahankan sebagaian tokoh tua sandur.

“Embah saya dulu, saat nyandur tembangnya juga seperti ini,” kata Ki Rispan generasi keenam dari Sandur Sri Sedana. Turun temurun pula, keluarganya menjaga keaslian seni tradisi yang terhitung mulai langka di Bumi Ronggolawe.

Dan pemuda Petak akhirnya bertemu dengan Balong. Tokoh yang sebenarnya tak begitu pintar karena acapkali argumentasinya tak masuk akal, namun selalu menjadi tumpuhan bertanya sang pemuda penganggur.

Beragam saran disampaikan Balong kepada Petak. Berkali-kali pula tak membawa hasil. Alam seperti enggan menjabat tangan Petak. Sekalipun tetes air mata, sudah mengering di pelupuk sang pemuda.

Ikhtiar Petak mencari kerja yang dimarkahkan melalui tarian mengitari panjak hore, ibarat penanda sulitnya menembus bursa kerja. Petak masih terus berputar melintas empat sudut perhelatan yang di batasi dadung (temali) kulit waru.

Sudut pertunjukan berpenerangan obor bambu itu, di tengahnya tegak berdiri Rontek. Kain segitiga berwarna merah, putih, hitam, dan hijau yang mengitari Rontek menjadi perlambang sifat manunsia.

Demikian pula Rontek yang berdiri setinggi 2 meter dikelilingi panjak hore. Jika ditarik garis lurus, Rontek menjadi kosmos bertemunya empat sudut pertunjukan sandur.

“Sebagian orang meyakini, empat obor di sudut pertunjukan bakal bertemu Rontek di tengah tempat perhelatan sebagai simbul; dulur papat limo pancer,” kata Eko Kasmo, budayawan Tuban yang juga asli Desa Sukorejo.

Menyatukan saudara dari empat penjuru kepada saudara pancer di tengah-tengah dalam ritual sandur, diyakini mampu mengantarkan sesaji agar Sang Hyang penguasa alam rela memberi kesuburan dan kemakmuran. Terlebih ketika difasilitasi tetabuhan dan ritme, antara sadar dan tiada para pelakon Sandur.

Ini sudah menjadi tradisi kuno yang jarang-jarang dipercayai kebenarannya. Namun, ketika Petak bertemu tokoh Cawik yang memiliki pengalaman serupa. Sama-sama kebingungan mencari kerja, kreativitas pun muncul dari seorang Cawik.

Ladang gersang ditinggalkan sang Cawik. Ia pun berbalik arah dengan menjadi penari Tayub. Keterpaksaan menjadikan  Cawik nekad. Kesana kemari menjadi penari Tayub mengamen di setiap sudut desa.

Ritual pun terus berlangsung. Tetabuhan dan tarian yang mengikuti senggakan gending para Panjak Hore, bagai pengantar kepasrahan. Pintu kamulyan (kebahagiaan) pun akhirnya dibuka sang penguasa alam. Terbukanya tabir rejeki, diyakini, setelah warga menggelar helat religi sarat magis dari Sandur Sri Sedana.

“Sandur memang seni tinggalan leluluhur. Dulu ketika saya muda, hampir tiap desa di Tuban ada kelompok sandur,” kata Sakrun, tokoh Sandur Ronggo Budoyo asal Dusun Randu Pokak, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Tuban secara terpisah.

Bagi Kang Sakrun, demikian ia biasa disapa, memainkan Sandur yang pakem butuh ketentraman batin. Tidak bisa dibuat sembarangan karena mengandung nilai-nilai warisan leluhur.

Yang pasti tak berbeda dengan seni tradisi lainnya. Pertunjukan Sandur sarat nilai ritual. Pertunjukan rakyat seperti Sandur pun berakhir happy ending.

Petak pada akhirnya menemukan pekerjaan yang selama ini dicarinya. Entah apakah setelah tirai kesuburan dibuka secara Illahiyah. Atau memang sudah saatnya ia mendapatkan pekerjaan. Tradisi memang sarat religi. Terkadang selalu terbungkus dalam ritual magis.

Kembang Jagung
Melik Melik Kembang Jagung
Tak Sengguh Kembange Jagung
Konco Sandur Sampun Rampung.

Dan Ki Rispan pun menghentikan tepukan kendang tunggal. Diikuti pula Ki Sastro Jaliman menghentikan tiupan gong bumbungnya. Sementara 44 panjak hore mulai melirihkan syair tembangnya. Dan ratusan warga pun berlalu meninggalkan sentra perhelatan. Tentu dengan sejuta kesan yang dalam. (*)

0 komentar:

Posting Komentar