Jumat, September 17, 2010 | By: Rakai Pamanahan

:: Kalian Hanya Mayit dan Mayit ::

Oleh: Rakai Pemanahan

Malam belum masuk dinihari, ketika seorang lelaki sepuh berdiri di gerbang padepokan tua, di lembah Ngayung. Matanya berbinar memandang langit bertabur bintang.  Seulas senyum mengembang melihat serombongan kalong pulang menutup bulan terhimpit awan.

Ujung kain udeng hitam menari diembus angin. Wajahnya yang bersih kian cerah diterpa kilau sinar rembulan. Dingin lelaki itu berdiri. Bersedekap khusuk memandang pintu padepokan yang  rapat tertutup. Bibirnya bergerak. Bergumam. Komat-kamit merapal mantera. 

Di pos jaga pintu gerbang, dua cantrik berkain sarung mlungker didekap dingin malam. Semilir angin yang menggesek dedaunan tak sanggup mengusik dua lelaki muda itu. Suara belalang erek-erek dari rerimbunan pohon di lembah, kian mengiringi ritme nafas mereka meniti mimpi di ujung malam.



“He he he... Ki Mangil, sudah lama disitu.” Parau suara lelaki dari balik pintu. Diikuti gemericit pintu kayu lawas yang terbuka. Baru kemudian muncul sosok kerempeng berbaju hitam panjang dengan dada terbuka. Dipadu dengan celana gombrong gelap.


Sosoknya bersahaja. Bibir tipisnya terbuka mengurai senyum sarat keihlasan. Lepas tanpa beban menghiasi malam yang tinggal menyisa sejengkal. Ki Sastro Prono Leksono, empunya Padepokan Ngayung, berbinar menerima kehadiran sahabat lamanya. Kawan seiring semasa berguru olah rasa dan batin pada Ki Cokro Sentiko di lereng gunung Merapi.

Mereka berpelukan. Saling tersenyum. Keremangan cahaya rembulan menerpa dua wajah bening tokoh yang dimasa mudanya, ikut  bubak alas bersama Ki Ageng Pemanahan sebelum berdiri Kerajaan Mataram. Mereka berjalan berdampingan menaiki tangga menuju padepokan.

“Kira-kira sudah ada 24 purnama kita tidak ketemu. Ki Sastro, masih terlihat muda,” ujar Ki Mangil selepas duduk di tikar pandan di salah satu ruang padepokan. Ruang khusus bagi Ki Sastroguno menerima tamu istimewanya.

“Orang kayak kita ini kan tinggal menunggu saat saja, Ki Mangil,” jawab Ki Sastro sambil mengeluarkan kotak tembakau dari anyaman daun lontar.

Mereka bersila berhadapan, hanya sekat kotak tembakau dan kendi yang memeisahkan dua saudara seperguruan itu. Mereka pun saling bercerita tentang masa silam. Tentang masa-masa di padepokan di lereng Merapi dan tentang masa kebersamaan dengan Ki Ageng Pemanahan. Tokoh paling berpengaruh sebelum Kerajaan Mataram di dirikan Panembahan Senopati tersebut.

“Bagaimana kabar Padepokan Wulung milik Ki Mangil?”

“Masih seperti saat Ki Sastro berkunjung dulu,” jawab Ki Mangil dalam nada datar. Sesekali terbatuk sambil melepas kepulan asab tembakau yang dilinting klobot kering itu. “Sepertinya ini pertemuan terakhir kita, Ki,” tambah Ki Mangil juga biasa disapa Ki Wulung karena pendiri Padepokan Wulung di kawasan hutan jati Randublatung yang dulu masuk wewengkon Jipang Panolan dimasa kekuasaan Haryo Penangsang.

“Iya saudaraku, saya pun merasakan begitu,” sergah Ki Sastro.

Tokoh gaek ini rupanya juga melihat tanda-tanda bakal lepasnya sang ruh dari jasad karibnya. Mata batin dan rasa dari saudara gaibnya pun mengirim wisik tentang hal yang hanya mereka berdua yang tahu.

“Ki, apa yang kita lakukan selama ini adalah bagian dari perjalanan menyisakan kematian,” kata Ki Mangil, seraya meneguh air dari kendi.

“Benar Ki Mangil, kita adalah mayit. Semua manusia yang katanya hidup adalah mayit-mayit”

“Siapapun yang mengerti tentang hidup, akan berfikir begitu. Karena alam kelanggengan untuk hidup baru akan kita temui setelah kita menghadapnya,” kata Ki Sastro Prono Leksono.

Terekam lekat dalam benak Ki Sastro tentang syair yang dilontarkan gurunya Ki Cokro Sentiko sebelum muksa, menghadap Sang Hyang Khaliq. “Dunia ini adalah wujud dari alam kematian.” Manusia yang menghuninya adalah bersifat mayit. Dan kehidupan yang dilakoni selama di dunia adalah kehidupan yang tak lepas dari hinggapan kematian.

“Innaka mayyitu wa innahum mayyitun,” kata Ki Sastro mengutip ayat suci dari kitab suci. “Sebenarnya engkau itu adalah mayit dan mereka pun adalah mayit,” tegas pria berhidung macung dengan kulit bersemu putih itu. Bibirnya selalu tersungging senyum mewedar bait demi bait syair sastrawi sarat religi yang dia pelajari semasa nyantrik di lereng Lawu. Puluhan tahun silam.

Sekalipun begitu, ungkap Ki Mangil, selama kita menjalani kehidupan sebagai mayit di alam kematian ini kita tetap harus berbuat kebajikan. Tidak boleh adigung adiguno. Kudu pinter srawung dengan siapa saja.

“Kita kan tidak diajarkan oleh Bopo Guru untuk pilih kasih to Ki,” tambah Ki Mangil.

“Iya betul kata Ki Mangil. Akan tetapi hidup sejati adalah hidup yang tak tersentuh kematian,” sergah lelaki yang semasa mudanya banyak digandrungi kaum perempuan karena performanya yang mirip-mirip orang dari jazirah Arab itu.

Diurai pula, jika sesungguhnya badan, tulang belulang, daging dan organ tubuh lainnya hanya sekadar perangkap kehidupan. Untuk menanti giliran menuju ke alam kelanggengan yang sama sekali tak tersentuh sifat kematian itu sendiri.

“Hidup sesungguhnya adalah tanpa raga, karena adanya raga justru yang menimbulkan banyak penyesatan. Rentan terhadap godaan iblis dan syetan,” tegasnya.

Ki Sastro menghentikan bicara, ketika seorang cantrik padepokan mengetuk pintu ruang. Di tangannya terpampang nampan isi dua piring ketan hangat dan teko dari tembikar mengepulkan aroma kopi. Dua cangkir dari bahan sama menempel di sisi kanan dan kiri teko tersebut.

“Katakan pada Ki Kenong untuk memimpin anak-anak berlatih, jangan ada yang masuk ruang ini, tanpa saya perintah,” pesan Ki Sastro kepada cantriknya. Yang dimaksud Ki Kenong adalah santri ketua di Padepokan Ngayung. Jika Ki Sastro ke luar padeponan, Ki Kenong-lah yang menggantikan posisi memberi pelajaran olah kanuragan dan olah batin kepada ratusan santri atau cantriknya.

“Inggih Ki, nanti saya sampaikan kepada Ki Kenong,” kata sang cantrik seraya menutup pintu.

Mata Ki Mangil pun menerawang jauh. Pada masa lalu semasa berguru pada Ki Cokro Sentiko. Gulowentah tokoh yang disegani semasa hidupnya itu, begitu dalam melekat pada ceruk hatinya. Orang arif dan bijaksana itu, menjadi panutan para cantrik yang kini rata-rata sudah memiliki padepokan sendiri-sendiri. Menyebarkan ajaran tentang kasampurnan setealh meninggalkan kehidupan di alam duniawi. Alam yang mereka yakini sarat problema.

“Benar Ki, melalui raganya manusia bergelimang dosa. Penderitaan pun tak terelak, manakala kita tak sanggup memilah dan laku olah kebatinan dengan ihlas,” papar Ki Mangil.

Malam pun mulai resah meninggalkan kedigdayaannya. Suara ayam alas dan burung hutan sekitar padeponan Ngayung mulai bersahutan. Geliat pagi tak terelak, ketika seluet mentari mulai menerobos celah daun jendela ruang. Ruang tertutup yang biasa dipakai Ki Sastro oleh batin, bersemedi memanjatkan doa dan puji kepada Sang Khaliq.

Suara santri berlatih olah kanuragan mulai terdengar. Sayup-sayup para cantrik senior mulai merapal mantra dengan dipimpin Ki Kenong di salah satu bale-bale. Sementara Ki Sastro dan Ki mangil, masih terlibat diskusi panjang. (*)

0 komentar:

Posting Komentar